BNI dan Harapan 400 Kaum Difabel
- 16 Jun 2026 06:44 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi. Para penyandang disabilitas mulai berdatangan ke sebuah rumah produksi sederhana di Kelurahan Kamahedoga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Ada yang berjalan tertatih karena keterbatasan fisik, ada yang hidup tanpa kaki, dan ada pula yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Namun pagi itu, mereka larut dalam kesibukan yang sama.
Dari dalam ruangan terdengar suara anyaman noken, plastik kemasan yang diremas, serta aktivitas para pekerja yang sibuk mengemas sarang semut, menata botol minyak kayu putih, dan membungkus pati buah merah untuk dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.
Di tempat itu, keterbatasan bukan penghalang untuk bekerja dan berkarya.
Di tengah kesibukan tersebut, berdiri seorang mama Papua yang menjadi penggerak seluruh aktivitas itu, Yustina Kanem.
Namun perjalanan Yustina tidak selalu mudah.
Ia pernah menghadapi masa-masa sulit ketika dagangannya tidak laku terjual dan penghasilannya tidak menentu.
Bahkan, ia sering memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup keluarganya keesokan hari.
“Saya pernah menangis karena tidak tahu harus mencari uang dari mana lagi,” kenangnya.
Melawan Keadaan
Yustina dahulu mengandalkan penjualan noken dan hasil olahan hutan Papua untuk menghidupi keluarganya.
Penghasilannya tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi pasar.
Namun ia tidak menyerah.
Dengan keterampilan menganyam noken serta mengolah sarang semut, minyak kayu putih, dan buah merah, ia terus berusaha mempertahankan usahanya.
Perlahan, produknya mulai dikenal dan pesanan berdatangan, termasuk melalui pemasaran secara online melalui Tiktok Shop yang membantunya menjangkau pembeli di berbagai daerah.
Perkembangan usaha itu semakin terbantu dengan dukungan pemasaran melalui Koperasi Merah Putih yang hadir di Merauke pasca di resmikan Presiden Prabowo Subianto.
Kehadiran koperasi tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk UMKM lokal.
Di tengah perkembangan usahanya, Yustina melihat banyak penyandang disabilitas di Papua Selatan yang belum memiliki pekerjaan dan kesempatan untuk mandiri.
Dari situlah lahir tekad untuk mengajak mereka ikut bekerja dan berkembang bersama.
“Saya berpikir, kalau saya bisa bekerja dan bertahan, mereka juga pasti bisa,” katanya.

Langkah yang Bertumbuh
Yustina mulai membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas.
Awalnya hanya beberapa orang.
Lalu bertambah menjadi puluhan.
Kemudian ratusan.
Hingga akhirnya terbentuk UMKM Difabel Papua Selatan, yang kini melibatkan sekitar 400 penyandang disabilitas dari Merauke, Asmat, Mappi, hingga Boven Digoel.
Mereka bekerja memproduksi noken, sarang semut, minyak kayu putih, hingga pati buah merah.
Dari kerja bersama itu, usaha ini berkembang pesat dengan omzet mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta per hari, tergantung pesanan.
Bagi Yustina, omzet itu bukan sekadar keberhasilan ekonomi.
“Itu adalah penghidupan bagi ratusan keluarga yang selama ini sulit mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.
Bangkit Kembali
Di salah satu sudut ruang produksi, Yuliana Kanom tampak telaten merapikan hasil kerajinan.
Beberapa tahun lalu, hidupnya berubah akibat kecelakaan yang membuat kakinya tidak lagi berfungsi normal.
Sejak saat itu, Yuliana kehilangan pekerjaan dan penghasilan.
Hari-harinya dipenuhi rasa sedih dan putus asa.
“Saya sering menangis kalau melihat orang lain bekerja sementara saya hanya di rumah,” tuturnya.
Hingga akhirnya, ia bertemu jalan baru ketika diajak bergabung oleh Yustina ke UMKM Difabel Papua Selatan.
Awalnya ragu, namun perlahan ia belajar kembali.
Ia mulai membuat kerajinan dan membantu proses produksi.
Kini, ia kembali memiliki penghasilan dan bisa membantu keluarganya.
“Saya merasa hidup saya ada gunanya lagi,” katanya sambil menahan air mata.

Tetap Berdiri
Kisah lain datang dari Marten Yowid.
Sejak kecil, ia hidup tanpa kedua kaki.
Kondisi itu membuat ruang geraknya sangat terbatas dan sering dipandang tidak mampu hidup mandiri.
Keraguan orang lain sempat membuat Marten kehilangan kepercayaan diri.
Namun semua berubah ketika ia bergabung dengan UMKM Difabel Papua Selatan.
Di tempat itu, ia menemukan kesempatan untuk bekerja dan belajar.
Ia membantu proses pembuatan dan pengemasan produk bersama rekan-rekannya.
“Dulu saya merasa tidak berguna. Sekarang saya bisa membantu keluarga dan punya penghasilan sendiri,” katanya.
Bagi Marten, pekerjaan ini bukan hanya soal uang, tetapi tentang martabat dan kepercayaan diri.

Suara Harapan
Kisah menyentuh lainnya datang dari Ribka Henny.
Sejak kecil, ia tidak dapat mendengar dan tidak bisa berbicara.
Untuk berkomunikasi, ia menggunakan bahasa isyarat sederhana.
Kondisi itu membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan karena banyak orang meragukan kemampuannya.
Namun ia tidak menyerah.
Kesempatan datang ketika ia diterima di UMKM Difabel Papua Selatan.
Di sana, Ribka menemukan ruang untuk berkarya.
Ia terlibat dalam proses produksi noken, sarang semut, minyak kayu putih, hingga pati buah merah.
Meski tidak bisa mendengar instruksi secara langsung, ia memahami pekerjaan melalui contoh dan gerakan tangan rekan-rekannya.
Saat ditanya tentang pekerjaannya, Ribka hanya tersenyum.
Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan rekannya, ia berkata sederhana,
“Saya senang karena sekarang bisa membantu keluarga.”
Kalimat singkat itu menjadi bukti bahwa ia mampu berdiri sejajar dengan orang lain.

Dukungan yang Menguatkan
Kepala Kelurahan Kamahedoga Merauke Mohamad Akbar mengatakan keberadaan UMKM Difabel Papua Selatan memberikan dampak besar bagi masyarakat.
Banyak warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini dapat memperoleh penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga.
“Kami melihat sendiri bagaimana masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini bisa memperoleh penghasilan dan membantu keluarganya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemasaran produk UMKM Difabel Papua Selatan juga terbantu melalui Koperasi Merah Putih.
Kehadiran koperasi ini memperluas akses pasar bagi produk lokal, termasuk karya para penyandang disabilitas.
Melalui koperasi tersebut, hasil kerajinan kelompok UMKM difabel dapat terjual sekitar 10 hingga 20 buah setiap hari.
Menurutnya, Koperasi Merah Putih sejalan dengan Asta Cita Pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan ekonomi kerakyatan, pemberdayaan UMKM, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di tingkat kampung dan kelurahan.
Melalui koperasi, pelaku usaha kecil memiliki ruang lebih besar untuk berkembang dan meningkatkan pendapatan.
“Dengan dukungan ini, kami berharap semakin banyak warga, termasuk penyandang disabilitas, yang bisa mandiri secara ekonomi,” katanya.
KUR BNI Menjadi Titik Balik
Perjalanan UMKM ini tidak selalu mudah.
Meski permintaan meningkat, Yustina kerap kesulitan memenuhi pesanan karena keterbatasan modal.
Bahan baku harus dibeli tunai, sementara pembayaran dari pembeli sering tertunda.
“Saya sedih kalau ada pesanan datang tetapi saya tidak punya modal untuk membeli bahan baku,” kenangnya.
Perubahan mulai terjadi ketika ia mendapatkan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) BNI.
Tambahan modal itu digunakan untuk membeli bahan baku, memperbesar produksi, dan memperbaiki kemasan.
Dampaknya langsung terasa, produksi meningkat, pesanan terpenuhi, dan jumlah pekerja bertambah hingga sekitar 400 orang difabel.
“KUR BNI membantu kami berkembang.
Dari usaha kecil, sekarang kami bisa mempekerjakan ratusan orang difabel,” kata Yustina.
BNI dan Akses Para UMKM
Wakil Pemimpin Bidang Layanan Bank BNI Cabang Merauke, Sarce Samallo mengatakan BNI terus mendorong pertumbuhan UMKM, khususnya Orang Asli Papua, melalui dukungan permodalan dan pendampingan usaha.
Menurutnya, BNI tidak hanya membantu pelaku usaha memperoleh modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi juga mendukung pengembangan usaha agar mampu meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran.
“Produk-produk khas Papua memiliki peluang besar untuk berkembang jika didukung pembiayaan dan pemasaran yang baik,” ujarnya.
Hingga pertengahan tahun 2025, penyaluran KUR BNI telah mencapai Rp4,6 triliun kepada lebih dari 20.000 pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Penerima KUR berasal dari berbagai sektor usaha, seperti perdagangan, pertanian, perikanan, industri pengolahan, jasa, hingga usaha kerajinan dan produk olahan berbasis potensi daerah.
Melalui KUR, pelaku usaha memperoleh tambahan modal untuk mengembangkan usahanya, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat daya saing produk di pasar.
Di Papua Selatan, salah satu penerima manfaat KUR BNI adalah UMKM Difabel Papua Selatan milik Yustina Kanem.
Dukungan permodalan tersebut membantu meningkatkan produksi noken, sarang semut, minyak kayu putih, dan pati buah merah yang dikerjakan para penyandang disabilitas.
Dengan produksi yang terus meningkat, peluang pemasaran produk juga semakin terbuka.
Berbagai produk khas Papua yang dihasilkan UMKM Difabel Papua Selatan kini memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal masyarakat luas karena memiliki nilai budaya dan nilai ekonomi yang tinggi.

Prestasi BNI Mendunia
Selain fokus pada perkembangan UMKM, Bank BNI juga mencatat prestasi di tingkat internasional melalui pengakuan atas layanan dan inovasi keuangannya.
Pada tahun 2026, BNI meraih tujuh penghargaan dari ajang The Asset Triple A Treasury Awards dan The Asian Banker Awards.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, mengatakan penghargaan ini menjadi bukti konsistensi BNI dalam menghadirkan layanan dan solusi keuangan bagi nasabah serta mitra strategis.
Pada The Asset Triple A Treasury Awards 2026 di Hong Kong, BNI meraih tiga penghargaan, yaitu Best Service Providers kategori Transaction Bank di Indonesia, Best in Treasury and Working Capital kategori Public Sector di Indonesia, serta Best Payments & Collections Solution di Indonesia.
Sementara itu, pada The Asian Banker Awards 2026 di Malaysia, BNI meraih empat penghargaan, yaitu Best Cash Management Bank in Indonesia 2026, Best Payment Bank in Indonesia 2026, Best Digital KYC/Onboarding Initiative, dan Best Financing Supply Chain Management di Indonesia melalui kerja sama dengan Pertamina Patra Niaga.
“Penghargaan ini menunjukkan kualitas layanan BNI sekaligus kuatnya kolaborasi dengan mitra strategis dalam membangun ekosistem transaksi keuangan yang aman dan efisien,” ujar Okki.
Prestasi ini menjadi dorongan bagi BNI untuk terus meningkatkan layanan, termasuk dalam mendukung pertumbuhan UMKM di seluruh Indonesia.
Mengemas Harapan
Hingga sore menjelang malam, aktivitas di rumah produksi masih terus berlangsung.
Para penyandang disabilitas tetap sibuk mengemas produk untuk dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.
Di antara mereka terdapat penyandang disabilitas daksa, rungu wicara, netra, serta autisme.
Masing-masing tetap bekerja sesuai kemampuan mereka, meski dengan keterbatasan yang berbeda-beda.
Sesekali suara lakban yang ditarik dan direkatkan memecah keheningan ruangan, berpadu dengan bunyi kardus yang ditutup rapat serta arahan kecil antar pekerja.
Bagi mereka, setiap kemasan bukan sekadar barang, tetapi harapan yang dikirim jauh dari Papua.
Harapan untuk bertahan hidup, untuk tetap bekerja, dan untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghentikan langkah mereka.
Yustina memastikan setiap produk dibuat dengan baik agar kepercayaan pelanggan tetap terjaga.
“Kalau barang sampai dengan baik, pelanggan akan kembali membeli. Itu yang membuat usaha kami terus berjalan,” ujarnya.
Mengubah Nasib
Di balik kesederhanaan sebuah rumah produksi, tersimpan kisah perubahan hidup yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.
Melalui dukungan Bank BNI lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR), UMKM Difabel di Papua Selatan membuka ruang kerja sekaligus menghadirkan harapan baru bagi banyak orang.
“80 Tahun BNI, Bangkit, Bertumbuh, dan Berdampak bagi Indonesia.” menjadi semangat yang ikut menguatkan perjalanan ini.
Di tengah kesibukan para penyandang disabilitas, Yustina melantunkan lagu karya Yance Rumbino seraya mengucap syukur.
“Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi.”
Di tempat ini, ada yang kehilangan kaki, hidup tanpa kedua kaki sejak kecil, hingga yang tidak bisa mendengar maupun berbicara.
Meski memiliki keterbatasan, mereka tidak berhenti melangkah.
Mereka tetap bekerja, berkarya, dan saling menguatkan untuk kembali membangun harga diri yang pernah runtuh.
Dari ruang sederhana ini, dukungan Bank BNI menghadirkan kemandirian dan harapan baru bagi 400 penyandang disabilitas di ufuk timur Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....