Menyusuri Jejak Peradaban di Tembok Besar China, Simbol Ketangguhan Bangsa
- 29 Jun 2026 18:06 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Beijing - Menyusuri salah satu keajaiban dunia paling ikonik, Tembok Besar China, menjadi tujuan delegasi media dari Sumatera saat mengunjungi Beijing, Sabtu 27 Juni 2026. Membentang di antara pegunungan utara China, bangunan bersejarah ini berdiri kokoh sebagai simbol peradaban, ketahanan, dan mencerminkan ketangguhan bangsa China.
“Jika kita ingin benar-benar memahami China, maka melihat Tembok Besar adalah sesuatu yang wajib dilakukan,” ujar Kepala Kantor Urusan Luar Negeri Dewan Pengurus Tembok Besar, Zhao Yiqun.
Menurut Zhao, Tembok Besar dibangun bukan untuk ekspansi wilayah, melainkan sebagai upaya melindungi rakyat dan menjaga perdamaian. Bangunan megah ini menjadi salah satu benteng pertahanan terbesar di dunia.
“Banyak negara memiliki keinginan kuat untuk melindungi wilayahnya, dan Tembok Besar adalah wujud nyata dari semangat tersebut,” katanya.

Tembok Besar China memiliki panjang lebih dari 21.000 kilometer dan membentang melintasi wilayah utara China. Pembangunannya berlangsung dalam beberapa periode besar.
Dimulai pada masa Dinasti Qin di bawah pemerintahan Kaisar Qin Shihuang. Kemudian dilanjutkan pada Dinasti Han, dan terakhir serta paling terkenal adalah pada Dinasti Ming, sekitar abad ke-16 ketika Beijing menjadi ibu kota China.
Sebagian besar bagian Tembok Besar yang masih terlihat hingga kini merupakan peninggalan Dinasti Ming. Pada masa itu, teknologi konstruksi berkembang pesat dan para pekerja dikerahkan untuk membangun tembok dengan kualitas terbaik.
“Tembok dari Dinasti Ming memiliki kualitas terbaik. Inilah alasan mengapa setelah sekitar 600 tahun, bangunan ini masih berdiri kokoh dan dapat dinikmati hingga sekarang,” kata Zhao.

Selain menyimpan kisah kejayaan, pembangunan Tembok Besar juga menyimpan cerita kelam. Banyak rakyat dipaksa bekerja keras dan kehilangan nyawa dalam proyek raksasa ini.
Meski demikian, Kaisar Qin Shihuang tetap dikenang sebagai salah satu kaisar terbesar dalam sejarah China. Ia berhasil menyatukan berbagai wilayah, sekaligus melakukan standarisasi mata uang, tulisan, ukuran, serta membangun sistem pemerintahan yang masih dipakai hingga ribuan tahun kemudian.
Pada masa Dinasti Qin dan Han, sebagian besar tembok dibangun menggunakan tanah yang dipadatkan. Berbeda dengan era Dinasti Ming yang menghasilkan struktur lebih kuat dan tahan lama, karena menggunakan batu bata bakar dan batu besar yang diangkut secara manual ke puncak gunung.
Selama ribuan tahun, Tembok Besar berfungsi sebagai garis pertahanan dari ancaman serangan suku-suku di wilayah utara, termasuk bangsa Mongol. Namun, pada abad ke-13, pasukan Genghis Khan berhasil menembus tembok tersebut dan menguasai China untuk beberapa waktu.
Ketika Dinasti Ming berkuasa, pembangunan Tembok Besar kembali dilakukan dengan lebih kuat untuk mencegah bangsa Mongol kembali menyerang. Terutama di wilayah sekitar Beijing yang menjadi pusat pemerintahan.
Bagi para delegasi media Sumatera, perjalanan ke Tembok Besar bukan hanya menjadi kesempatan menikmati panorama pegunungan dan kemegahan arsitektur kuno, tetapi juga memahami lebih dekat perjalanan panjang sejarah dan budaya China.
“Pengalaman ini pasti akan sangat mengesankan dan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah serta budaya China,” ucap Zhao Yiqun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....