Masjid Dongsi Beijing, Jejak 800 Tahun Perjalanan Islam di Tiongkok
- 28 Jun 2026 04:54 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Beijing - Delegasi media Indonesia dari Sumatra berkesempatan mengunjungi Masjid Dongsi, dalam kunjungannya di Beijing, Tiongkok, Jumat 26 Juni 2026. Masjid yang berada di tengah kawasan padat Distrik Dongcheng ini, merupakan salah satu masjid tertua dan bersejarah di ibu kota Republik Rakyat Tiongkok.
Masjid Dongsi dibangun dengan arsitektur khas Tiongkok. Bentuknya lebih menyerupai kompleks istana kuno. Namun, di balik arsitektur tersebut, tersimpan sejarah perkembangan Islam di Tiongkok yang telah berlangsung selama hampir delapan abad.
Masjid Dongsi pertama kali dibangun pada 1346 pada masa Dinasti Yuan. Hingga kini, masjid tersebut tetap menjadi pusat ibadah sekaligus aktivitas keagamaan umat Islam di Beijing.
Imam Masjid Dongsi, Ali, atau dalam bahasa Tiongkok disebut ahung, mengajak para jurnalis melihat berbagai koleksi bersejarah yang tersimpan di kompleks masjid. Ia mengatakan Masjid Dongsi tingginya sekitar 15 meter dengan kapasitas sekitar 500 orang.
"Kami memiliki 528 batu ukir kaligrafi, perpustakaan dengan lebih dari 14 ribu buku, serta berbagai peralatan peninggalan Dinasti Yuan dan Dinasti Ming," ujarnya.
Salah satu koleksi paling berharga yang tersimpan adalah Al-Qur'an tulisan tangan yang dibuat pada 1318 pada masa Dinasti Yuan. Manuskrip tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 800 tahun.

Selain itu, Masjid Dongsi juga menyimpan Al-Qur'an tulisan tangan dari masa Dinasti Ming berusia sekitar 500 tahun, dengan hiasan emas di bagian sisinya. Koleksi lain berasal dari Dinasti Qing yang berusia sekitar 200 tahun dan dihiasi ornamen emas dengan ciri khas seni tradisional Tiongkok.
"Kaligrafi Muslim berusia sekitar 700 tahun juga masih tersimpan di sini," kata Ali.
Tidak hanya manuskrip Al-Qur'an, masjid juga menyimpan koleksi porselen kaligrafi dari Dinasti Qing serta berbagai artefak yang menggambarkan perjalanan komunitas Muslim di Beijing.
Masjid Dongsi memiliki luas sekitar 10 ribu meter persegi. Di dalam kompleks tersebut terdapat ruang salat, perpustakaan, ruang penyimpanan koleksi sejarah, serta halaman yang masih mempertahankan tata letak bangunan tradisional Tiongkok.
Selama ratusan tahun, Masjid Dongsi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Islam dan kehidupan sosial masyarakat Muslim di Beijing.
Imam lainnya, Yunus, menjelaskan komunitas Muslim di Beijing berasal dari berbagai suku dan etnis. Ia menyebut kehidupan beragama di Tiongkok berjalan dengan baik.
"Sebagai minoritas di Tiongkok, kami memiliki kebijakan kebebasan beragama. Penduduk bebas memeluk agama apa pun. Umat Islam juga bebas menjalankan ibadah," ujarnya.
Yunus juga mengatakan renovasi bangunan bersejarah Masjid Dongsi mendapat pendanaan dari pemerintah. Sementara pengelolaan operasional sehari-hari dilakukan oleh pihak yayasan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....