Dari Chongqing ke Beijing, Menyusuri Pusat Pemerintahan Tiongkok

  • 26 Jun 2026 12:35 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Beijing – Setelah menghabiskan empat hari di Chongqing, rombongan delegasi media dari Sumatra melanjutkan perjalanan menuju Beijing, ibu kota Republik Rakyat Tiongkok, Kamis 25 Juni 2026. Kota yang dihuni sekitar 21,8 juta jiwa ini menjadi destinasi berikutnya sebelum rombongan mengunjungi salah satu keajaiban dunia, Tembok Besar China.

Memasuki Beijing, suasana kota langsung menghadirkan kesan berbeda. Gedung-gedung pemerintahan yang megah berdiri berdampingan. Sebagai pusat pemerintahan sejak 1949, Beijing tidak hanya menjadi jantung politik Tiongkok, tetapi juga pintu utama bagi para tamu negara dan wisatawan mancanegara.

Pemandu wisata lokal, William, mengatakan Beijing menjadi saksi perjalanan panjang Tiongkok dari masa lalu hingga masa kini. Sejak masa kekaisaran, hingga Tiongkok menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Menurutnya, perubahan besar mulai terasa sejak kebijakan reformasi dan keterbukaan pada 1978. Dalam lebih dari empat dekade, Beijing berkembang menjadi salah satu gerbang internasional terpenting di Tiongkok.

“Setiap hari sekitar 500 ribu orang datang ke kota ini, baik untuk urusan bisnis, pemerintahan, maupun berwisata,” katanya.

Rombongan jurnalis dari Sumatra berfoto di kawasan Qianmen Street Beijing, Tiongkok, Kamis 25 Juni 2026 (Foto: RRI/ Besty Simatupang)

Ia menjelaskan, saat ini Beijing juga tengah memasuki musim puncak kunjungan wisata. Destinasi bersejarah, termasuk Tembok Besar China yang akan dikunjungi rombongan dalam dua hari mendatang, akan dipadati wisatawan dari berbagai negara. Meski demikian, William mengatakan sebagian besar pengunjung justru berasal dari berbagai provinsi di Tiongkok.

“Dalam dua puluh tahun terakhir, masyarakat Tiongkok mulai gemar bepergian,” ujarnya.

Selain Beijing, sejumlah kota seperti Shanghai, Hangzhou, dan Chongqing juga semakin populer di kalangan wisatawan asing. Namun Beijing tetap unik, karena suasana kotanya sangat berbeda dari kebanyakan kota di Tiongkok.

Sebagai pusat pemerintahan nasional, setiap hari berbagai delegasi dari banyak negara datang untuk melakukan kunjungan kenegaraan maupun pertemuan dengan instansi pemerintah. Dalam beberapa pekan terakhir, misalnya, kota ini menjadi lokasi kunjungan sejumlah kepala negara sehingga pengaturan lalu lintas menuju pusat pemerintahan dilakukan lebih ketat.

“Jika Anda tinggal di sini cukup lama, Anda akan terbiasa dengan suasana seperti itu. Dalam tiga atau empat minggu terakhir, misalnya, baik Presiden Vladimir Putin maupun Presiden Amerika Serikat pernah berkunjung ke sini, sehingga lalu lintas menuju pusat kota sempat diatur secara ketat,” ujar William.

Kawasan Qianmen, pusat Kota Beijing, Tiongkok, Kamis 25 Juni 2026 (Foto: RRI/ Besty Simatupang)

Selain menjadi pusat politik, Beijing juga menawarkan kekayaan sejarah yang masih terjaga. Di bagian utara kota terbentang pegunungan tempat berdirinya Tembok Besar China, salah satu warisan dunia.

Rombongan juga dijadwalkan mengunjungi Kota Terlarang (Forbidden City), salah satu istana kerajaan terindah dan teragung yang menjadi saksi perjalanan dinasti-dinasti Tiongkok selama berabad-abad. Destinasi tersebut menjadi gambaran bagaimana sejarah panjang berpadu dengan wajah modern Tiongkok.

William menilai, kemajuan ekonomi yang dicapai Tiongkok tidak lepas dari kebijakan pembangunan yang dijalankan sejak 1978. Fokus pada pembangunan ekonomi telah membawa kemajuan yang pesat bagi negeri tersebut.

Sekarang Tiongkok tidak hanya menjadi negara dengan PDB terbesar kedua di dunia, tetapi juga melahirkan banyak industri teknologi baru. Seperti kendaraan listrik (EV) dan kecerdasan buatan (AI) yang berkembang sangat cepat.

Perjalanan di Beijing pun bukan sekadar menikmati bangunan bersejarah. Kota ini menghadirkan kesempatan untuk melihat bagaimana warisan masa lalu, perkembangan teknologi, dan peran Tiongkok di panggung internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....