Dampak Bullying terhadap Psikologis Anak
- 10 Jul 2023 16:18 WIB
- Medan
KBRN,
Medan: Bullying atau perundungan adalah perilaku tidak terpuji yang
dapat melukai perasaan bahkan fisik orang lain. Bullying (perundungan - red) dapat dilakukan
sejak masih berusia anak-anak, kemudian berlanjut hingga remaja dan dewasa,
baik secara langsung atau daring seperti, media sosial. Lantas bagaimana dampak
psikologis pada anak, korban atau bahkan pelaku bullying tersebut?
Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli, mengatakan, dampak psikologis yang dirasakan anak korban bullying sangat besar. Ia juga meneliti masalah bullying ini yang ternyata memang ada pengaruh terhadap kesehatan mental, baik pada pelaku, pada korban, bahkan juga terhadap para penonton yang disebut bystander effect (efek pengamat - red).
“Jadi kalau kita lihat dari dampak terhadap korban, ini jelas sangat parah ya dan bisa berjangka panjang. Jadi, biasanya mereka akan mengalami depresi, kemudian gangguan kecemasan, ada trauma untuk jangka panjang yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap masalah kesehatan mental maupun kesehatan fisik mereka. Tapi jangan diabaikan bahwa pelaku pun itu juga punya masalah kesehatan mental yang harus diwaspadai. Jadi biasanya mungkin para pelaku mengalami gangguan kontak disorder, gangguan perilaku, di mana mereka cenderung menjadi berperilaku agresif dan cenderung melanggar aturan-aturan gitu. Jadi itu dampak bagi kesehatan mentalnya itu sangat buruk, baik terhadap pelaku maupun terhadap korban dan juga terhadap para penonton yang ada di sekitarnya gitu,” kata Irna Minauli.
Menurut Irna, perundungan verbal dan fisik memiliki dampak yang sama. Jadi harus melihat jenis-jenis bullying itu. Ada dari secara verbal misalnya menghina, mengejek.
Kadang anak-anak menganggap bahwa itu lucu-lucuan, padahal mungkin bagi yang lain ketika dikatakan misalnya, si gendut atau yang bentuk-bentuk body shaming lain mungkin dianggap lucu. Tapi berdampak untuk anak yang mengalami bullying verbal, dan kalau fisik lebih kelihatan dampaknya karena ada kekerasan, ada pemukulan, penamparan.
Kemudian yang sering diabaikan tapi berpengaruh dan biasanya terjadi pada kelompok anak perempuan yaitu, bullying dalam bentuk relasional atau sosial misalnya, anak-anak yang diisolasi, tidak ditemani, tidak dilibatkan dalam aktivitas kelompok atau ketika mereka makan-makan tidak dibagi makanannya, itu juga berpengaruh buruk.
“Bentuk keempat adalah cyber bullying. Jadi itu yang di melalui media sosial, internet, nah untungnya mungkin saat ini dalam penelitian saya itu, cyber bullying belum banyak terjadi di kalangan remaja SMP, SMA, karena mungkin masih dibatasi oleh orang tua, misal penggunaan handphone, penggunaan pulsanya, tapi dampaknya ke empat jenis ini sama parahnya. Jadi jangan beranggapan bahwa yang fisik aja yang berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang tapi juga ternyata masalah bullying verbal, bullying sosial atau relasional, dan cyber bullying itu bahayanya sama, karena bahkan bisa berdampak pada keinginan bunuh diri atau melukai diri sendiri,” ucapnya.
Ia mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan seorang anak memiliki kecenderungan melakukan perundungan kepada orang lain. Biasanya korban kemudian bisa menjadi pelaku, mungkin di sekolah-sekolah terutama yang ada sistem perpeloncoan, ada senior-junior, mungkin awalnya hanya korban, tapi ketika misalnya sudah naik tingkat, maka bisa menjadi pelaku terhadap adik-adik kelasnya yang lain. Oleh karena itu, sistem pendidikan di pesantren atau sekolah-sekolah boarding school lain yang berasrama perlu diawasi, karena banyak terjadi kemungkinan kasus-kasus bullying.
“Karena adanya masalah status perbedaan kelas misalnya, jadi kadang hanya karena sepele, merasa tidak dihargai, tidak ditegur atau tidak diajak senyum, misalnya oleh adik kelas itu sudah menjadi satu masalah besar. Jadi kalau misalnya kaya ada satu ke siklus gitu, jadi dari korban menjadi pelaku misalnya dan mungkin dari pelaku ini pun nanti suatu saat bisa jadi korban dari teman-temannya yang merasa di bully sama pelaku tersebut, yang kurang mendapatkan perhatian justru adalah para penonton para bystander. Jadi kan ketika ada bullying itu ada yang nonton-nonton, teman-temannya yang seharusnya para bystander para penonton ini bisa membantu mencegah terjadinya bullying. Tetapi yang terjadi seringkali mereka tuh membiarkan atau bahkan menyoraki, menyemangati, sehingga para pelaku bullying jadi tambah bersemangat untuk melakukan kekerasan. Jadi semua ketiga aspek tadi pelaku, korban, maupun bystander, penonton itu sebenarnya berpengaruh, terdampak dengan masalah-masalah kesehatan mentalnya,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....