Babussalam-Besilam, Kampung Para Faqih

  • 17 Apr 2026 14:34 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Nama Babussalam terdiri dari dua kata dalam bahasa arab باب dan سلام yang menjadi pola idhofah atau penggabungan dua kata menjadi satu kalimat yang difahami. باب السلام memiliki arti “Pintu Keselamatan”.

Nama ini dipilih karena mengandung makna dan harapan yang baik. Ada beberapa cerita tanpa sumber yang kuat mengenai alasan kampung ini dinamakan Babussalam. Namun yang pasti nama tersebut memiliki arti yang bagus, mengandung doa serta harapan dari pembangun dan pembuka kampung.

Kampung babussalam dibangun dan dibuka oleh Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi seorang ulama tasawuf kenamaan di Sumatera pada: 1.15 Syawal 1300 H (menurut catatan Syekh Bakri, hal.50). Informasi ini lebih kuat karena didukung catatan Syekh Muim bin Syekh Abdul Wahab (lihat Zikmal Fuad hal.46) . 2.12 Syawal 1300 H (menurut catatan Tgk. Hasyim cucu Sultan Musa Langkat, hal.27).

Semenjak kampung ini dibuka, sejak itu pula orang mengenalnya dan menyebutnya dengan Babussalam, tidak diketahui secara pasti kapan mulai bergeser menjadi Besilam. Namun Tengku Hasyim bin Tengku Umar bin Sultan Musa menyebutkan kalimat "Besilam" di judul buku sejarah Tuan Guru Syekh Abdul Wahab, "Toean Goeroe Besilam dan Keradjaan Langkat".

Buku tersebut ditulis dimasa Syekh Abdul Jabbar menjadi Tuan Guru ke-4, beliau menjadi Tuan Guru selama enam tahun dari September 1936 - Juli 1942 (Ahmad Fuad Said: 1998). Tidak dapat dipastikan namun ada Kemungkinan sudah disebut orang dengan Besilam saat Tuan Guru masih hidup yaitu pada momen Perayaan milad ke-40 tahun Babussalam tahun 1340 H - 1922 M.

Pada waktu itu ribuan orang mengunjungi Babussalam dan mengikuti acara tasyakuran besar tersebut, mereka datang dari berbagai daerah dengan menaiki kereta api yang berhenti di stasiun Kwala Besilam akhirnya penyebutan Babussalam bergeser jadi Besilam. Penting untuk diketahui bahwa kata 'Kwala Besilam' pernah disebut oleh Tuan Guru dalam catatan pribadinya saat memetakan batas wilayah tanah wakaf Babussalam (Ahmad Fuad Said juga menyebutkan dalam bukunya).

Menurut hemat saya ada baiknya mendahulukan penyebutan nama asli sebelum terjadi pergeseran nama yaitu Babussalam - Besilam bukan sebaliknya Besilam - Babussalam, wallahu a'lam *Syekh Abdul Wahab Seorang Faqih Lagi Shufi*.

Nama kedua Syekh Abdul Wahab adalah 'Faqih Muhammad' yang menunjukkan penguasaan beliau terhadap ilmu syariat, ilmu yang pernah dipelajarinya saat menapaki jalan syariat adalah: Tauhid, Fiqih, Ushul Fiqih, Ilmu Alat, Tafsir, Ilmu Bahasa Arab: Balaghah-Maani-Badi’, bahkan Ilmu Syair Arudh dan lainnya. Selain 44 Wasiat, beliau juga meninggalkan karya dalam bentuk syair yang dikenal dengan nama 'Syair Sindiran', konon syair ini beliau madahkan saat berada di Batu Pahat Malaysia hal ini diketahui dari kandungan syair tersebut.

Syekh Abdul Wahab Rokan bukanlah seorang ulama tasawuf yang hanya fokus pada sisi ketasaufan saja. Sebelum memasuki dunia tasawuf beliau mendalami ilmu syariat terlebih dahulu dalam waktu bertahun-tahun.

Pengembaraan ilmiah beliau dimulai saat berangkat ke Negeri Tambusai, saat itu belajar ilmu syariat kepada Syekh Tengku Abdullah Halim Tambusai dan Syekh Muhammad Shaleh Tambusai. Kemudian ke Sungai Ujung -antara Melaka dan Negeri Sembilan- di Malaysia mengaji kembali kepada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau.

Beliau masih belum puas hingga akhirnya berangkat ke Negeri Hijaz untuk berhaji dan menuntut ilmu kepada ulama di Mekkah al-Mukarramah. Mulai dari Mufti Mazhab Syafi'i Imam Sayid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah, Syekh Muhammad Yunus Batubara dan lainnya.

Sejak dari Tambusai sampai di Mekkah mendalami ilmu syariat bertahun-tahun, sampai pada satu titik beliau merasakan kegersangan rohani dan rasa dahaga yang tidak terpuaskan dengan majlis-majlis yang ada. Beliau mengadu kepada gurunya Syekh Muhammad Yunus sehingga dikenalkan kepada seorang Mursyid dan Arifbillah masyhur.

Saat itu Sayidi Syekh Sulaiman bin Hasan Zuhdi Al-Mikhalji pimpinan persulukan Khalidiyah Naqsyabandiyah di Jabal Abi Qubais Mekkah. Jadi dalam sejarahnya, Tuan Guru lebih dahulu fokus kepada ilmu syariat baru kemudian memasuki dunia tasawuf: ilmu hakikat, yang mengantarkan kepada makrifat dengan wasilah praktek tarekat. Syariat-Hakikat-Makrifat.

Syariat adalah sarana untuk menapaki Tarekat yang merupakan wasilah untuk mencapai Hakikat. Mendahulukan ilmu syariat agar mudah mengamalkan Tarekat. Dalam syair sindiran lampiran 1 beliau bermadah: Jikalau tuan memulai ilmu tarekat dibetul dahulu bicara i'tiqat Serta dikenal dalil hakikat Baharulah sempurna pula makrifat.

Diantara kitab-kitab yang pernah dipelajarinya saat di Tambusai adalah: Madkhal Nahwu, Ajurumiyah, Awamil Sharaf, Fathul Qarib, Minhajut Thalibin, Al-Iqna’, Tafsir Jalalain, Ilmu Al-Isytiqaq, begitu pula saat di Sungai Ujung Malaysia dan di Mekkah beliau mempelajari kitab-kitab ilmu syariat dan tasawuf.

Dengan demikian jelaslah bahwa Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan adalah seorang yang menjunjung tinggi ilmu syariat dan memprioritaskannya dalam pengembaraan ilmiah. Tidak hanya teori dalam tulisan tetapi lebih dari itu beliau sudah mempraktekkannya dalam kehidupan sehingga digelari dengan "Faqih Muhammad bin Abdul Manaf Tanah Putih".

Proses ini seharusnya menjadi acuan dan panduan bagi para salikin yang ingin memasuki dunia tarekat (tasawuf) untuk mempelajari ilmu syariat, minimal mengetahui ilmu fardhu 'ain berupa ilmu akidah sifat 20, fikih tharahah dan ibadah, mengenal 10 sifat terpuji dan 10 sifat tercela.

Kefaqihan beliau menjadi teladan bagi keluarga dan murid-muridnya sehingga mereka mengikuti jejak langkahnya. Tidak hanya itu keluarga beliau menjadi contoh nyata dalam mempraktekkan proses yang dilalui sehingga menjadi faqih nan sufi sejati. Di bagian ini akan saya tuliskan nama-nama orang yang bergelar faqih yang pernah datang atau menetap di Babussalam-Besilam, Langkat.

Maklumat sejarah ini saya kumpulkan dari buku sejarah tuan guru yang ditulis Syekh Ahmad Fuad Said dan saya meyakini jumlahnya lebih banyak dari yang tertulis.

Faqih H. Muhammad Saleh bin H. Muhammad Arsyad, Faqih Baharuddin Tambusai ,Faqih Badik atau Faqih Panjang Kubu, Faqih Kecil atau Faqih Zakaria bin Abdul wahab Rokan, Faqih Mahadi bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Tuah bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Tambah bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Naim bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Muim atau Syekh Muim bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Abdul Khaliq bin Abdul Jabbar bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Suhil bin Nashruddin bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Aban bin Harun bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Nukman bin Harun bin Abdul Wahab Rokan

Faqih Ahmad bin Harun bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Muhammad Panai Menantu Syekh Rokan, Faqih Guru Hasan Tambusai Menantu Syekh Rokan, Faqih Shufi bin Bakri bin Abdul Wahab Rokan, Faqih Muhammad Saleh Kubu Muridnya, Faqih Ibrahim Kota Pinang Muridnya, Faqih Kamaluddin Tambusai Muridnya.

Penulis: H Shufi Amri Tambusey Al Maghribi, Pengasuh PP Azzuhroh Besilam sekaligus Pendiri dan Pembina Zawiyah Nusantara Maroko periode 2021-2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....