ION dan Arsitektur Baru E-Commerce

  • 11 Feb 2026 10:03 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Kenaikan biaya platform e-commerce di Indonesia menjadi sorotan setelah diberitakan salah satu media nasional dalam laporan terbarunya. Situasi ini mengingatkan pada komitmen bilateral India–Indonesia dalam memperkuat Infrastruktur Publik Digital yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 atas undangan Perdana Menteri Narendra Modi, kedua pemimpin menegaskan percepatan kerja sama teknologi strategis. Infrastruktur Publik Digital atau DPI dipandang sebagai fondasi pertumbuhan inklusif sekaligus respons atas dinamika ekonomi digital global.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Indonesia Open Network (ION) disiapkan sebagai terobosan arsitektur perdagangan digital nasional. Inisiatif ini dirancang merevolusi tata kelola e-commerce melalui pendekatan jaringan terbuka yang interoperabel dan berbiaya rendah.

Secara global, arsitektur digital kini bergeser dari model platform tertutup menuju infrastruktur publik terbuka yang saling terhubung. India telah menunjukkan preseden melalui Aadhaar, UPI dan Open Network for Digital Commerce (ONDC).

Fase baru globalisasi digital bukan lagi tentang ekspansi perusahaan raksasa, melainkan pembangunan rel digital yang inklusif. Rel digital tersebut memungkinkan persaingan sehat, inovasi terbuka dan partisipasi pelaku usaha lintas skala secara adil.

ION menempatkan Indonesia di garis depan negara berkembang yang memilih keterbukaan dibandingkan konsentrasi kekuatan platform digital. Di tengah dominasi agregator besar dan tingginya komisi, jaringan terbuka menawarkan alternatif yang lebih berkeadilan.

Mayoritas platform global menggunakan arsitektur tertutup, baik berbasis gudang maupun marketplace dengan kontrol terpusat. Mereka memperoleh pendapatan melalui komisi tinggi, biaya berlangganan dan algoritma yang memprioritaskan margin keuntungan internal.

Sebaliknya, jaringan terbuka bukanlah satu platform tunggal, melainkan ekosistem berbagai aplikasi yang saling terhubung secara setara. Melalui protokol terbuka berbasis Beckn, pembeli dan penjual dapat bertransaksi lintas aplikasi secara interoperabel.

Model ini memungkinkan warung dan toko kecil mengakses basis pelanggan nasional tanpa hambatan biaya besar. Komisi dalam jaringan terbuka berkisar 2–4 persen, jauh di bawah tarif agregator besar yang mencapai 18–30 persen.

ONDC di India dibentuk sebagai inisiatif nirlaba yang didukung pemerintah untuk mendemokratisasi e-commerce nasional secara sistemik. Hingga akhir 2025, jaringan tersebut telah menjangkau 600 kota dan melibatkan hampir satu juta penjual aktif.

Terinspirasi pengalaman tersebut, ION dirancang memperluas penetrasi e-commerce Indonesia yang telah mencapai 31,9 persen penjualan ritel nasional. Nilai perdagangan digital Indonesia diproyeksikan menembus 194 miliar dolar Amerika Serikat pada 2030 dari tingkat pra-pandemi.

Dengan peluncuran ION, India dan Indonesia berpotensi menjadi arsitek bersama masa depan digital Global Selatan yang inklusif. Kolaborasi ini menegaskan kemitraan strategis dua demokrasi besar dalam membangun barang publik digital tanpa ketergantungan pada Big Tech.

(Penulis: Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty)

Rekomendasi Berita