Perunggu dan Kegelisahan yang Kita Putar Berulang
- 07 Jan 2026 16:19 WIB
- Medan
KBRN, Medan: Ada lagu yang cukup didengar sekali, lalu kita tinggal. Tapi ada juga lagu yang entah kenapa selalu kembali diputar di perjalanan pulang, menemani malam yang sunyi, atau mengisi jeda ketika hati sedang gundah. Lagu-lagu Perunggu sering berada di kategori yang kedua. Lirik nya yang terasa jujur dan sangat dekat dengan kehidupan kita, seolah-olah mewakili isi hati dan pikiran.
Perunggu bukan band yang muncul dengan sensasi besar. Band asal Jakarta ini tumbuh secara konsisten, dan terasa dekat. Beranggotakan Maul Ibrahim, Adam Adenan, dan Ildo Hasman, Perunggu mulai dikenal luas lewat lagu-lagu yang sederhana, jujur, dan emosional. Sejak album Memorandum dirilis, nama Perunggu semakin sering muncul di playlist banyak pendengar muda bukan karena gimmick, melainkan karena kualitas.
Popularitas Perunggu berkembang di ruang yang sangat akrab dengan keseharian anak muda hari ini: platform streaming dan media sosial. Lagu-lagunya hidup di Spotify, dibagikan di Instagram Story, atau sekadar kita dengarkan diam-diam lewat earphone. Data Spotify menunjukkan jangkauan Perunggu yang tidak kecil. Per Desember 2025, band ini mencatat 6.713.826 pendengar bulanan, dengan lagu ‘33x’ sebagai rilisan terpopuler yang telah diputar lebih dari 78.688.592 kali.
Lagu 33 x sendiri karap kali dimaknai oleh para pendengar sebagai relasi yang sangat personal antara manusia dan Tuhan, terutama di saat kehidupan terasa bergerak lamban dan seolah menemui jalan buntu. Perunggu mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dan memandang hidup dari sudut yang berbeda. Pesan itu terasa jelas lewat penggalan lirik, “Melamban bukanlah hal yang tabu, kadang itu yang kau butuh. Bersandar, hibahkan bebanmu.” Kemudian “Sebutlah nama-Nya, Tetap di jalan-Nya, kelak kau mengingat, kelak kau teringat” sebuah pengingat bahwa terkadang tidak apa jika kita merasa tertinggal dari orang lain, mungkin itu yang kita butuh untuk tumbuh dan mengingat kembali kehadiran Tuhan di setiap perjalan hidup kita.
Bagi banyak pendengar, khususnya Generasi Z, lagu-lagu Perunggu seperti potongan perasaan yang sulit diucapkan. Ketika kata-kata terasa terlalu rumit atau tak lagi bisa mewakili, musik menjadi jalan keluar. Memilih lagu tertentu, memutarnya di waktu tertentu, atau membagikannya secara singkat di media sosial sering kali menjadi cara paling sederhana untuk mengatakan bahwa hidup sedang terasa berat.
Di titik inilah konsep self-representation menjadi relevan. Nancy Thumim (2012) menjelaskan bahwa self-representation tidak selalu hadir melalui pernyataan langsung tentang diri, melainkan melalui cara individu menggunakan media untuk membangun dan mengomunikasikan identitasnya. Dalam keseharian digital, ekspresi diri tidak harus berbentuk tulisan panjang atau pengakuan terbuka. Sering kali, satu lagu sudah cukup untuk mewakili suasana hati.
Lagu-lagu Perunggu kemudian berfungsi sebagai medium self-representation bagi pendengarnya. Musik tidak lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi bahasa. Lagu dipakai sebagai simbol penanda perasaan, penanda fase hidup, bahkan penanda identitas emosional. Saat seseorang membagikan lagu Perunggu, yang ditampilkan bukan hanya selera musik, melainkan potret suasana batin yang sedang ia alami.
Menariknya, Perunggu tidak pernah secara terbuka mengklaim diri sebagai suara generasi tertentu. Tidak ada narasi besar tentang mewakili anak muda atau menjadi simbol zaman. Namun justru karena itulah lagu-lagunya terasa fleksibel dan mudah dipakai. Setiap pendengar bebas mengkekspresikan pengalaman mereka sendiri ke dalam lagu yang sama. Bagi sebagian orang, lagu itu tentang kehilangan. Bagi yang lain, tentang takut gagal. Ada pula yang merasakannya sebagai pengingat bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kedekatan emosional ini juga menciptakan rasa kebersamaan. Banyak pendengar merasa tidak sendirian ketika mendengarkan lagu-lagu Perunggu. Kegelisahan yang awalnya terasa personal berubah menjadi pengalaman yang terasa kolektif. Tanpa perlu saling mengenal, orang-orang merasa terhubung lewat lagu yang sama. Musik menjadi ruang berbagi yang tidak membutuhkan percakapan panjang.
Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks tuntutan produktivitas, ekspektasi sosial, dan bayangan kegagalan musik sering kali menjadi tempat bernaung sementara. Lagu-lagu Perunggu tidak mencoba menghibur dengan janji manis. Ia tidak menawarkan kepastian. Ia hanya hadir, tenang, dan membiarkan pendengarnya bernafas sejenak. Bagi banyak orang, itu sudah cukup.
Perunggu juga menunjukkan bahwa budaya populer tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang heboh. Kepopuleran bisa tumbuh dari kejujuran, dari konsistensi, dan dari kedekatan emosional. Lagu-lagunya tidak dibuat untuk satu momen viral, tetapi untuk menemani banyak momen kecil dalam hidup pendengarnya. Dari situlah keterikatan itu tumbuh.
Mungkin itulah sebabnya lagu-lagu Perunggu ada di playlist banyak orang. Bukan karena selalu ingin didengar, melainkan karena merasa terwakilkan. Ia menjadi cara untuk mengakui bahwa takut gagal, merasa kehilangan, dan gamang dalam menjalani kehidupan adalah hal yang wajar. Dalam kesederhanaannya, Perunggu seolah mengingatkan bahwa hidup tidak selalu tentang berada di urutan pertama. Tidak apa jika berada di urutan tiga, tidak selalu menjadi pemenang dalam hal apa pun. Yang lebih penting adalah tetap berjalan, tetap berusaha, dan terus melangkah meski arah belum sepenuhnya jelas. Pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap bertahan dan berani mengingat kembali alasan mengapa ia memulai.
(Penulis: Annisa Jasmine Rizkiani, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi-Universitas Bakrie)