India dan Klaim Keliru Soal Raja Tarif

  • 05 Sep 2025 17:52 WIB
  •  Medan

KBRN, Medan: Ada anggapan yang keliru bahwa tarif India selalu sangat tinggi, padahal persepsi ini sering muncul tanpa memahami fakta yang sebenarnya. Tarif adalah instrumen kebijakan yang dapat diukur secara objektif, sehingga tidak seharusnya ada ruang bagi subjektivitas.

Di negara berkembang berpendapatan rendah, tarif dipakai untuk dua alasan utama, yaitu melindungi industri domestik dan menghasilkan pendapatan. Perlindungan terhadap industri domestik sering dianggap penting, terutama jika negara tersebut masih membangun fondasi industrinya dari awal.

India memang pernah memiliki tarif tinggi pada era 1980-an, sebelum reformasi besar dilakukan pada 1991 yang mengubah banyak hal. Sejak saat itu, tren tarif India terus menurun secara bertahap, sejalan dengan keterlibatannya dalam negosiasi Putaran Uruguay WTO.

Dalam perdagangan internasional, dikenal dua jenis tarif, yaitu tarif yang diterapkan atau applied tariffs, serta tarif terikat atau bound tariffs. Tarif diterapkan adalah pungutan aktual di perbatasan, sedangkan tarif terikat merupakan batas maksimum yang diakui dalam komitmen WTO.

Negara berkembang memang cenderung memiliki tarif lebih tinggi dibandingkan negara maju berpendapatan tinggi, karena faktor perlindungan dan penerimaan. Inilah mengapa perbandingan langsung dengan G7 sering menyesatkan, karena konteks sosial dan ekonomi sangat berbeda.

Jika menggunakan tarif rata-rata sederhana, India tercatat 15,98 persen, tampak tinggi dibandingkan negara lain pada pandangan awal. Namun indikator yang lebih relevan adalah tarif berbobot perdagangan, yang hanya 4,6 persen, dan jauh lebih representatif.

Perbedaan kedua ukuran muncul karena tarif tinggi diterapkan pada sektor pertanian dan otomotif, demi alasan perlindungan domestik. Pertanian di India melibatkan hampir separuh populasi, bercirikan kepemilikan kecil, minim mekanisasi, dan rentan terhadap guncangan pasar.

Meminta India membuka sektor pertaniannya sama saja dengan meminta negara itu melakukan bunuh diri ekonomi dan politik. Apalagi petani di Barat menikmati subsidi besar, sehingga kompetisi menjadi tidak adil jika impor benar-benar dibiarkan bebas.

Tarif pertanian India rata-rata 33 persen, misalnya pada daging, susu, buah, dan sereal yang cukup vital. Bandingkan dengan Uni Eropa, Jepang, dan Korea yang memberlakukan tarif lebih tinggi, bahkan mencapai ratusan persen pada produk tertentu.

Dalam sektor otomotif, tarif India berfungsi menciptakan lapangan kerja massal dan melindungi industri yang sangat penting bagi ekonominya. Bahkan tarif rata-rata sederhana 15,98 persen masih sejalan dengan norma umum di berbagai negara berkembang lainnya.

Tuduhan Amerika Serikat bahwa ekspor non-pertanian mereka terhambat tarif di India juga tidak sepenuhnya tepat dalam kenyataan. Justru untuk produk teknologi, India sering mengenakan tarif setara atau bahkan lebih rendah dibandingkan negara Asia lain.

Dengan semua fakta tersebut, jelas India bukanlah raja tarif sebagaimana sering dituduhkan pihak luar tanpa analisis seimbang. Perlindungan pada sektor tertentu dapat dipahami, sedangkan tarif berbobot perdagangan India relatif moderat dan sangat wajar.

(Penulis: Dr. Mohan Kumar adalah mantan duta besar India dan direktur jenderal dari Jadeja Motwani Institute for American Studies yang baru dibentuk di OP Jindal Global University. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pandangan pribadi penulis yang telah disesuaikan dengan gaya bahasa berita online RRI.)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....