Artificial Intelligence di Ranah Pendidikan
- 25 Agt 2025 12:10 WIB
- Medan
KBRN, Medan: Perang teknologi dalam berbagai sektor sekarang sudah mulai nampak terasa dalam kehidupan bagi manusia sehari-hari. Banyak kemudahan yang diberikan dari perangkat ataupun software dalam bentuk artificial intelligence.
Sebagai contoh untuk ranah pendidikan sehingga para akademisi, guru, mahasiswa, murid dan bahkan para teknisi untuk menelusuri suatu studi kasus tinggal memanggil artificial intelligence dalam membantu apa yang diinginkan oleh user. Banyak keunggulan dan kelemahan yang terjadi jika seseorang akan menggunakan artificial intelligence.
Sebelum kita menemukan keunggulan dan kelemahan maka, kita harus mendefinisikan dahulu apa itu artificial intelligence. Menurut Muhammad Anshar Akil (2024) dalam artikelnya kelebihan kekurangan artificial intelligence memberikan definisi bahwa artificial intelligence atau dapat disebut dengan kecerdasan buatan adalah cabang dari ilmu komputer yang memiliki fokus pada pengembangan sistem dan program yang dapat melakukan tugas atau kegiatan yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia.
Sedangkan Riskey Oktavian, Riantina Fitra Aldya dan Rio Febrianto Arifendi (2023:147) dalam artikelnya yang berjudul Artificial Intelligence Dan Pendidikan Era Society 5.0 menyimpulkan bahwa Artificial Intelligence memiliki keunggulan karena dapat secara cepat (bahkan hitungan detik) dalam pembuatan dan penilaian konten (isi), mengotomatiskan tugas-tugas atau kerja-kerja seperti penilaian dan juga umpan balik namun sebaliknya dalam Artificial Intelligence memiliki kelemahan karena beresiko dalam penanganan malasah privasi (pribadi), bias algoritmik dan juga kontrol transparansi.
Sekarang negara maju dalam pendidikan mulai mempertimbangkan dan juga memikirkan tentang efek kecerdasan buatan ini karena ada beberapa faktor yang mulai hilang dari dunia pendidikan yaitu dalam bentuk buku cetak. Jika diambil suatu pilihan dalam sikap yang lebih bijak maka, seorang yang lazim mempergunakan buku, majalah, artikel sebagai referensi akan lebih memilih buku, majalah dan artikel tersebut daripada kecerdasan buatan manusia.
Kecerdasan tersebut dibuat oleh manusia maka, manusia harus lebih pintar dari kecerdasan buatan tersebut. Bagaimana dengan negara yang sedang berkembang dalam kehadiran Artificial Intelligence ini? Ada suatu pertanyaan yang harus dijawab bahwa jawaban tersebut harus objektif, ilmiah, dan dapat dipertanggung jawabkan.
Kita akan mengambil contoh satu negara yang sedang berkembang menuju modern yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam situs informasinya dinas komunikasi informatika dan statistik Cirebon (2025) memberikan penjelasan rinci. Pertama sekali berbicara tentang etika dan pertanggung jawaban yang menjadi sorotan utama, regulasi yang perlu diperkuat, tantangan nyata dalam pengembangan Artificial Intelligence di Indonesia dan terakhir hak azasi manusia harus tetap menjadi prioritas.
Dari paparan di atas tentang perang teknologi dalam kecerdasan manusia yang dibuat manusia maka, untuk sementara ini kita harus selektif dalam mempergunakan kecerdasan manusia tersebut dan tidak selamanya kecerdasan tersebut dapat membantu kita. Dalam petemuan ilmiah Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (2025) Stella Christie dalam acara World Digital Education Conference 2025 memberikan sambutan dan pengalaman pribadi bahwa peluang Indonesia dan tiongkok dalam piala dunia ditinjau dari aplikasi Artificial Intelligence untuk membangun model prediktif.
Selanjutnya ada hal yang sangat menarik dalam pesannya Stella Christie mengenai penegasan dalam perlunya pendidikan yang menekankan proses dalam berpikir, bukan hanya hasil yang diperoleh. Seperti halnya dalam pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, bukan hanya sekedar tentang “apa” dan “siapa”. Jika proses yang dilakukan melalui pemikiran (mindset) manusia dalam merubah pola pikir maka, adablah yang akan membentuk karakter manusia dalam memperoleh ilmu dan pengetahuan selanjutnya.
Pengejawantahan adab dan etika yang dibentuk dalam dunia pendidikan formal dan juga informal dalam bentuk suatu kebutuhan manusia kedepannya akan lebih mendapatkan nilai-nilai peradaban yang tinggi dalam membangun dan menikmati sesama manusia.
Perubahan, perkembangan dan kemajuan teknologi sampai sekarang ini masih memberikan harapan bagi manusia dan yang menjadi persoalannya “jika suatu saat nanti teknologi ini mengalami kegagalan dalam kebutuhan manusia” akankah manusia akan berpegang teguh pada kecerdasan manusia. Jawabannya ada pada diri manusia bukan pada kecerdasan buatan yang disebut dengan Artificial Intelligence.
Penulis: Dr. Sabriandi Erdian, S.S., M.Hum. (Dosen Program Studi D3 Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....