KPAI Apresiasi Kolaborasi Kementerian Majukan Perlindungan Anak Indonesia

  • 06 Feb 2025 14:10 WIB
  •  Medan

KBRN, Medan: Sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih menghadiri undangan launching program Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini ( KICAU). Kegiatan yang di selenggarakan Kemendikdasmen RI, berlangsung saat area Car Free Day di depan Gedung Kemendikdasmen, Minggu (2/2/2025) lalu.

Mereka adalah Mendikdasmen Abdul Mu'ti, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Komdigi Meutya Hafid. Serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi. Dengan 4 komitmen memajukan penyelenggaraan perlindungan anak Indonesia.

Meutya Hafid berkomitmen segera bersama sejumlah kementerian dan lembaga akan segera menuntaskan kebijakan perlindungan anak di ranah digital. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyampaikan upaya koordinasi program program yang ramah anak terutama mengurangi peran gadget yang berdampak serius dalam penyelenggaraan pemenuhan hak anak secara keseluruhan.

Menteri Kesehatan akan segera melakukan Skrining Jiwa di program kesehatan gratis untuk anak-anak Indonesia dan Skrining melaluiTherapy Wicara akibat banyak anak telat bicara karena lebih banyak menghabiskan waktunya di gadget, sehingga lupa bersosialisasi.

Kementerian Pendidikan, Dasar dan Menengah akan memulai pendidikan coding dan AI yang akan di masukkan dalam kurikulum pendidikan sekolah di tahun ajaran 2025. Agar anak anak tidak hanya menggunakan tetapi menguasai teknologi untuk hal hal yang lebih bermanfaat.

Sejumlah tokoh anak, tenaga profesional dan lembaga akan dilibatkan dalam program ini, seperti Najela Sihab, Kak Seto, Save The Children dan lembaga psikolog.

Jasra Putra dari KPAI sangat mengapresiasi percepatan Kabinet Merah Putih dalam merespon tantangan besar dunia pendidikan di ranah digital. Karena korbannya terus berjatuhan, ini fenomena yang terjadi di seluruh dunia. Anak-anak yang tidak siap menghadapi kejahatan didunia digital dalam segala bentuk, ajakan dunia digital dalam segala bentuk yang berdampak buruk yang menganggu tumbuh kembang fisik dan psiko motorik.

Menyebabkan mereka banyak mengalami hambatan menyalurkan potensinya secara layak, sehingga sangat dikhawatirkan tidak bisa mandiri di masa depan. Artinya banyak anak anak kita yang terancam dimasa depan, menghadapi tumbuh kembang yang sangat tidak layak.

Saya kira ini bukti kerja cepat Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan memecah segala kebuntuan koordinasi, dengan kolaborasi bahkan mempercepat kinerja dengan melibatkan jejaring dan kemitraan dengan berbagai organisasi, tokoh yang telah pengalaman dalam penanganannya. Saya kira ini langkah yang sangat ditunggu kita semua, setiap orang tua, setiap anak yang membutuhkan akses layanan kesehatan jiwa.

Dunia pendidikan kita sebenarnya sedang menghadapi situasi yang tidak biasa, terutama dalam mengenal jiwa anak. Karena ini jadi hambatan terbesar anak dalam mendapatkan pendidikan di saat ini.

Dunia sedang menghadapi fenomena invisible disabilitas, dengan banyaknya fenomena anak mengalami gangguan perilaku yang tersembunyi, sehingga terjadi ganguan emosi, telat bicara, slowrener, dan lain lain.

Gizi Fisik berkembang sangat pesat, tetapi dampaknya menggerogoti jiwa anak anak kita. Dimana gizi jiwa terus tidak terpenuhi dan merosot jauh. Akibatnya modal kesehatan anak sangat rapuh. Sehingga program dari 4 Kementerian yang bekerjasama dengan masyarakat tersebut berharap bertindak segera dan cepat untuk menangani.

Karena selama ini, anak terlanjur terpapar bahwa isu atau soal kesehatan jiwa di identik kan dengan orang gila, sehingga ada cara pandang yang salah. Soal memahami permasalahan jiwa. Di panggil guru BK adalah sebuah kutukan. Sehingga prasyarat mengenal jiwa adalah sesuatu yang indah jadi hilang. Diksi dan narasi yang menuju kesehatan jiwa, sudah terlanjur di narasi kan negatif dalam berbagai problematika hidup anak,. Ini yang harus di perbaiki.

Jadi prasyarat sebelum mengenal kenapa gangguan jiwa tidak populer di perkenalkan. Lebih mengajarkan lebih awal dengan trauma jiwa dengan menstigma manusia dengan sebutan sebutan tadi ketika menghadapi masalah jiwa.

Sehingga anak anak justru akibat itu menjauhi layanan kejiwaan. Tidak mengenal layanan kejiwaan, tidak terbiasa. Akibat takut terstigma dan mendapatkan tekanan ketika mengakses layanan.

Sehingga yang seharusnya jiwa itu sesuatu yang sangat indah dari dalam dirinya, yang harusnya di jaga dengan mengakses layanan yang benar dan tepat. Justru tidak terjadi. Malah menjadi self harm, anxiety, ganguan emosional, gangguan tidak terkoneksi dengan diri sendiri.

Sekali lagi jiwa itu sangat indah. Tapi terlanjur sejak dini ditanamkan dengan pemahaman yang salah, sehingga menjaga kesehatan jiwa bukan menjadi kebutuhan penting. Ketika terjadi permasalahan, tidak mau mendekat pada layanan yang tepat, justru direbut Industri Candu yang menyebabkan anak anak seperti sekarang.

Yang berarti tanpa sadar kita membayang bayangi anak untuk trauma, takut mengenal jiwanya sendiri. Sehingga ketika terserang jiwa, larinya tidak menuju sehat jiwa, akibat stigma sedari kecil pada layanan layanan kejiwaan dengan identik gila atau hidup sudah selesai. Padahal bukan itu.

Penulis: Jasra Putra merupakan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....