Era Baru Sepak Bola tanpa Messi Ronaldo

  • 06 Jun 2026 03:10 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Atmosfer sepak bola dunia dinilai mengalami pergeseran magis pasca-berakhirnya hegemoni rivalitas megabintang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Hal tersebut diungkapkan oleh atlet sepak bola, Inal Syahputra, saat menjadi narasumber dalam program siaran Sore Ceria "NGOPI: Ngobrolin Piala Dunia" di Studio PRO 2 RRI Medan, Jumat (5/6/2026).

Menurut Inal, hilangnya dualisme Messi-Ronaldo cukup memengaruhi cara penikmat sepak bola dalam memandang sebuah turnamen besar, termasuk menjelang Piala Dunia 2026.

"Sangat mempengaruhi atmosfer di dunia sepak bola. Dulu biasa kalau ada turnamen, yang dibandingkan itu Ronaldo atau Messi yang menang. Tapi sekarang agak kurang magisnya, sekarang kayak (fokus ke) negara mana gitu yang menang," ujar Inal.

Dominasi belasan tahun yang ditinggalkan kedua pemain tersebut kini menjadi standar penilaian yang sangat tinggi bagi generasi muda, bahkan memengaruhi objektivitas penghargaan individu seperti Ballon d'Or. Inal mencontohkan nama Khvicha Kvaratskhelia yang masuk bursa tahun ini, namun dirasa kurang klop karena publik sudah terbiasa terdoktrin oleh statistik di luar nalar milik Messi dan Ronaldo.

Kendati menjadi beban berat, standar tersebut dinilai bisa bertransformasi menjadi motivasi. Inal menyoroti statement bintang muda Lamine Yamal yang enggan dibanding-bandingkan, melainkan termotivasi untuk bisa bersanding sejajar dengan nama besar dua legenda tersebut.

Saat ditanya mengenai suksesor terkuat yang akan menjadi wajah baru sepak bola global, Inal secara konsisten menjagokan dua nama penyerang muda.

"Kalau untuk nama-nama besar sekarang ini menurut saya yang akan menjadi ikon atau wajah sepak bola itu ada Kylian Mbappé dan Erling Haaland. Itu sudah saya prediksi dari 4-5 tahun lalu karena nampak dari entertain dan konsistensi permainan mereka," ungkapnya.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa aspek konsistensi permainan dan faktor attitude (sikap) di dalam maupun luar lapangan adalah kunci utama menjadi ikon dunia. Inal turut mencontohkan Vinícius Junior yang penampilannya luar biasa, namun dinilai perlu mengurangi drama serta provokasi di lapangan agar bisa sepenuhnya diterima sebagai ikon global yang dicintai publik.

Beralih ke sisi teknis, Inal memprediksi jalannya pertandingan di Piala Dunia 2026 mendatang tidak akan lagi mengandalkan kehebatan individu tunggal. Pola permainan kolektif diproyeksikan menjadi senjata utama setiap negara kontestan.

"Dengan hilangnya ikon-ikon sepak bola seperti Messi dan Ronaldo, saya rasa enggak ada lagi yang bisa menggendong tim satu orang sendiri. Pasti semuanya akan bermain kolektif sebagai tim," jelasnya. Ia menambahkan bahwa tren ini sebenarnya sudah mulai terlihat di edisi 2022 lalu, saat seluruh skuad Argentina bermain kompak bergotong-royong demi membantu Messi meraih juara.

Menutup obrolan, atlet yang akrab disapa Bung Inal ini memberikan refleksi serta wejangan penting bagi talenta-talenta muda lokal, khususnya di Kota Medan yang sedang merintis karier di dunia sepak bola profesional. Di tengah arus modernisasi, ia mengingatkan agar para pemain muda fokus pada proses dan menjaga diri dari lingkungan yang negatif.

"Fokus aja berproses latihan. Jangan putus asa, jangan sikit-sikit udah gagal langsung nggak mau mencoba lagi. Terus jaga pergaulan, karena anak zaman sekarang rentan banget kariernya tuh hancur karena pergaulan yang makin ekstrim. Jadi poin utamanya tuh, nikmatilah proses," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....