Pewarta Foto Rekam Bencana di Tengah Maraknya Hoaks

  • 20 Agt 2026 11:41 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Pewarta foto memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan rekaman visual faktual di tengah derasnya informasi dan maraknya hoaks di media sosial. Peran tersebut menjadi salah satu pesan dalam pameran foto “Prahara Pulau Emas” yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) bersama Yayasan mataWaktu dan PLN di Atrium Plaza Medan Fair, Rabu, 19 Agustus 2026.

Koordinator PFI Wilayah Sumatera, Hendra Syamhari mengatakan pewarta foto kerap menghadapi risiko besar ketika menjalankan tugas di lokasi bencana. Mereka harus meninggalkan keluarga dan menembus wilayah terdampak, untuk mengabadikan kondisi sebenarnya yang perlu diketahui masyarakat.

Hendra menceritakan pengalaman sejumlah pewarta foto saat meliput bencana di Aceh Tamiang pada akhir 2025. Salah seorang pewarta bahkan harus berjalan sekitar sembilan jam menembus kawasan banjir untuk mencapai lokasi dan menghasilkan dokumentasi visual.

“Yang dia pikirkan cuma satu, memori kameraku ada, baterai kameraku ada, aku berangkat. Dia tidak pernah memikirkan musibah apa yang bakal terjadi pada saat meliput,” katanya.

Hendra menegaskan pewarta foto akan terus mengabadikan berbagai peristiwa penting dengan mengikuti fakta dan kondisi yang ditemui di lapangan. Ia juga berharap berbagai pihak dapat bersinergi dan memberikan kemudahan kepada jurnalis saat menjalankan tugas, terutama ketika meliput di kawasan bencana.

Ketua Panitia Pameran Foto, Irsan Mulyadi mengatakan tanggung jawab sosial tersebut menjadi salah satu alasan pameran “Prahara Pulau Emas” diselenggarakan. Terlebih, menurutnya, saat bencana terjadi banyak visual yang beredar di media sosial dan tidak dapat dipastikan kebenarannya.

“Kawan-kawan pewarta foto bilang, kita punya tanggung jawab sosial akan ini. Kita ingin mengingatkan kepada masyarakat bahwa kita hidup di daerah bencana dan kapan saja bencana itu bisa terjadi,” ujarnya.

Menurut Irsan, sebanyak 140 karya dari 45 fotografer dalam pameran tersebut menunjukkan berbagai sisi peristiwa bencana di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Selain mendokumentasikan kondisi lapangan, karya-karya itu diharapkan dapat membangun empati, kesadaran mitigasi, dan harapan untuk bangkit setelah bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....