Inflasi Tahunan Sumut Mei 2026 Capai 4,35 persen
- 04 Jun 2026 14:25 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat inflasi bulanan (month-to-month) Provinsi Sumatera Utara pada Mei 2026 sebesar 0,89 persen. Sementara secara tahunan (year-on-year), inflasi mencapai 4,35 persen. Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi pada periode Mei 2026.
"Kelompok pengeluaran pada makanan, minuman, dan tembakau itu terjadi inflasi sebesar 1,87 persen dengan andil 0,67 persen," ucap Asim, saat rilis berita resmi statistik, Selasa, 2 Juni 2026.
Ia menjelaskan, inflasi yang cukup tinggi juga terjadi pada informasi, komunikasi, dan jasa lainnya sebesar 1,74 persen, diikuti oleh inflasi pada penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,79 persen, kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan, dan pemelihatan rutin rumah tangga sebesar 0,72 persen dan pakaian dan alas kaki sebesar 0,52 persen. Kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar mineral terjadi inflasi sebesar 0,20 persen.
Asim mengatakan secara bulanan, komoditas tomat menjadi penyumbang utama inflasi pada Mei 2026 dengan andil 0,34 persen. Diikuti cabai merah, bawang merah, cabai rawit, serta laptop atau notebook.
"Secara month to month komoditas tomat menjadi penyumbang andil inflasi sebesar 0,34 persen. Diikuti oleh cabai merah yang menyumbang inflasi 0,31 persen dan bawang merah sebesar 0,09 persen, cabai rawit sebesar 0,08 persen dan laptop atau notebook sebesar 0,04 persen," ujarnya.
Secara tahunan, pada bulan Mei 2026 inflasi tertinggi masih disumbang oleh komoditas emas perhiasan dengan andil 0,57 persen. Kemudian kenaikan harga tomat menyumbang andil inflasi 0,29 persen secara year on year, dan beras menyumbang andil inflasi 0,24 persen, cabai merah menyumbang andil inflasi 0,18 persen dan ikan dencis 0,16 persen.
Berdasarkan delapan kabupaten/kota pantauan inflasi di Sumatera Utara, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 5,35 persen. Sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 3,98 persen.
Selain Gunung Sitoli, inflasi tinggi juga terjadi di Sibolga sebesar 5,30 persen, dan Pematang Siantar sebesar 5,14 persen. Sementara kota lain inflasinya tercatat di Labuan Batu sebesar 4,84 persen, Medan sebesar 4,39 persen, Padang Sidimpuan sebesar 4,01 persen, dan Kabupaten Karo dengan inflasi terendah yaitu 3,98 persen.
Asim menjelaskan kenaikan harga tomat dan cabai merah menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi di berbagai daerah. Dinamika kenaikan harga pada tomat, secara month to month di Labuhanbatu inflasinya tercatat 60,76 persen. Kabupaten Karo sebagai daerah sentra produksi tomat, terjadi inflasi sebesar 82,06 persen, Deli Serdang sebesar 63,24 persen, Sibolga sebesar 59,89 persen, dan Pematang Siantar sebesar 65,08 persen.
"Untuk Medan itu sebesar 64,68 persen, Sidimpuan sebesar 59,56 persen, dan Gunung Sitoli sebesar 42,65 persen," ucap Asim.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....