Tantangan Prestasi Sepak Bola Usia Dini di Sumut
- 24 Jan 2026 13:24 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Sepak bola usia dini di Sumatera Utara menghadapi tantangan besar dalam membangun generasi emas yang mampu bersaing ditingkat Nasional dan Internasional. Meskipun memiliki potensi besar, namun kurangnya fasilitas, pelatih, dan program pembinaan yang memadai membuat prestasi sepak bola usia dini di Sumatera Utara masih jauh dari harapan. Hal ini dikatakan Sekretaris SSB Mandiri, Zul Iskandar dalam acara Dialog Aspirasi Sumut di Programa 1 FM 94.3 Mhz Jumat, ( 23/1/2026 ) pagi.
Dijelaskan Bang Zul menangapi tentang antusiasme dan pengaruh diera digital bahwa minat anak-anak usia 8-16 tahun di Medan dan Sumut masih cukup tinggi, bahkan setelah pandemi, jumlah pendaftar di SSB Mandiri meningkat, salah satunya berkat pengaruh media sosial.
" Tantangan gadget ini merupakan salah satu kendala utama diera sekarang adalah ketergantungan pada gadget. Hal ini membuat anak cenderung individualistis, padahal sepak bola membutuhkan komunikasi dan kerja tim, " ujar Bang Zul.
Seputar tantangan finansial dan fasilitas
Bang Zul mengungkapkan bahwa sebagian besar SSB masih bersifat swadaya dari orang tua. Dukungan dari pihak luar atau sponsor masih sangat minim. Tantangan prestasi mencakup banyak aspek SDM (pelatih, pengurus), fasilitas lapangan, asupan gizi, hingga biaya operasional yang semuanya membutuhkan dukungan finansial.
Menurut Bang Zul tentang kurikulum dan fase pertumbuhan anak, ada empat fase penting dalam pembinaan sepak bola usia dini agar tidak salah didik, diantaranya saat usia 6-9 tahun adalah fase kegembiraan (bermain dengan senang), usia 10-12 tahun adalah fase pengembangan skill, usia 14-17 tahun adalah fase pengembangan permainan, sedangkan usia 17 tahun keatas adalah fase penampilan/prestasi. Bang Zul juga mengingatkan agar orang tua tidak memaksa anak usia dibawah 10 tahun untuk selalu menjadi pemenang karena mereka masih berada difase kegembiraan.
" Berbicara masalah kompetisi dan dukungan pemerintah, meskipun banyak kompetisi tingkat dasar (seperti Liga Top Skor, Liga Edukasi, dll.), ada masalah "terputusnya" jalur prestasi setelah usia 17 tahun karena kurangnya klub yang menampung, " ungkap Bang Zul.
Mengenai dukungan pemerintah, Bang Zul menyayangkan aturan yang melarang penggunaan APBD untuk sepak bola profesional. Ia berharap pemerintah setidaknya bisa memfasilitasi hubungan antara penyelenggara olahraga dengan pihak sponsor, biaya SSB dan keadilan bermain.
Menjawab pertanyaan warga tentang "pilih kasih" pemain, Bang Zul menegaskan bahwa di SSB Mandiri berusaha memberikan jam terbang kepada semua anak, tidak hanya fokus pada juara semata.
Di SSB Mandiri, biaya registrasi awal sekitar Rp600.000 (termasuk seragam dan iuran bulan pertama) dan iuran bulanan selanjutnya sebesar Rp150.000.
" Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berencana membangun fasilitas olahraga yang lebih baik. Asosi Sepak Bola Sumatera Utara (ASBSU) meningkatkan kualitas pelatih dan program pembinaan
Sekolah-sekolah sepak bola mulai bermunculan untuk mendukung pengembangan sepak bola usia dini.
Diharapkan bisa membangun generasi emas sepak bola Sumatera Utara memerlukan kerja sama semua pihak, " ujar Bang Zul.
Lebih lanjut Bang Zul menjelaskan dengan upaya bersama, kita dapat menciptakan atlet-atlet muda yang berbakat dan berprestasi. Dengan tantangan yang dihadapi dan upaya yang dilakukan, harapan besar masih terbuka bagi sepak bola usia dini Sumatera Utara untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi di masa depan.
Diakhir dialog bang Zul berharap ada sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, PSSI, dan klub-klub lokal di Sumatera Utara agar pembinaan tetap berkelanjutan dan generasi sepak bola tidak terputus, untuk tantangan yang sering dihadapi kurangnya fasilitas olahraga yang memadai dan kekurangan pelatih yang berkualitas, juga
kurangnya program pembinaan yang terstruktur, serta kesadaran orang tua yang masih rendah tentang pentingnya sepak bola usia dini. ( Red : Asyifah )
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....