WALHI Nilai Banjir Aceh 2025 Bencana Ekologis
- 17 Jan 2026 13:39 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), menilai banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada 2025 merupakan bencana ekologis. bencana tersebut dipicu oleh kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat aktivitas manusia.
Koordinator Desk Disaster WALHI Region Sumatera, Wahdan Lubis, banjir 2025 menjadi sangat parah karena fungsi hidrologis DAS telah hilang. Berdasarkan temuan WALHI di lapangan, hampir seluruh wilayah DAS Tamiang telah mengalami alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit, sehingga tidak lagi mampu menyerap air hujan.
“Sepanjang DAS Tamiang, hutan hampir tidak ditemukan lagi. Yang terlihat di lapangan adalah perkebunan sawit. Kondisi ini membuat resapan air praktis hilang dan memicu banjir besar,” ujar Wahdan dalam konferensi pers di Medan, Jumat, 16 Januari 2026.
Sementara, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Aceh, Afifuddin Acal, menilai bencana yang terjadi di Aceh merupakan bencana ekologis yang tidak terjadi secara alamiah. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan dampak dari akumulasi perizinan yang diberikan tanpa memperhatikan perlindungan lingkungan hidup.
“Bencana Aceh hari ini adalah bencana ekologis. Ini merupakan dampak dari akumulasi perizinan yang diberikan tanpa memperhatikan perlindungan lingkungan,” kata Afifuddin.
Ia mengungkapkan, data 2024 menunjukkan kerusakan DAS Tamiang telah mencapai lebih dari 30 persen, sementara DAS Jambu Aye di Aceh Timur rusak lebih dari 45 persen. Afifuddin memperkirakan, tingkat kerusakan tersebut semakin parah setelah banjir besar yang terjadi pada 2025.
WALHI mendorong pemerintah pusat untuk segera menyusun peta jalan pemulihan pascabencana serta melakukan evaluasi terhadap perizinan usaha, guna mencegah terjadinya bencana serupa di masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....