Umat Muslim Menjaga Istiqomah Secara Konsisten Pasca Ramadan

  • 03 Apr 2026 18:04 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Setelah sebulan penuh latihan spiritual, tantangannya justru dimulai ketika Ramadan berakhir. Istiqomah berarti tetap teguh pada kebaikan meski tidak ada “magnet” Ramadan lagi. Inti Materi Makna istiqomah: keteguhan hati dan amal (QS. Fussilat:30). Bukan sekadar semangat musiman, tapi kebiasaan yang dijalankan terus. Contoh konkret pasca Ramadan: Salat lima waktu tepat waktu, plus menjaga salat sunah yang sempat rutin di Ramadan. Puasa sunah (Senin-Kamis atau Ayyāmul Bīdh). Tilawah Al-Qur’an harian—misalnya 1-2 halaman bila tak sempat satu juz. Sedekah rutin, walau nominal kecil, agar semangat infak Ramadan tak putus. Strategi konsistensi: Niat ulang tiap pekan—ingatkan diri bahwa Allah menilai amal yang terus-menerus. Target realistis—pilih satu atau dua ibadah unggulan, bukan semua sekaligus. Kalau umat Muslim bisa menjaga istiqomah secara konsisten, spirit Ramadan akan hidup sepanjang tahun. Hal ini dikatakan Hj. Marliah Sitepu, S.Ag, M.Hi ( Pokjaluh Kemenag Kota Binjai ) narasumber Mutiara Sore di Programa 4 RRI Medan FM 88,4 MHz. Kamis ( 2/4/2026 ) Sore.

Lebih lanjut Hj. Marliah Sitepu menjelaskan bahwa Bulan Ramadan ibarat sekolah bagi orang-orang beriman. Di bulan ini, umat Islam dilatih untuk berpuasa, memperbanyak shalat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, serta memperbaiki akhlak. Namun, ujian terbesar bukanlah saat berpuasa, melainkan ketika Ramadan telah usai. Pertanyaannya adalah, apakah amal ibadah kita akan berhenti atau justru terus berlanjut? Menurutnya, yang paling berat dalam perjalanan hidup seorang muslim bukan hanya mendapatkan hidayah, melainkan menjaga istiqomah. Sesungguhnya susah menjadi baik dan susah menjaga ketaatan. Kita sangat kuat dan semangat beribadah di bulan puasa, mulai dari shalat tarawih berjamaah, puasa bersama selama sebulan, hingga melaksanakan qiyamullail setiap malam. Namun, saat masuk bulan Syawal, rutinitas ibadah tersebut seringkali berkurang atau bahkan hilang.

"Ramadan boleh berlalu, tetapi istiqomah ibadahnya jangan juga berlalu, Istiqomah itu memang berat, namun hasilnya sangat manis. Orang yang mampu istiqomah menunjukkan bahwa imannya benar dan kuat, bukan hanya karena "efek musim" atau ikut-ikutan saat bulan puasa saja, “ ungkap Hj. Marliah.

Sebagai kesimpulan Hj. Marliah Sitepu mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan, bukan titik puncak. Teruslah berjalan meski pelan, asalkan tidak berhenti.Semoga Allah SWT menerima ibadah kita di Ramadan dan memberkahi hidup kita agar tetap dalam ketaatan hingga akhir hayat. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....