Menahan Lisan di Era Media Sosial

  • 25 Feb 2026 14:51 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Derasnya arus informasi digital, Ramadan menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Puasa juga bisa dimaknai sebagai momentum umat muslim menjaga ucapan serta etika bermedia sosial.

Hal tersebut disampaikan oleh Hj. Nunung Ismiyanti, S.Ag. MA dalam Kajian Mutiara Sore Ramadan RRI Pro 4 FM Medan yang mengusung tema “Menahan Lisan di Era Media Sosial”.

Dalam tausiyahnya disampaikan bahwa peribahasa lama “mulutmu harimaumu” kini bertransformasi menjadi “jarimu harimaumu”. Di era digital, lisan tidak lagi sebatas ucapan, tetapi juga berupa ketikan jempol di layar ponsel. Puasa Ramadan harus dimaknai sebagai latihan menahan diri, bukan hanya dari makanan, tetapi juga dari menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan komentar yang menyakiti.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam konteks media sosial, diam berarti tidak terburu-buru menekan tombol kirim atau membagikan informasi sebelum memastikan kebenarannya.

Kajian ini juga mengingatkan firman Allah dalam Surah Qaf ayat 18, bahwa setiap ucapan manusia diawasi dan dicatat oleh malaikat. Kesadaran ini diibaratkan sebagai “CCTV langit” yang merekam setiap kata, termasuk yang ditulis di media sosial.

Fenomena keberanian mencaci di dunia maya dijelaskan melalui konsep online disinhibition effect, yakni kondisi ketika seseorang merasa lebih berani karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara. Puasa hadir sebagai latihan self-regulation atau pengendalian diri, agar empati tetap hidup meski berinteraksi melalui layar.

Disampaikan pula bahwa ghibah digital memiliki dampak lebih luas dibanding ghibah di dunia nyata. Jejak digital bersifat abadi dan dapat tersebar dengan cepat melalui tangkapan layar atau fitur berbagi. Sekali unggahan menyebar, dosanya bisa mengalir selama konten itu terus dibaca dan dibagikan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa puasa adalah perisai. Namun perisai itu dapat bocor jika lisan dan jempol tidak dijaga. Bahkan ada orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus karena tidak mampu menahan ucapan dan perilakunya.

Menutup kajian, pendengar diajak menjadikan ponsel sebagai “sejadah digital”. Media sosial dapat menjadi ladang pahala jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan, memberi semangat, dan berbagi konten dakwah. Ramadan diharapkan menjadi momentum transformasi hati, sehingga jempol lebih sibuk berzikir dan berbagi kebaikan daripada menebar kebencian.

Melalui tausiyah ini, masyarakat diajak berpuasa dari kebencian dan menjaga lisan, baik yang terucap maupun yang tertulis, agar hati tetap bersih menyambut Idulfitri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....