Berburu Takjil, Tradisi yang Menghidupkan Suasana Ramadan

  • 20 Feb 2026 21:57 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di tengah masyarakat. Menjelang azan magrib, berbagai sudut kota dipenuhi pedagang musiman yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Aktivitas berburu takjil pun menjadi pemandangan yang hampir selalu ada setiap sore selama bulan suci.

Secara bahasa, istilah takjil berasal dari bahasa Arab yang berarti menyegerakan atau mempercepat. Dalam konteks puasa, maknanya merujuk pada anjuran untuk menyegerakan berbuka ketika waktu magrib telah tiba. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata takjil memiliki dua makna, yaitu: (1) mempercepat berbuka puasa, dan (2) makanan untuk berbuka puasa. Perkembangan makna inilah yang membuat masyarakat Indonesia lebih akrab menggunakan istilah takjil untuk menyebut hidangan berbuka.

Tradisi berburu takjil sendiri tumbuh dari kebiasaan masyarakat yang ingin menyiapkan hidangan berbuka secara praktis. Seiring waktu, kebiasaan ini berkembang menjadi aktivitas sosial yang dinantikan. Pedagang musiman bermunculan, menawarkan berbagai menu khas Ramadan seperti kolak, bubur manis, es buah, es campur, hingga aneka gorengan.

Tidak hanya menjadi ajang transaksi jual beli, tradisi ini juga mempererat interaksi sosial. Warga dari berbagai latar belakang berkumpul di satu tempat, berbincang sambil memilih hidangan. Bahkan di sejumlah lokasi, komunitas dan pengurus masjid turut membagikan takjil gratis kepada pengguna jalan sebagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi.

Bagi sebagian masyarakat, berburu takjil telah menjadi bagian dari pengalaman Ramadan yang penuh kenangan. Keramaian, aroma makanan, serta momen kebersamaan menjelang magrib menghadirkan nuansa hangat yang sulit ditemukan di bulan-bulan lainnya.

Dengan demikian, tradisi takjil bukan sekadar soal makanan, melainkan cerminan nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan adaptasi budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia selama Ramadan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....