Ngabuburit: Tradisi Ramadan yang Menghangatkan Kebersamaan

  • 19 Feb 2026 15:43 WIB
  •  Medan

RRICO.ID, Medan - Ngabuburit merupakan salah satu tradisi khas yang selalu hadir setiap bulan Ramadan di Indonesia. Istilah ini merujuk pada kegiatan mengisi waktu menjelang berbuka puasa, biasanya dilakukan pada sore hari sebelum azan magrib.

Bentuknya beragam, mulai dari berjalan santai, berburu takjil, berkumpul bersama keluarga atau teman, mengikuti kajian, hingga sekadar menikmati suasana sore. Lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka, ngabuburit telah menjadi bagian dari budaya sosial Ramadan yang mempererat kebersamaan.

Dilansir dari unesa.ac.id secara bahasa, istilah “ngabuburit” berasal dari bahasa Sunda, dari kata burit yang berarti sore atau waktu menjelang petang. Seiring waktu, istilah ini meluas dan digunakan secara nasional.

Meskipun berasal dari satu daerah, praktik ngabuburit berkembang sesuai karakter masing-masing wilayah. Setiap kota dan daerah memiliki corak ngabuburit yang berbeda, dipengaruhi oleh budaya lokal, ruang publik, serta kebiasaan masyarakat setempat.

Di berbagai daerah, ngabuburit sering identik dengan pasar Ramadan yang bermunculan secara musiman. Jalanan dan ruang terbuka berubah menjadi pusat aktivitas warga.

Pedagang menjajakan aneka makanan dan minuman untuk berbuka, sementara masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk berinteraksi dan menikmati suasana sore yang khas. Tradisi ini tidak hanya menggerakkan roda ekonomi kecil, tetapi juga menciptakan ruang sosial yang hangat dan inklusif.

Selain kegiatan kuliner, banyak masyarakat mengisi ngabuburit dengan aktivitas religi dan sosial. Masjid dan musala menjadi lebih hidup menjelang magrib, dengan kegiatan tadarus, pengajian, atau program berbagi takjil.

Ada pula yang memanfaatkan waktu dengan olahraga ringan, membaca, atau melakukan kegiatan komunitas yang bermanfaat. Ragam aktivitas ini menunjukkan bahwa ngabuburit dapat diisi dengan cara yang produktif sekaligus menyenangkan.

Di era modern, bentuk ngabuburit juga mengalami penyesuaian. Sebagian orang memilih berkumpul di kafe atau pusat perbelanjaan, sementara yang lain menikmati suasana taman kota atau ruang publik terbuka.

Media sosial pun turut memengaruhi tren ngabuburit, seperti berburu jajanan viral atau mendokumentasikan momen kebersamaan. Meski demikian, esensi ngabuburit tetap sama: mengisi waktu sore Ramadan dengan kegiatan yang membawa kegembiraan dan kedekatan sosial.

Pada akhirnya, ngabuburit adalah tradisi yang terus hidup karena mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia menjadi simbol bagaimana masyarakat Indonesia memaknai Ramadan bukan hanya sebagai ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat hubungan sosial.

Sederhana namun bermakna, ngabuburit menghadirkan suasana sore yang lebih hangat dan menjadikan penantian berbuka terasa lebih ringan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....