Pentingnya Qolbun Salim dalam Menjaga Amal
- 15 Feb 2026 11:13 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan- Penyakit hati menjadi persoalan serius yang kerap luput dari perhatian manusia, padahal kondisi hati menentukan keselamatan seseorang di hadapan Allah SWT. Hal itu disampaikan penceramah Mahyu Daniel Tanjung dalamInspirasi Qolbu Pro 2 Medan pada Sabtu, 14 Februari 2026 yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati atau qolbun salim sebagai bekal utama kehidupan akhirat.
Mahyu menjelaskan, pada akhirnya tidak ada yang dapat menolong manusia selain ketaatan kepada Allah SWT dengan hati yang selamat. Ia menegaskan bahwa harta, kedudukan, maupun keturunan tidak akan memberi manfaat jika hati manusia dipenuhi penyakit.
“Suatu ketika nanti manusia tidak akan memberikan manfaat, tidak akan memberikan pertolongan, tidak juga harta maupun anak keturunan. Kecuali hanya ketaatan kepada Allah SWT dalam bingkai hati yang selamat,” ujar Mahyu.
Menurutnya, hati yang bersih dan jernih akan memudahkan seseorang menerima hidayah, nasihat, dan kebenaran. Orang dengan qolbun salim akan menjalankan perintah Allah dengan ikhlas serta senang hati demi menggapai rida-Nya.
“Ketika seseorang memiliki hati yang bersih, dia akan senantiasa menerima nasihat dan melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah SWT dengan ikhlas,” kata Mahyu.
Mahyu mengingatkan tentang bahaya qolbun maridh atau hati yang sakit. Hati jenis ini dipenuhi penyakit seperti hasad, iri, dengki, ria, dan ujub yang membuat seseorang sulit menerima takdir Allah SWT.
“Ketika dia tidak menerima ketentuan Allah, maka timbullah penyakit hasad, iri, dengki, ria, dan lainnya. Ini merusak hati dan berefek pada amal perbuatannya,” ujar Mahyu.
Ia mencontohkan perilaku ria yang sering terjadi di lingkungan sosial, termasuk di kalangan anak muda. Amal ibadah yang seharusnya ikhlas justru dijadikan sarana mencari pujian dan simpati.
“Ada yang rajin mengajak tahajud di grup WhatsApp, padahal dirinya tidak tahajud. Itu hanya untuk mendapat pujian atau perhatian,” ucap Mahyu.
Mahyu menyebut kondisi hati paling berbahaya adalah qolbun mayit atau hati yang mati. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi mampu menerima nasihat, kebenaran, maupun ajakan kebaikan.
“Berapa pun banyak orang memberi nasihat, tidak akan didengar. Ketika hati sudah mati, semua perintah Allah tidak akan dilakukan,” kata Mahyu.
Mahyu mengajak umat Islam, khususnya para pemuda, untuk menjadikan perbaikan hati sebagai prioritas utama. Ia mengingatkan agar penyakit hati diwaspadai sebelum mengantarkan seseorang pada kondisi hati yang mati.
“Ini menjadi PR kita bersama agar penyakit hati dihilangkan. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita taufik dan hidayah, sehingga hati kita senantiasa dalam keadaan salim,” ucap Mahyu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....