Alireza Jahanbakhsh : Iran akan Bermain dengan Senyum di Wajah Kami
- 15 Jun 2026 19:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Alireza Jahanbakhsh lahir dan dibesarkan di bagian utara Iran, dan meskipun ia telah menghabiskan bertahun-tahun diluar negeri untuk mengejar karier professional di gemerlapnya Eropa, tempat itu tetaplah tempat yang ia sebut rumah.
Dilansir dari fifa.com, Minggu 14 Juni 2026, seperti yang dia jelaskan pada malam menjelang pertandingan pembuka Piala Dunia FIFA 2026 negaranya, daya tarik tanah air adalah sesuatu yang terus memanggilnya kembali. Dia menyampaikan, “ Saya mencintai Iran dan berusaha pulang sesering mungkin untuk mengunjungi keluarga saya. Saya seorang pria berkeluarga dan saya tidak bisa terlalu lama jauh dari mereka. Saya berhubungan dengan orang tua saya setiap hari, mengunjungi mereka sesering mungkin. Saya mencintai Iran, saya mencintai setiap bagian dari Negara saya.”
Ia juga mengatakan, “ Setiap saya pulang kampung, saya selalu pergi ke Utara, tempat asal saya, untuk menikmati setiap momennya. Disanalah saya menghabiskan seluruh masa kecil saya dan saya mencoba melakukan itu sesering mungkin untuk memastikan saya tetap terhubung dengan budaya dan orang-orang saya.”
Di usia 32 tahun, penyerang ikonik tim Melli ini tahu bahwa ia sedang mendekati akhir kariernya. Turnamen Piala Dunia akan menjadi penampilan keempatnya di final dunia bagi seorang pemain yang selalu hadir untuk negaranya, menjawab pangggilan kapan pun datang, di mana pun ia berada.
Jika ini adalah penampilan terakhirnya di Piala Dunia, ia ingin menikmati setiap momennya, Pelatih Iran Amir Ghalenoei, telah menunjuk skuad yang sangat berpengalaman, banyak di antaranya telah bersama Jahanbakhsh dalam sebagian besar perjalanan kariernya, itu sangat bermanfaat saat tim mendekati pertandingan pembuka mereka melawan Selandia Baru di Los Angeles.
Ia mengatakan, “Fakta bahwa kami telah bermain bersama selama bertahun-tahun membantu kami mengelola semuanya dengan jauh lebih baik, baik di dalam maupun luar lapangan. Saya kira 70-80 persen dari tim ini telah bersama selama bertahun-tahun.”
Ia juga menambahkan, “yang selalu kami inginkan hanyalah memberikan yang terbaik untuk tim nasional. Kami benar-benar seperti saudara, perasaan selalu sangat menyenangkan ketika menghabiskan waktu bersama di tim nasional. Banyak dari kami juga saling berhubungan di luar lapangan ketika kami tidak sedang dalam pemusatan latihan dan itu menunjukkan banyak hal tentang hubungan kami.”
“ Sekarang, kami ingin memastikan bahwa kapan pun saatnya tiba bagi kami untuk meninggalkan tim nasional, kami melakukannya dengan meninggalkan sesuatu yang baik untuk Negara kami, untuk mencoba menciptakan sejarah bagi sepak bola Iran.”
Meskipun sering lolos kualifikasi, Iran kesulitan mengulangi performa yang telah menjadikan mereka kekuatan continental yang tangguh di panggung global. Dalam enam penampilan sebelumnya, Tim Melli selalu tersingkir di babak grup. Meskipun Jahanbakhsh tidak membuat pernyataan besar tentang seberapa jauh Iran dapat melaju, ia cukup yakin bahwa grup yang berisi pemain-pemain seperti Mehdi Taremi, Mohammad Mohebi, dan Saman Ghoddos dapat memberikan kesan positif.
“Kekuatan tim kami terletak pada kualitas individu kami, tetapi juga pada kesamaan tujuan kolektif kami, yaitu bermain dengan senyum di wajah dan berusaha membuat orang-orang kami bahagia.”
“Orang-orang menyukai Tim Melli dan tim ini selalu menjadi bagian dari kehidupan mereka, membawa kebahagiaan di rumah mereka dan kami ingin melakukannya lagi. Syukurlah kami memiliki kesempatan ini sebagai sebuah grup untuk sekali lagi mewakili negara kami di panggung sebesar ini.”
“Kami bersatu sebagai sebuah tim, dengan perpaduan pemain berpengalaman dan pemain muda, dan perasaan yang saya rasakan dari dalam grup sangat kuat, jadi saya berharap itu akan membantu kami untuk melangkah sejauh mungkin di turnamen ini.”
Dengan latar belakang konflik di dalam dan sekitar tanah airnya, persiapan untuk Iran bukanlah hal yang mudah. Alih-alih menggunakan itu sebagai alasan, Jahanbakhsh ingin mengirimkan pesan positif.
Setelah pertandingan melawan Selandia Baru, Iran akan menghadapi Belgia dan kemudian Mesir, dan meskipun targetnya adalah melaju ke babak selanjutnya, pemain sayap veteran itu ingin tetap fokus di lapangan dalam turnamen yang merupakan tonggak penting baginya secara pribadi.
“Tentu saja, situasi di kampung halaman memengaruhi tim, tetapi kami membuktikan dengan tindakan dan itulah yang disadari semua orang. Kami ingin memastikan untuk menemukan cara untuk meringankan masa sulit yang dialami orang-orang kami selama beberapa tahun terakhir dan memastikan untuk menghadirkan senyum di wajah mereka.”
“Sebagai individu dan sebagai sebuah tim, kami ingin menunjukkan bahwa sepak bola menyatukan dunia dan sepak bola menyatukan orang-orang.”
“Tidak masalah negara, warna kulit, atau latar belakang kita semua manusia. Manusia tidak harus menderita dan semoga kita bisa memberikan kesan itu kepada dunia melalui sepak bola, melalui kaki kita, dan menunjukkan kepribadian kita di panggung sebesar ini.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....