Gunawan Benjamin Soroti Kemiskinan Fluktuatif Akibat Harga Pangan

  • 10 Feb 2026 20:14 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan-Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai angka garis kemiskinan yang direpresentasikan melalui pengeluaran masyarakat sangat rentan mengalami distorsi daya beli dalam periode tertentu, khususnya saat terjadi lonjakan harga pangan. Hal tersebut disampaikannya, Selasa, 10 Februari 2026.

“Garis kemiskinan yang berbasis pengeluaran sangat berpeluang menciptakan gangguan daya beli masyarakat miskin, terutama ketika harga komoditas pangan strategis mengalami kenaikan tajam,” ujar Gunawan.

Ia menjelaskan, kelompok masyarakat miskin merupakan pihak yang paling terdampak oleh fluktuasi harga pangan. Kenaikan harga cabai merah, misalnya, kerap langsung menekan kemampuan konsumsi rumah tangga miskin. Kontribusi komoditas volatile food dalam struktur pengeluaran pun membuat kelompok ini semakin rentan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) September 2025, terdapat tujuh komoditas utama yang membentuk angka garis kemiskinan, yakni beras, rokok, ikan segar, telur ayam, daging ayam, dan cabai merah. Dari komoditas tersebut, beras dan rokok relatif lebih stabil karena adanya peran pemerintah dalam menjaga harga.

“Sebaliknya, harga daging ayam, ikan segar, dan cabai merah bergerak sangat fluktuatif. Cabai merah bahkan bisa naik ekstrem dalam waktu singkat, seperti yang terjadi pada Desember lalu saat bencana melanda sejumlah daerah,” katanya.

Gunawan mencontohkan, saat ini harga cabai merah di Kota Medan dan sekitarnya berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp70.000 per kilogram. Bahkan di Kepulauan Nias, harga cabai merah sempat melonjak hingga Rp200.000 per kilogram.

Ia menegaskan, dengan garis kemiskinan sebesar Rp755.041 per kapita per bulan di wilayah perkotaan dan Rp671.746 per kapita per bulan di wilayah perdesaan, angka tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi riil daya beli masyarakat.

“Ketika harga pangan utama naik bersamaan dalam satu bulan penuh, pengeluaran masyarakat bisa melonjak dan tidak lagi mengikuti pola konsumsi yang dijadikan dasar perhitungan BPS,” ucapnya.

Menurutnya, masyarakat dengan pengeluaran per kapita di sekitar garis kemiskinan dapat mengalami perubahan status ekonomi secara cepat.

“Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa hari ini masuk kategori miskin dan esok hari berada di atas garis kemiskinan. Fenomena ini saya sebut sebagai kemiskinan fluktuatif atau volatile poverty,” ucap Gunawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....