Sosialisasi Merajut Nusantara Ajak Masyarakat Cerdas Bermedia dan Bela Negara di

  • 18 Sep 2026 16:36 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Penguatan literasi digital dan kesadaran menjaga keamanan siber menjadi perhatian dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Cerdas di Dunia Digital, Bela Negara di Ruang Digital: Perlindungan Data Pribadi, Bijak Bermedia, Literasi Siber untuk Indonesia Berdaulat” yang digelar secara daring, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si., sebagai keynote speaker, bersama Plt. Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, S.H., M.H., serta Komandan Satuan Siber TNI Angkatan Udara, Marsma TNI I Ketut S. Wahyu Wijaya, M.A., sebagai pemapar materi.

Webinar tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, tenaga pendidik, komunitas, hingga masyarakat umum di Kabupaten Bogor. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya perlindungan data pribadi, penggunaan media digital secara bijak, serta kewaspadaan terhadap berbagai ancaman kejahatan siber yang semakin berkembang.

Dalam keynote speechnya Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si, yang mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) menekankan pentingnya meningkatkan kecerdasan dan kesadaran masyarakat dalam menggunakan ruang digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga menjalankan aktivitas ekonomi. Namun, kemajuan tersebut juga diikuti dengan berbagai risiko, seperti penyalahgunaan data pribadi, penipuan digital, kejahatan siber, dan penyebaran informasi yang tidak benar.

Anton menilai masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memahami risiko serta menjaga keamanan diri ketika beraktivitas di ruang digital.

“Ruang digital merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, masyarakat harus semakin cerdas, semakin bijak dan memiliki kesadaran untuk menjaga keamanan data pribadi serta informasi yang dimiliki,” ujar Anton Politisi yang berasal dari Partai Demokrat.

Ia juga mengingatkan pentingnya melindungi data pribadi dengan tidak sembarangan memberikan informasi sensitif kepada pihak yang tidak jelas. Selain itu, masyarakat diharapkan mampu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

“Bijak bermedia bukan hanya soal bagaimana kita menggunakan media sosial, tetapi juga bagaimana kita bertanggung jawab terhadap informasi yang kita terima dan kita sebarkan,” katanya.

Anton menambahkan, penguatan literasi digital dan keamanan siber membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar masyarakat semakin siap menghadapi dinamika ancaman di ruang digital.

Sementara itu, Plt. Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, S.H., M.H., memaparkan pentingnya menyeimbangkan perluasan akses internet dengan penguatan budaya digital masyarakat, khususnya di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T). Menurut Darien, pembangunan infrastruktur digital tidak hanya berfokus pada pemerataan konektivitas, tetapi juga harus disertai peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara cerdas, aman, produktif, dan bertanggung jawab.

“Upaya BAKTI Komdigi mencakup pemerataan infrastruktur fisik melalui penyediaan akses internet dan fasilitas publik, sekaligus penguatan ekosistem digital melalui literasi digital, pemantauan jaringan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.” ujar Darien.

Darien juga menjelaskan empat pilar budaya digital, yakni cerdas, aman, produktif, dan bertanggung jawab. Keempat pilar tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan literasi digital, melindungi diri dari kejahatan internet, memanfaatkan teknologi untuk pendidikan dan ekonomi, serta menjaga etika dalam berinteraksi di ruang digital.

Dalam paparannya, ia turut menyoroti pentingnya pengamanan akses internet melalui sistem penyaringan aktif terhadap situs dan konten yang tidak sesuai, termasuk judi online, pornografi, phishing, penipuan, malware, dan konten ilegal lainnya.

“Kami mendorong masyarakat agar berperan aktif dalam membangun ekosistem digital berkelanjutan, antara lain dengan memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menjaga privasi, serta memanfaatkan internet untuk belajar, bekerja, dan berkarya.”pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Komandan Satuan Siber TNI Angkatan Udara, Marsma TNI I Ketut S. Wahyu Wijaya, M.A., menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.

Ia menjelaskan bahwa kejahatan siber dapat menyasar data pribadi, akun digital, hingga infrastruktur strategis yang mendukung kehidupan masyarakat.

“Keamanan siber bukan hanya menjadi tanggung jawab institusi tertentu, tetapi membutuhkan kesadaran dan keterlibatan seluruh masyarakat dalam menjaga keamanan informasi di ruang digital.” ujar Marsma TNI I Ketut S. Wahyu Wijaya, M.A.

Sejumlah ancaman yang perlu diwaspadai di antaranya social engineering, phishing, malware, dan ransomware. Social engineering merupakan upaya manipulasi psikologis untuk membuat korban memberikan informasi sensitif atau melakukan tindakan tertentu. Sementara itu, phishing dilakukan dengan menyamar sebagai pihak resmi untuk memperoleh data penting, termasuk kata sandi dan kode OTP.

Adapun malware dan ransomware merupakan perangkat lunak berbahaya yang dapat merusak sistem, mencuri data, maupun mengenkripsi berkas sehingga tidak dapat diakses oleh pemiliknya. Dalam konteks global, I Ketut S. Wahyu Wijaya juga memaparkan bagaimana ruang siber telah menjadi bagian dari dinamika konflik internasional dan ancaman terhadap berbagai sektor strategis, seperti energi, transportasi, komunikasi, dan fasilitas publik.

Untuk mengurangi risiko serangan siber, masyarakat dan instansi diimbau meningkatkan literasi digital, menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, memperbarui perangkat lunak secara berkala, serta melakukan pencadangan data penting.

“Bela negara di ruang digital dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menjaga data pribadi, tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, serta menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.”tambahnya.

Ia juga memperkenalkan pendekatan Zero Trust, yakni prinsip keamanan yang mengharuskan setiap akses diverifikasi dan tidak secara otomatis dipercaya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa bela negara tidak hanya diwujudkan melalui tindakan fisik, tetapi juga melalui tanggung jawab menjaga keamanan informasi, melindungi data pribadi, serta mencegah penyebaran hoaks di ruang digital.

“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan siber. Gunakan kata sandi yang kuat, aktifkan autentikasi dua faktor, dan jangan sembarangan mengeklik tautan dari sumber yang tidak dikenal.”tutupnya.

Selain menghadirkan pemaparan mengenai literasi digital dan keamanan siber, Sosialisasi Merajut Nusantara ini juga dimeriahkan dengan persembahan tarian daerah Jawa Barat.

Kehadiran seni budaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang memadukan penguatan wawasan digital dengan pengenalan kekayaan budaya lokal.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga keamanan data pribadi, bersikap kritis terhadap informasi, serta memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Penguatan literasi digital dan keamanan siber diharapkan dapat mendorong terbentuknya masyarakat yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berperan aktif menjaga ruang digital yang aman dan mendukung terwujudnya Indonesia yang berdaulat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....