Indonesia-Rusia Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Haji

  • 23 Agt 2026 20:06 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, menerima audiensi delegasi Dewan Federasi Majelis Federal Rusia di Jakarta, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Pertemuan membahas pertukaran pengalaman serta peluang kerja sama penyelenggaraan haji antara Indonesia dan Rusia.

Delegasi Rusia dipimpin Wakil Ketua Pertama Komite Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Kebudayaan Dewan Federasi Rusia, Ilyas Magomed-Salamovich Umakhanov. Pertemuan membahas sejumlah bidang, mulai dari tata kelola, digitalisasi, pembiayaan, transportasi, hingga pelayanan jemaah.

Delegasi Rusia tertarik mempelajari pengalaman Indonesia mengelola sekitar 221 ribu kuota haji dengan jumlah pendaftar lebih dari lima juta orang. Menhaj menjelaskan pengelolaan tersebut didukung Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT), mulai dari pendaftaran hingga pengelolaan antrean keberangkatan.

“Indonesia memiliki jumlah pendaftar yang sangat besar. Karena itu, sistem informasi dan sistem antrean menjadi sangat penting agar seluruh proses dapat dikelola secara terstruktur,” ujarnya.

IIrfan Yusuf menjelaskan calon jemaah melakukan setoran awal Rp25 juta melalui Bank Penerima Setoran (BPS) untuk memperoleh nomor porsi. Pemerintah juga terus menata distribusi kuota untuk mengurangi kesenjangan masa tunggu yang secara nasional diarahkan menjadi sekitar 26 tahun.

Selain sistem antrean, delegasi Rusia mendalami mekanisme pembiayaan haji Indonesia melalui pengelolaan dana oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Integrasi antara pendaftaran, pengelolaan dana, dan pembiayaan operasional menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian.

Rusia sendiri memiliki kuota sekitar 25 ribu jemaah haji, dengan sekitar 70–80 persen berasal dari kawasan Kaukasus Utara. Luas wilayah menjadi salah satu tantangan dalam transportasi dan koordinasi, sementara Rusia belum menerapkan mekanisme antrean terintegrasi seperti Indonesia.

Kedua pihak juga membahas kenaikan biaya penerbangan, fluktuasi harga avtur, kondisi ekonomi global, serta dinamika kebijakan layanan Pemerintah Arab Saudi. Delegasi Rusia turut menyampaikan kendala transfer dana ke Arab Saudi akibat dinamika hubungan internasional dan sanksi.

Menanggapi hal tersebut, Irfan menyatakan Indonesia terbuka berbagi pengalaman dalam digitalisasi, pendataan jemaah, pengelolaan pembiayaan, hingga koordinasi pelayanan di Arab Saudi. Kerja sama tersebut ditempatkan dalam konteks pelayanan keagamaan dan kemanusiaan.

“Dalam urusan haji, yang utama adalah bagaimana memastikan umat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman. Pelayanan jemaah merupakan kepentingan bersama yang dapat mempertemukan banyak negara,” katanya.

Pertemuan ditutup dengan penyerahan undangan resmi kepada Kemenhaj untuk melakukan kunjungan balasan ke Rusia. Kunjungan tersebut diharapkan menjadi kesempatan melihat kehidupan komunitas Muslim sekaligus menindaklanjuti potensi kerja sama teknis kedua negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....