Wamenhut Tekankan Kolaborasi Selamatkan Orangutan Sumatra dan Tapanuli

  • 18 Jul 2026 18:50 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Kementerian Kehutanan memperkuat upaya konservasi orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli melalui Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli yang dirangkaikan dengan kick off penyusunan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2026 di Hotel Aryaduta Medan, Sabtu, 18 Juli 2026.

Wakil Menteri Kehutanan, Rahmat Marzuki, mengatakan orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli merupakan satwa endemik Indonesia yang tidak hanya menjadi kekayaan hayati nasional, tetapi juga menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan.

Rahmat menegaskan upaya konservasi tidak dapat dilakukan secara parsial maupun hanya di kawasan konservasi. Oleh karena itu, pemerintah mendorong penguatan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar manusia dapat hidup berdampingan dengan orangutan serta memperkuat perlindungan habitat melalui penyusunan PHVA 2026 sebagai dasar penyusunan kebijakan konservasi ke depan.

Ia menyebut hasil survei 2021–2023 mencatat penurunan populasi orangutan Sumatera sekitar 19,5 persen. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, terutama terhadap habitat orangutan Tapanuli di kawasan Batang Toru yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi.

"Hasil survei tahun 2021 sampai 2023 mencatat populasi orangutan Sumatera mencapai 11.694 individu dan orangutan Tapanuli sebanyak 716 individu. Namun jika dibandingkan dengan data dasar tahun 2011, populasi spesies orangutan Sumatera telah mengalami penurunan sekitar 19,5 persen," katanya.

Rahmat mengatakan habitat orangutan tidak hanya berada di kawasan konservasi, tetapi juga tersebar di hutan lindung, hutan produksi, kawasan perhutanan sosial, lahan milik masyarakat, hingga areal penggunaan lain. Karena itu, upaya pelestarian harus dilakukan secara kolaboratif.

"Intinya adalah kita mendorong agar manusia bisa hidup berdampingan dengan orangutan. Karena orangutan tidak mengancam keselamatan manusia, sehingga kita harus menjaga habitatnya agar tetap lestari," katanya.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT), Adi Nurul Hadi, saat memaparkan hasil survei populasi orangutan yang dilakukan sepanjang 2021 hingga 2023. (Foto:RRI/Raihan)

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT), Adi Nurul Hadi, memaparkan hasil survei populasi orangutan yang dilakukan sepanjang 2021 hingga 2023 di 11 bentang populasi orangutan Sumatera dan Tapanuli. Penelitian tersebut melibatkan berbagai lembaga pemerintah, akademisi, peneliti, dan organisasi konservasi, serta telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional.

"Survei ini kami lakukan untuk melihat dinamika populasi orangutan setelah satu dekade. Sebelumnya penghitungan populasi dilakukan pada 2011–2012. Kami ingin mengetahui bagaimana perubahan yang terjadi dan faktor-faktor apa yang memengaruhi dinamika populasi tersebut. Harapannya, hasil kajian ini menjadi baseline terbaru untuk mendukung evaluasi program konservasi dan menjadi acuan dalam menyusun strategi konservasi ke depan," ujar Adi.

Menurut Adi, hasil analisis menunjukkan bahwa kehilangan tutupan hutan menjadi faktor paling dominan yang menyebabkan penurunan populasi orangutan Sumatera dengan kontribusi mencapai 76 persen. Sementara sisanya dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti fragmentasi habitat, konflik antara manusia dan orangutan, serta meningkatnya aktivitas manusia di sekitar habitat satwa tersebut.

"Khusus orangutan Sumatra, sudah terjadi penurunan sekitar 19,5 persen dibandingkan jumlah pada tahun 2011. Penurunan populasi itu paling dominan diakibatkan oleh hilangnya tutupan hutan. Orangutan merupakan satwa arboreal yang sangat bergantung pada tajuk hutan sebagai tempat hidup dan mencari makan. Ketika tutupan hutan berkurang, habitat mereka ikut terfragmentasi sehingga berdampak langsung terhadap penurunan populasi," katanya.

Ia menambahkan, penelitian tersebut juga mengidentifikasi sebaran populasi orangutan yang berada di kawasan konservasi, hutan lindung, hingga area penggunaan lain. Informasi itu dinilai penting untuk menentukan prioritas perlindungan habitat dan meningkatkan konektivitas antarkawasan hutan.

"Data ini bukan sekadar menunjukkan jumlah populasi, tetapi juga menjadi dasar untuk menyempurnakan program konservasi. Kami berharap perlindungan terhadap tutupan hutan semakin diperkuat, konektivitas antarhabitat tetap terjaga, dan hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam penyusunan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli ke depan," kata Adi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....