Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibangun lewat Sejarah, Budaya, dan Kerja Sama
- 14 Jul 2026 11:50 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Hubungan Indonesia dan Tiongkok telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Hubungan kedua negara dibangun tidak hanya melalui perdagangan, tetapi juga pertukaran budaya, agama, dan peradaban.
Hal itu disampaikan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan, Huang He, saat menyambut kepulangan delegasi media Indonesia yang baru menyelesaikan kunjungan di Tiongkok, akhir Juni 2026.
Dalam sambutannya, Huang He menyampaikan eratnya hubungan kedua negara dengan sejarah Jalur Sutra Maritim. Ia menyinggung keberadaan Candi Muaro Jambi yang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha pada abad ke-9 hingga ke-13, serta kisah Biksu Yijing yang pernah menetap di Jambi selama 13 tahun.
"Wali Kota Jambi mengabari saya bahwa seorang biksu dari Tiongkok bernama Yijing pernah menetap di Jambi selama 13 tahun untuk mendalami ajaran Buddha. Saya sungguh terpukau mendengar itu," katanya di kediaman Konjen Tiongkok di Medan, Selasa 7 Juli .
Ia juga mencontohkan keberadaan lonceng peninggalan armada Laksamana Cheng Ho di Aceh sebagai bukti hubungan historis kedua bangsa. Menurutnya, sosok Yijing yang beragama Buddha dan Cheng Ho yang beragama Islam, mencerminkan interaksi Tiongkok dan Indonesia sejak dahulu mencakup pertukaran agama, budaya, dan peradaban yang berlangsung secara damai.
Huang He menegaskan keterbukaan menjadi salah satu karakter utama peradaban Tiongkok. Menurutnya, agama Buddha yang berasal dari luar Tiongkok berhasil berkembang setelah beradaptasi dengan budaya lokal, berpadu dengan ajaran Konfusianisme dan Taoisme, hingga akhirnya menjadi bagian penting dari identitas budaya Tiongkok.
Ia menjelaskan, pengaruh Buddhisme tidak hanya terlihat pada kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga memberi kontribusi besar terhadap perkembangan filsafat, seni, sastra, arsitektur, hingga bahasa Tiongkok. Sejumlah warisan budaya seperti Gua Mogao di Dunhuang dan ukiran batu Dazu disebut sebagai bukti akulturasi tersebut.
Selain Buddhisme, ia mengatakan Islam juga memiliki sejarah panjang di Tiongkok sejak masuk melalui Jalur Sutra Maritim pada abad ke-7. Hubungan dengan dunia Islam terus berkembang melalui kedatangan para pedagang, ulama, dan ilmuwan dari Arab maupun Persia yang turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Tiongkok.
Huang He juga memaparkan perjalanan sejarah modern Tiongkok, termasuk masuknya Marxisme-Leninisme yang kemudian melahirkan Partai Komunis Tiongkok pada 1921. Menurutnya, ideologi tersebut diadaptasi sesuai kondisi nasional dan menjadi dasar perjuangan rakyat Tiongkok dalam mengakhiri kolonialisme, feodalisme, serta membangun Republik Rakyat Tiongkok.
Ia mengatakan sejak kebijakan reformasi dan keterbukaan pada 1978, Tiongkok berhasil mempercepat industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, sehingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Pembangunan tersebut, kata dia, berlangsung melalui integrasi antara modernisasi, budaya tradisional, dan kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Tiongkok tetap berkomitmen menjalankan pembangunan yang damai serta memperkuat kerja sama internasional. Menurutnya, berbagai gagasan seperti Belt and Road Initiative (BRI), Komunitas Senasib Sepenanggungan Umat Manusia, serta empat inisiatif global yang diperkenalkan Presiden Xi Jinping bertujuan mendorong pembangunan, keamanan, dialog antarperadaban, dan reformasi tata kelola global.
"Kami berharap gagasan dan solusi yang ditawarkan Tiongkok dapat membawa lebih banyak stabilitas dan pembangunan bagi dunia saat ini. Sehingga rakyat di seluruh negara dapat menikmati kehidupan yang bahagia, sejahtera, dan penuh kedamaian," kata Huang He.
Ia juga menilai Indonesia dan Tiongkok memiliki posisi strategis sebagai negara berkembang yang berpengaruh. Dalam beberapa tahun terakhir, kemitraan strategis komprehensif kedua negara terus diperkuat melalui kerja sama di bidang politik, ekonomi, maritim, keamanan, dan hubungan antarmasyarakat.
Menutup sambutannya, ia menyampaikan harapan agar hubungan Indonesia dan Tiongkok terus berkembang sebagai kemitraan yang saling menguntungkan. Menurutnya, kedua negara dapat menjadi contoh bahwa perbedaan sistem politik, agama, dan budaya bukan menjadi penghalang, melainkan modal untuk membangun kerja sama yang lebih erat demi perdamaian dan pembangunan bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....