BBKSDA Sumut Rescue dan Translokasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Langkat
- 08 Mei 2026 09:10 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara bersama tim Human Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) melaksanakan rescue dan translokasi satu individu Orangutan Sumatera dari Desa Sei Litur, Kecamatan Sawit Seberang, Kabupaten Langkat.
Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Amenson Girsang kepada RRI, Kamis, 7 Mei 2026 mengatakan, informasi awal diterima BBKSDA Sumut dari tim HOCRU YOSL-OIC pada Sabtu (2/5), setelah adanya laporan masyarakat terkait keberadaan orangutan yang terisolir di area Kebun Timbang Langsa.
“Jadi informasi awal itu kita terima dari tim HOCRU YOSL-OIC yang menerima informasi dari masyarakat bahwa adanya individu orangutan yang terisolir di daerah kebun,” ujarnya.
Ia menjelaskan kawasan tersebut merupakan Area Penggunaan Lain (APL) yang berada sekitar 10 kilometer dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pada Senin (4/5), tim gabungan BBKSDA Sumut melalui Resor Aras Napal bersama HOCRU YOSL-OIC melakukan pengecekan lokasi di Desa Sei Litur, Kecamatan Sawit Seberang, Kabupaten Langkat.
“Setelah dilakukan peninjauan dan identifikasi di lapangan, ditemukan tiga individu orangutan, terdiri dari satu jantan dewasa, satu betina dewasa dan satu anak,” katanya.
Amenson mengatakan, tim memutuskan untuk terlebih dahulu mengevakuasi individu jantan dewasa karena berdasarkan informasi masyarakat, orangutan tersebut kerap menimbulkan rasa takut dan kepanikan warga.
“Untuk mengantisipasi ancaman keselamatan terhadap manusia ataupun satwa, sehingga kita rescue yang jantan terlebih dahulu,” ucapnya.
Ia menyebut proses evakuasi dilakukan setelah tim dokter hewan menyiapkan obat bius dan proses rescue berjalan aman. Hasil pemeriksaan menunjukkan orangutan jantan tersebut dalam kondisi sehat tanpa luka dengan berat sekitar 95 kilogram.
Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan, BBKSDA Sumut berkoordinasi dengan Balai Besar TNGL untuk menentukan lokasi pelepasliaran. Orangutan jantan tersebut kemudian dilepasliarkan di kawasan restorasi Cinta Raja pada Selasa (5/5).
Sementara itu, untuk individu betina beserta anaknya, kata Amenson, saat ini masih dilakukan pemantauan intensif karena proses evakuasi memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan anak orangutan.
“Kalau induk ditembak bius, ada kekhawatiran anaknya tetap melekat dan bisa membahayakan saat proses evakuasi. Jadi sementara ini masih kita pantau,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penyelamatan satwa liar sekaligus mitigasi potensi interaksi negatif antara manusia dengan orangutan akibat perubahan penggunaan lahan di sekitar habitat alaminya.
Amenson menyebut alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan orangutan keluar dari habitat alaminya dan terisolir di area perkebunan warga.
“Kedepannya kita akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pengawasan di kawasan perbatasan konservasi supaya tidak ada lagi satwa yang keluar ataupun terisolir,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....