Utilisasi Rendah, Industri Karet Nasional Hadapi Krisis

  • 24 Jan 2026 14:03 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Simalungun - Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, memaparkan kondisi industri karet nasional yang tengah menghadapi tekanan serius. Mulai dari penurunan luas perkebunan hingga melemahnya industri hilir pada kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI di industri karet Kabupaten Simalungun, Jumat, 23 Januari 2026.

Ia menyebut, luas areal perkebunan karet mengalami penurunan sekitar 16,5 persen pada periode 2021–2023. Dari total luas sekitar 3,15 juta hektare, hanya 72,3 persen yang merupakan tanaman menghasilkan, sementara 18,72 persen belum menghasilkan dan 8,99 persen tidak lagi produktif.

“Pada 2011 harga karet sempat mencapai 5,4 dolar AS per kilogram, namun terus menurun hingga awal 2026 menjadi sekitar 1,8 dolar AS per kilogram,” ujarnya.

Menurut Putu, penurunan harga tersebut berdampak langsung terhadap kinerja industri pengolahan karet dalam negeri. Dari sekitar 137 perusahaan industri karet, sebanyak 53 perusahaan tercatat sudah tidak beroperasi, dengan tingkat utilisasi industri yang hanya sekitar 48,3 persen.

“Permasalahan utama pengembangan industri karet nasional saat ini adalah ekosistem industri, terutama terkait ketersediaan dan biaya energi, sehingga penguatan industri hilir masih menjadi tantangan besar,” katanya.

Meski demikian, ia menilai pasar karet global masih memiliki prospek positif dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 4,8 persen pada periode 2024–2033. Kondisi ini didorong oleh kebutuhan industri otomotif, kendaraan listrik, serta produk kesehatan.

Putu menegaskan, tantangan utama pengembangan industri karet nasional terletak pada ekosistem industri, khususnya ketersediaan energi. Penguatan rantai pasok, pengembangan SDM serta dukungan energi menjadi kunci untuk mendorong kebangkitan industri karet nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....