Tak Hanya Ramen, Udon juga Punya Sejarah Menarik yang Jarang Diketahui

  • 31 Mei 2026 12:24 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Kuliner Jepang semakin akrab di lidah masyarakat Indonesia. Selain sushi dan ramen, udon menjadi salah satu hidangan yang banyak digemari berkat teksturnya yang tebal, kenyal, dan mudah dipadukan dengan berbagai jenis kuah maupun topping. Tak heran, mi khas Jepang ini kini mudah ditemukan di restoran hingga pusat perbelanjaan.

Di balik popularitasnya, udon ternyata memiliki sejarah panjang yang menarik. Dikutip dari IDN Times, sejumlah catatan menyebutkan bahwa udon diduga berasal dari Tiongkok sebelum diperkenalkan ke Jepang pada masa Dinasti Tang sekitar abad ke-8. Seiring berjalannya waktu, hidangan tersebut berkembang dan menjadi salah satu ikon kuliner Jepang yang dikenal hingga berbagai negara.

Berikut beberapa fakta menarik tentang udon yang mungkin belum banyak diketahui:

1. Diduga Berasal dari Tiongkok

Meski identik dengan Jepang, sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa cikal bakal udon berasal dari Tiongkok. Menurut Travel Japan, makanan tersebut masuk ke Jepang pada masa Dinasti Tang dan kemudian mengalami berbagai penyesuaian sesuai budaya serta selera masyarakat setempat. beberapa peneliti kuliner juga menyebut nama "udon" memiliki keterkaitan dengan kata "wonton", makanan berbentuk pangsit yang populer di Tiongkok. Namun, seiring perkembangan zaman, udon tumbuh menjadi hidangan yang memiliki identitas tersendiri dalam budaya kuliner Jepang.

2. Berbeda dengan Soba

Sekilas, udon dan soba sama-sama dikenal sebagai mi tradisional Jepang. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mencolok, terutama dari bahan pembuatannya. Udon dibuat dari tepung terigu sehingga menghasilkan warna putih cerah dan tekstur yang lebih kenyal. Sementara soba dibuat menggunakan tepung gandum kuda atau buckwheat yang membuat warnanya lebih gelap dan memiliki cita rasa yang lebih khas.

3. Terbuat dari Bahan yang Sederhana

Salah satu keunikan udon terletak pada bahan dasarnya yang sangat sederhana, yakni hanya menggunakan tepung terigu, garam, dan air. Meski demikian, proses pembuatannya memerlukan teknik khusus untuk menghasilkan tekstur yang elastis dan kenyal. Adonan harus diuleni hingga kalis, didiamkan selama beberapa waktu agar lebih lentur, kemudian dipotong menjadi bentuk mi sebelum direbus hingga matang.

4. Memiliki Beragam Bentuk dan Ukuran

Tidak semua udon memiliki bentuk yang sama. Di berbagai daerah di Jepang, mi ini hadir dalam ukuran dan ketebalan yang beragam, mulai dari berbentuk bulat, persegi, hingga pipih menyerupai pita. Beberapa jenis udon bahkan memiliki tampilan yang sedikit transparan karena menggunakan campuran bahan tertentu, seperti tepung kentang. Perbedaan bentuk dan karakteristik tersebut umumnya dipengaruhi oleh tradisi kuliner yang berkembang di masing-masing daerah.

5. Bisa Dinikmati dengan Beragam Cara

Salah satu alasan udon tetap populer adalah fleksibilitas penyajiannya. Mi khas Jepang ini dapat dinikmati dalam kuah kaldu hangat, disajikan dingin, maupun disantap bersama saus celup. Untuk udon kuah, masyarakat Jepang umumnya menggunakan sumpit untuk mengambil mi dan langsung menyeruput kaldunya dari mangkuk, sedangkan pada udon dengan saus celup, beberapa helai mi biasanya dicelupkan terlebih dahulu agar cita rasanya lebih kuat sebelum disantap.


Popularitas udon terus bertahan di tengah berkembangnya berbagai tren kuliner modern. Teksturnya yang kenyal, cita rasa yang mudah diterima berbagai kalangan, serta kemampuannya dipadukan dengan beragam bahan menjadikan udon sebagai salah satu hidangan Jepang yang mendunia. Tak hanya hadir dalam bentuk tradisional, udon kini juga banyak dikreasikan dengan berbagai topping dan cita rasa baru. Meski demikian, karakteristik utamanya sebagai mi tebal khas Jepang tetap dipertahankan, sehingga menjadikannya salah satu sajian yang terus diminati dari generasi ke generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....