Menikmati Cita Rasa Palembang dalam Lezatnya Pempek Sentosa di Kota Medan
- 10 Apr 2026 10:18 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Salah satu warung legendaris yang telah hadir di Kota Medan lebih dari dua dekade, dan berlokasi di Jl. Garu II B, Harjosari I Kec. Medan Amplas Adalah Pempek Sentosa. Tempat ini didirikan oleh almarhum Abdul Rozik pada 1998, Pempek Sentosa menjadi jembatan antara cita rasa Palembang dan lidah masyarakat Medan yang beragam.
Aroma khas cuko asam pedas langsung menyeruak begitu pintu warung dibuka. Di dalam kaca steling, deretan pempek lenjer, kapal selam, hingga adaan tersusun rapi menunggu untuk digoreng. Itulah suasana di Pempek Sentosa.
Keistimewaan Pempek Sentosa bukan hanya pada bahan baku ikannya, tapi juga pada cara mempertahankan resep tradisional tanpa kompromi. Setiap potong pempek dibuat dari campuran ikan tenggiri segar dan sagu yang diolah dengan tangan, bukan mesin. Kuah cukonya diracik dengan takaran gula merah, cabai, dan cuka khas yang menciptakan keseimbangan rasa pedas, asam, dan manis yang menyatu harmonis di lidah.
Menurut laporan Badan Pangan Nasional dan melansir badanpangan.go.id, konsumsi ikan masyarakat Indonesia mencapai 56,48 kg per kapita pada 2023, meningkat dari tahun sebelumnya. Angka ini menandakan tumbuhnya minat masyarakat terhadap makanan berbasis ikan yang lebih sehat dan bergizi tinggi. Pempek, dengan bahan dasar ikan dan minim minyak, menjadi salah satu pilihan kuliner yang mendukung pola makan bergizi.
Selain kelezatan, warung ini juga menjadi ruang sosial lintas generasi. Banyak pelanggan datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk bernostalgia.
Andi, salah satu pelanggan lama yang kini menjadi dosen di salah satu universitas negeri di Medan mengatakan cukupsering membeli makanan Pempek Sentosa ini. Menurutnya, cita rasanya sangat cocok dilidahnya dan keluarganya juga suka.
“Dulu waktu kuliah, kami sering nongkrong di sini. Sekarang saya bawa anak saya makan di tempat yang sama,” katanya.
Tak sedikit pula wisatawan yang menjadikan Pempek Sentosa sebagai pit stop kuliner sebelum pulang. Dengan lokasi yang strategis dan suasana sederhana, warung ini tetap ramai meski digempur tren kuliner modern.
Sri, putri pendiri warung mengatakan mempertahankan cita rasa bukan perkara mudah, tapi soal tanggung jawab budaya. “Selama orang masih mencari rasa yang jujur dari bahan alami, pempek tidak akan pernah mati,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....