Bubur Pedas Melayu Deli, Tradisi Kuliner Khas Ramadan di Sumatera Utara
- 12 Mar 2026 09:39 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan -Setiap datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Melayu di Medan dan wilayah sekitarnya memiliki tradisi kuliner yang selalu dinantikan yaitu bubur pedas Melayu Deli. Hidangan ini bukan sekadar makanan berbuka puasa tetapi juga bagian dari warisan budaya masyarakat Melayu Deli yang telah diwariskan turun-temurun.
Bubur pedas dikenal dengan cita rasa gurih, kaya rempah, dan berisi berbagai sayuran serta bahan alami. Meski namanya “pedas”, hidangan ini tidak selalu memiliki rasa pedas menyengat. Kata “pedas” dalam tradisi Melayu merujuk pada penggunaan banyak rempah yang memberikan aroma khas dan rasa yang kuat.
Secara historis, bubur pedas berasal dari tradisi masyarakat Melayu Deli yang mendiami wilayah Kesultanan Deli. Dahulu, bubur ini sering disajikan dalam acara adat maupun kegiatan keagamaan. Saat Ramadan, bubur pedas menjadi menu favorit untuk berbuka puasa karena dianggap menyehatkan dan mampu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
" Biasanya untuk acara kesultanan / kerajaan, dibuat saat perorangan disajikan utk ketahanan tubuh untuk prajurit. Bubur pedas biasanya disajikan saat tamu raja datang namun sekarang tidak hanya Ramadan saat acara pernikahan atau saat ingin makan bubur pedas kita bisa pesan dan memakannya jadi kalau dulu ga ada bubur pedas kurang terasa bulan puasanya",ujar Datin Herita, SE praktisi kuliner Melayu dalam acara Siaran Berjaringan Nasional Suara Budaya Nusantara Programa 4 RRI Medan pada Rabu
( 11/03/2026 ) .
Proses pembuatan bubur pedas cukup unik. Beras terlebih dahulu disangrai hingga kecokelatan, lalu ditumbuk menjadi butiran halus sebelum dimasak menjadi bubur. Setelah itu, bubur dicampur dengan berbagai bahan seperti serai, daun kesum, kunyit, lengkuas, dan rempah lainnya. Sayuran seperti daun pakis, kacang panjang, dan ubi juga sering ditambahkan masyarakat Medan menyebutnya Anyang pakis, begitu pula ikan teri atau daging sebagai pelengkap.Bubur pedas memiliki cita rasa tersendiri bagi penggemarnya, kelezatannya bahkan sering menjadi kerinduan tersendiri bagi mereka yang berada di perantauan.
" Saya pernah coba sewaktu di Medan dan enak sekali ,aduuh enaknya ,jadi rindu ke Medan ,sekarang saya di Jakarta, saya tahu tradisinya biasanya ada di mesjid raya dan saya berharap kuliner melayu Deli tetap dilestarikan dan dihargai',ucap Cekgu Ria di Tangerang melalui sambungan telepon Pro 4.
Di beberapa kampung Melayu di sekitar Medan dan wilayah Binjai, bubur pedas sering dimasak secara gotong royong oleh warga menjelang waktu berbuka puasa. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi cara melestarikan kuliner khas daerah.
Kini, bubur pedas Melayu Deli tidak hanya dapat ditemukan di lingkungan masyarakat Melayu, tetapi juga mulai dijual di berbagai bazar Ramadan di Sumatera Utara. Banyak masyarakat dari berbagai latar belakang datang untuk mencicipi hidangan khas ini, menjadikannya salah satu ikon kuliner Ramadan di daerah tersebut.
Dengan rasa yang khas serta nilai budaya yang kuat, bubur pedas Melayu Deli tetap bertahan sebagai simbol kebersamaan dan tradisi yang menghangatkan suasana Ramadan bagi masyarakat di Sumatera Utara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....