Manisan Klasik Warisan Melayu yang Tetap Lestari

  • 30 Okt 2025 14:22 WIB
  •  Medan

KBRN, Medan : Siapa sangka, di balik rasa manis dan warna menarik dari halua, tersimpan sejarah panjang yang merekam budaya kuliner Melayu Langkat. Makanan ini bukan sekadar manisan, tetapi juga simbol warisan turun-temurun yang masih bertahan hingga kini.

Kata halua sendiri berasal dari bahasa Arab halwah, yang berarti “manisan”. Dalam budaya Melayu Langkat, halua dikenal sebagai manisan tradisional yang terbuat dari campuran cairan gula murni dengan berbagai buah dan sayuran yang tumbuh subur di pesisir timur Sumatera.

Beberapa bahan yang umum digunakan antara lain, buah gelugur, pepaya, terong, kolang-kaling, hingga buah renda. Uniknya, bahkan cabai merah pun dapat diolah menjadi halua, memberikan rasa dan warna yang khas serta menggugah selera.

Dahulu, halua merupakan sajian istimewa yang hanya dihidangkan pada momen-momen penting seperti Hari Raya Idul fitri, acara pernikahan, atau jamuan bagi para tamu kehormatan di lingkungan Kesultanan Melayu Langkat. Manisan ini dianggap sebagai lambang kemakmuran dan bentuk penghormatan terhadap tamu yang datang.

Seiring waktu, halua kini dapat dinikmati oleh siapa saja. Ia bukan lagi sekadar hidangan bangsawan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Melayu, yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Keberadaan halua hingga saat ini, menjadi bukti kuat, karena masyarakat Langkat masih menjaga dan menghargai kekayaan kuliner lokal mereka. Dengan rasanya yang manis dan tampilannya yang menggoda, halua tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan budaya bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....