Eksistensi Ramen dan Budaya Nongkrong Kekinian di Medan

  • 16 Jun 2025 09:50 WIB
  •  Medan

KBRN, Medan: Di tengah maraknya budaya nongkrong di kalangan Generasi Z, ramen, hidangan mi kuah khas Jepang, tak lagi sekadar makanan, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup anak muda Medan. Popularitasnya yang terus meroket menjadikan ramen sebagai pilihan utama untuk bersosialisasi, mengisi waktu santai, sekaligus menikmati pengalaman kuliner yang menggugah selera.

Ramen dikenal sebagai masakan mi kuah yang berasal dari Jepang, dengan pengaruh awal dari Tiongkok. Dalam bahasa Jepang, hidangan ini juga disebut chuka soba atau shina soba. Ramen memiliki beragam jenis kuah dan topping, mulai dari shoyu yang gurih klasik, miso yang kaya umami, hingga tonkotsu yang kental dan berkaldu daging.

Topping-nya pun beragam: dari irisan daging chashu yang lembut, telur rebus setengah matang (ajitsuke tamago), lembaran rumput laut kering (nori), rebung fermentasi (menma), hingga taburan daun bawang segar. Kombinasi ini tidak hanya menciptakan rasa yang kompleks, tapi juga tampilan yang estetik dan instagramable menjadikannya hidangan favorit di media sosial.

Bagi Gen Z Medan, ramen bukan hanya soal rasa, tapi juga suasana. Kedai ramen kini menjadi tempat favorit untuk berkumpul selepas sekolah, kuliah, atau di akhir pekan. Suasana santai, pilihan menu yang fleksibel, serta nilai estetik hidangan membuat ramen menjadi bagian dari identitas sosial dan ekspresi diri.

“Ramen itu kayak comfort food, apalagi kalau lagi nongkrong bareng teman-teman. Kuah hangatnya bikin suasana jadi lebih akrab,” ujar Anya, mahasiswa dan pencinta ramen yang ditemui di sebuah kedai ramen populer di Medan.

“Selain itu, topping-nya bisa pilih-pilih, jadi nggak bosan. Dan foto ramen juga lumayan buat upload ke sosmed,” tambahnya.

Tren ini mendorong tumbuhnya kedai ramen di berbagai sudut kota Medan. Dari warung sederhana dengan harga terjangkau hingga restoran premium dengan konsep modern, semuanya berlomba menawarkan rasa dan pengalaman unik yang sesuai dengan selera anak muda.

Tak hanya populer di Medan, ramen secara global telah menjadi ikon kuliner Jepang yang mendunia. Wikipedia mencatat bahwa ramen berakar dari Tiongkok sebelum beradaptasi di Jepang dan berkembang menjadi hidangan khas dengan banyak variasi regional.

Fenomena ramen di Medan mencerminkan bagaimana makanan dapat melampaui fungsinya sebagai pengisi perut. Ramen kini menjadi bagian dari budaya urban anak muda: sebagai ruang sosial, sarana ekspresi, hingga medium untuk menciptakan kenangan dan pertemanan.

Dengan perpaduan rasa, estetika, dan suasana, ramen telah mengokohkan dirinya sebagai hidangan yang "relevan secara emosional" di hati Generasi Z.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....