Otak Bisa Jadi Kamera? Ini Fakta Photographic Memory

  • 30 Sep 2026 01:09 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan Pernah melihat halaman buku sekali, lalu merasa bisa mengingat seluruh isinya? Kemampuan seperti ini sering disebut photographic memory atau ingatan fotografis. Di film dan media sosial, kemampuan tersebut kerap digambarkan seperti otak yang bisa menyimpan gambar layaknya kamera.

Namun, kemampuan mengingat setiap detail secara sempurna hanya dengan sekali melihat ternyata tidak sesederhana itu. Dikutip dari Alodokter, istilah photographic memory belum memiliki definisi medis yang jelas dan belum didukung bukti ilmiah kuat bahwa manusia dapat menyimpan informasi secara persis seperti sebuah foto.

Bukan Berarti Ingatan Visual Tidak Ada

Seseorang memang bisa memiliki kemampuan memori visual yang sangat baik. Misalnya, lebih mudah mengingat wajah, angka, lokasi, gambar, atau detail tertentu setelah melihatnya.

Namun, kemampuan tersebut tidak otomatis berarti seseorang mempunyai photographic memory. Daya ingat manusia dipengaruhi banyak hal, mulai dari perhatian, pemahaman, pengalaman, hingga pengulangan informasi.

Artinya, kalau seseorang mampu mengingat banyak detail setelah melihat sesuatu sekali, belum tentu otaknya bekerja seperti kamera yang merekam semuanya tanpa kesalahan.

Lalu, Apa Bedanya dengan Memori Eidetik?

Istilah photographic memory juga kerap disamakan dengan eidetic memory. Padahal, keduanya tidak sepenuhnya sama.

Memori eidetik menggambarkan kemampuan mempertahankan atau membayangkan kembali gambaran visual dengan sangat jelas dalam jangka waktu tertentu setelah objek atau gambar tidak lagi terlihat. Sementara photographic memory lebih banyak digunakan sebagai istilah populer untuk menggambarkan kemampuan mengingat informasi dengan sangat detail.

Kemampuan mengingat semua informasi secara sempurna seperti foto yang dapat dipanggil kembali kapan saja belum memiliki bukti ilmiah yang kuat.

Mitos: Ingatan Kuat Berarti Jenius

Anggapan bahwa orang dengan daya ingat sangat baik pasti memiliki IQ tinggi juga tidak sepenuhnya tepat.

Kemampuan mengingat setiap orang berbeda. Ada yang lebih mudah mengingat wajah, ada yang kuat mengingat angka, sementara orang lain lebih mudah menyerap informasi melalui cerita atau pengalaman.

Kemampuan mengingat juga tidak hanya dipengaruhi kecerdasan. Perhatian, kebiasaan belajar, pengalaman, serta cara seseorang mengolah informasi turut berperan.

Bisa Dilatih, Tapi Bukan Jadi “Kamera”

Kabar baiknya, kemampuan mengingat tetap dapat dilatih. Teknik seperti pengulangan berkala, membuat asosiasi, menggunakan mnemonik, hingga memanfaatkan visualisasi dapat membantu seseorang mengingat informasi dengan lebih efektif.

Namun, latihan tersebut tidak terbukti dapat menciptakan photographic memory dalam arti mampu mengingat semua informasi secara sempurna hanya dengan sekali melihat.

Jadi, kalau kamu tidak bisa mengingat satu halaman buku setelah membacanya sekali, tidak perlu merasa kemampuan otakmu bermasalah. Otak manusia memang tidak bekerja seperti kamera. Yang lebih penting adalah bagaimana informasi dipahami, diolah, dan diingat dengan cara yang efektif.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....