Cegah Stunting, BKKBN Sumut Tekankan Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor
- 15 Sep 2026 16:50 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - BKKBN Sumatera Utara menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting. Ketua Tim Peran Serta Masyarakat dan Lini Lapangan Perwakilan BKKBN Sumatera Utara, Rabiatul Adawiyah, mengatakan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan makanan dan gizi, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain yang membutuhkan intervensi lintas sektor.
Hal tersebu disampaikannya pada Talkshow RRI Medan bersama BKKBN Provinsi Sumatera Utara di Kantor Perwakilan BKKBN Sumatera Utara, Jl. Gunung Krakatau No.110, Pulo Brayan Darat II, Kec. Medan Tim., Kota Medan, Selasa, 15 September 2026.
Rabiatul mengatakan dalam pencegahan stunting BKKBN telah menjalankan program GENTING ( Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting ) yang telah dijalankan di berbagai daerah di Sumatera Utara.
"khususnya di program prioritas kementerian, kita ada program prioritas menteri. Pertama, itu ada namanya Genting, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Ini yang sangat nanti berkorelasi dengan pencegahan stunting," kata Rabiatul.
Ia menjelaskan, BKKBN memiliki data Pendataan Keluarga yang dilakukan setiap lima tahun dan diperbarui setiap tahun. Data tersebut dikumpulkan secara mikro hingga by name by address untuk mengidentifikasi keluarga yang berisiko stunting dan diharapkan menjadi acuan bagi berbagai pihak dalam melakukan intervensi sesuai tugas dan fungsinya.
"Ketika data ini ada, kami berharap bukan hanya BKKBN yang punya tanggung jawab, dinas lintas sektor terkait ini punya tanggung jawab besar. Kalau kita bicara tentang stunting, bukan hanya urusan makanan, bukan karena kurang gizi aja, ada faktor-faktor yang lain," katanya.
Menurut Rabiatul, data yang dimiliki BKKBN perlu dimanfaatkan oleh berbagai sektor sesuai dengan peran masing-masing dalam melakukan intervensi. Ia menegaskan, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan sektor kesehatan maupun sektor lain yang berkaitan dengan lingkungan, sanitasi, air bersih, perumahan, pendidikan, hingga sosial.
Sementara itu, Ketua Program Studi S2/S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM USU, R. Kintoko Rochadi, menilai permasalahan utama dalam penanganan stunting saat ini terletak pada lemahnya kolaborasi. Menurutnya, ketersediaan data stunting sudah ada, termasuk melalui data SSGI, namun pengelolaan serta tindakan nyata berdasarkan data tersebut masih belum berjalan optimal.
Kintoko mengatakan, respons pimpinan daerah dalam mendorong kerja sama lintas sektor juga masih belum optimal. Ia menilai, kepedulian pimpinan daerah terhadap persoalan stunting menjadi penting karena dapat menentukan sejauh mana kolaborasi berjalan di tingkat pelaksana.
"Permasalahannya, saya melihat bahwa di tiap daerah itu seharusnya pimpinan, dalam hal ini wakil kepala daerah, itu bertindak cepat, tanggap. Saya melihat masih belum optimal, bahkan kadang-kadang saya melihat seperti tidak merasa bahwa daerahnya ada masalah," ujar Kintoko.
Kintoko menambahkan, pola asuh dan keterlibatan keluarga, terutama orang tua, juga menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting. Ia berharap kolaborasi seluruh pihak dapat terus diperkuat sehingga penanganan stunting tidak berhenti pada ketersediaan data, tetapi dilanjutkan dengan tindakan nyata untuk mewujudkan generasi yang lebih sehat dan unggul.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....