Lari Makin Berat Padahal Latihan Makin Keras? Kenali 7 Tanda Overtraining

  • 29 Agt 2026 19:17 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Menambah jarak dan intensitas latihan tidak selalu membuat performa lari semakin baik. Jika pace justru melambat, kaki terus terasa berat, tidur terganggu, hingga motivasi berlari menurun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda tubuh mengalami overtraining.

Dikutip dari IDN Times, overtraining atau overtraining syndrome terjadi ketika beban latihan terlalu tinggi sementara tubuh tidak memperoleh waktu pemulihan yang cukup. Kondisi ini berbeda dengan rasa lelah atau pegal biasa setelah berolahraga karena dapat memengaruhi performa, kondisi fisik, hingga kesehatan mental.

Berikut sejumlah tanda overtraining yang perlu diperhatikan pelari :

1. Pace semakin lambat, tetapi latihan terasa semakin berat

Jika easy run yang biasanya terasa ringan mendadak menjadi berat, sementara pace semakin lambat, pelari perlu mulai waspada. Kondisi tersebut semakin patut diperhatikan apabila detak jantung saat berlari justru lebih tinggi dari biasanya.

Penurunan kemampuan menyelesaikan latihan interval atau hilangnya tenaga pada akhir lari juga dapat menjadi sinyal tubuh belum pulih dengan baik.

2. Kaki terus terasa berat dan pegal

Rasa pegal setelah berlari merupakan hal yang wajar. Namun, jika kaki tetap terasa berat, kaku, atau kehilangan tenaga meskipun sudah beristirahat, tubuh mungkin belum mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.

Memaksakan latihan dalam kondisi tersebut justru dapat memperbesar risiko kelelahan dan cedera.

3. Detak jantung saat istirahat meningkat

Perubahan resting heart rate atau detak jantung saat tubuh beristirahat juga dapat menjadi salah satu indikator kondisi tubuh.

Jika detak jantung istirahat secara konsisten lebih tinggi dibandingkan kondisi normal pribadi, terutama bersamaan dengan rasa lelah dan penurunan performa, hal tersebut perlu diperhatikan sebagai kemungkinan tubuh sedang mengalami stres akibat beban latihan.

4. Sulit tidur meski tubuh terasa lelah

Tubuh yang terlalu lelah tidak selalu membuat seseorang mudah tidur. Pada kondisi overtraining, sebagian pelari justru mengalami kesulitan tidur, mudah terbangun, atau bangun dalam kondisi tidak segar.

Gangguan tidur kemudian dapat membuat proses pemulihan semakin buruk dan menciptakan siklus kelelahan yang sulit diputus.

5. Mudah marah dan kehilangan motivasi

Overtraining tidak hanya berdampak pada fisik. Perubahan suasana hati juga dapat muncul, seperti lebih mudah marah, sensitif, cemas, sulit berkonsentrasi, hingga kehilangan minat terhadap olahraga yang sebelumnya menyenangkan.

Jika aktivitas yang biasanya ditunggu-tunggu justru mulai terasa sebagai beban, tubuh mungkin sedang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak.

6. Lebih sering mengalami sakit

Latihan dengan intensitas tinggi yang dilakukan terus-menerus tanpa pemulihan memadai dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan kesehatan. Pelari bisa merasa lebih sering mengalami keluhan ringan, seperti pilek atau sakit tenggorokan.

Kondisi tersebut perlu dilihat bersama dengan pola tidur, asupan makanan, tingkat stres, dan beban latihan secara keseluruhan.

7. Cedera ringan mulai sering muncul

Nyeri pada betis, lutut, telapak kaki, hamstring, hingga pinggul yang berulang tidak seharusnya selalu dianggap sebagai bagian normal dari latihan.

Cedera akibat penggunaan berlebihan atau overuse injury dapat muncul ketika tubuh terus mendapatkan beban latihan tanpa kesempatan yang cukup untuk beradaptasi dan memperbaiki jaringan.

Karena itu, pelari sebaiknya tidak menganggap istirahat sebagai tanda kemunduran. Pemulihan justru merupakan bagian penting dari proses membangun kebugaran.

Jika penurunan performa, kelelahan, gangguan tidur, atau keluhan fisik berlangsung selama beberapa minggu, evaluasi dengan tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan untuk memastikan penyebabnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....