Perempuan Rentan Alami Autoimun, Berikut Penjelasannya
- 31 Jul 2026 23:41 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan: Penyakit autoimun merupakan penyakit yang terjadi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel yang sehat dalam tubuh.
Sedangkan sistem kekebalan tubuh, seharusnya berfungsi melindungi tubuh untuk melawan penyakit dan sel jahat, seperti bakteri maupun virus. Banyak dampak yang akan timbul jika tubuh terserang autoimun.
Mengutip laman Institut Pertanian Bogor (IPB), di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, prevalensi autoimun diperkirakan berada di kisaran 3-5 persen, dan sekitar 80 persen penderitanya adalah perempuan.
Menurut studi Vanessa L. Kronzer et al. dalam jurnal Evolutionary Applications (2020), perempuan memiliki risiko penyakit autoimun hingga empat kali lebih tinggi ketimbang laki-laki.
Para peneliti menjelaskan, ada banyak faktor yang diduga berperan, mulai dari hormon seks, kromosom X, microchimerism, faktor lingkungan, hingga mikrobioma. Meski begitu, penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui.
Salah satu dugaan kuat, yakni perbedaan jumlah dan kualitas antibodi dalam darah. Perempuan umumnya memiliki kadar antibodi yang lebih tinggi daripada laki-laki. Adapun antibodi erat kaitannya dengan sebagian besar penyakit autoimun.
Penelitian tersebut menyebutkan setidaknya ada empat temuan yang mendukung teori ini. Pertama, kadar antibodi tinggi berhubungan dengan peningkatan autoimun, baik pada perempuan maupun pada laki-laki dengan sindrom Klinefelter.
Kedua, setelah melahirkan, kadar antibodi dan kasus autoimun sama-sama meningkat. Ketiga, makin banyak kehamilan atau persalinan, makin tinggi kadar antibodi dan risiko autoimun. Lalu terakhir, ada mekanisme biologis yang masuk akal, seperti aktivasi sel B oleh sel T dan peran VGLL3.
Sementara, Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Nyoman Kertia, mengatakan penyakit autoimun memang dipengaruhi faktor genetik.
Namun ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti faktor lingkungan, polusi udara, pola makan buruk, hingga stres. Yang terakhir disebutkan, menjadi faktor dominan penyebab autoimun.
Lebih lanjut, ia menyebutkan setidaknya ada tiga pemicu utama yang bisa memperburuk kondisi penderita autoimun.
Pertama, yakni kelelahan. Meski gejala sudah membaik, pasien tetap harus menjaga energi tubuh agar tidak mudah kambuh. Pemicu kedua, seperti yang disebutkan sebelumnya, yakni stres.
Pemicu ketiga adalah paparan sinar matahari berlebihan. Bukan berarti pasien harus menghindari matahari sepenuhnya, tetapi paparan berlebih sebaiknya dicegah dengan payung, pakaian pelindung, atau tabir surya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....