Low Stimulation Parenting, Pola Asuh yang Mengurangi Distraksi Anak

  • 30 Jul 2026 21:31 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Rumah yang lebih tenang, mainan yang tidak menumpuk, televisi yang tidak selalu menyala, hingga waktu bermain tanpa gadget. Bagi sebagian orang tua, suasana seperti ini kini justru dianggap lebih ideal untuk mendampingi tumbuh kembang anak.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai low stimulation parenting, yakni cara pengasuhan yang berusaha mengurangi rangsangan berlebihan dari lingkungan anak. Bukan berarti anak dilarang bermain atau harus menjalani hari dalam suasana sunyi, melainkan memberikan kesempatan bagi mereka untuk fokus pada satu aktivitas tanpa terlalu banyak distraksi.

Dikutip dari IDN News, pendekatan ini semakin banyak dibicarakan seiring kekhawatiran orang tua terhadap lingkungan anak yang dipenuhi layar, suara, aktivitas, dan berbagai pilihan hiburan. Interaksi langsung dengan orang tua justru menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan ini.

Bukan Membatasi Anak, tetapi Mengurangi Distraksi

Low stimulation parenting kerap disalahartikan sebagai pola asuh yang membuat anak harus selalu berada dalam suasana tenang. Padahal, konsepnya lebih sederhana, yaitu mengatur lingkungan agar anak tidak terus-menerus menerima berbagai rangsangan dalam waktu bersamaan.

Misalnya, ketika anak sedang bermain balok, televisi tidak perlu menyala di latar belakang. Begitu juga dengan mainan elektronik yang mengeluarkan suara atau video yang terus berganti-ganti. Dengan mengurangi gangguan tersebut, anak memiliki kesempatan untuk benar-benar memperhatikan permainan yang sedang dilakukan.

Lingkungan yang lebih sederhana juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk menggunakan imajinasi. Mereka tidak selalu membutuhkan mainan baru untuk bersenang-senang karena benda-benda sederhana seperti buku, kertas, balok, atau permainan di luar rumah pun dapat menjadi sarana eksplorasi.

Terlalu Banyak Rangsangan Bisa Membuat Anak Mudah Terdistraksi

Anak masa kini tumbuh di tengah berbagai bentuk stimulasi. Layar televisi, video pendek, notifikasi gawai, mainan elektronik hingga aktivitas yang padat dapat hadir hampir bersamaan dalam keseharian mereka.

Psikolog anak Linda Blair, dikutip dari BBC Tiny Happy People, menekankan pentingnya suasana yang lebih tenang agar perhatian anak tidak mudah teralihkan. Menurutnya, interaksi langsung antara orang tua dan anak juga memberikan pengalaman bahasa yang penting bagi perkembangan mereka.

Karena itu, low stimulation parenting tidak hanya berbicara mengenai berapa lama anak menggunakan gadget. Cara orang tua hadir dan berinteraksi dengan anak juga menjadi bagian penting dari lingkungan yang minim distraksi.

Orang Tua Tidak Harus Selalu Memberikan Hiburan

Salah satu gagasan yang menarik dari pendekatan ini adalah anak tidak harus terus-menerus diberi aktivitas baru. Ketika anak terlihat bosan, orang tua tidak selalu perlu langsung memberikan gadget, video, atau mainan baru.

Rasa bosan justru dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk mencari kegiatan sendiri. Dari situ, mereka dapat belajar menggunakan imajinasi, mengambil keputusan sederhana, dan menemukan cara untuk menghibur dirinya tanpa selalu bergantung pada stimulasi dari luar.

Pendidik dan konselor keluarga Dr. Kim John Payne, penulis Simplicity Parenting, menilai anak dapat berkembang dengan baik ketika kehidupannya tidak dipenuhi terlalu banyak pilihan, barang, maupun aktivitas.

Bagaimana Menerapkannya di Rumah?

Tidak perlu langsung mengubah seluruh pola kehidupan keluarga. Low stimulation parenting dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana yang realistis dilakukan setiap hari.

Beberapa langkah yang bisa dicoba orang tua antara lain:

  • Matikan televisi saat tidak sedang ditonton, terutama ketika anak sedang bermain atau belajar.

  • Kurangi penggunaan gadget sebagai hiburan utama, terutama ketika anak sebenarnya sedang membutuhkan interaksi.

  • Sediakan beberapa mainan saja agar anak tidak kebingungan memilih dan dapat fokus bermain.

  • Berikan waktu bermain tanpa agenda, sehingga anak memiliki kesempatan menentukan sendiri aktivitasnya.

  • Luangkan waktu tanpa ponsel, misalnya saat makan, membaca buku, atau mengobrol bersama.

  • Ajak anak melakukan aktivitas sederhana, seperti menggambar, membaca, memasak bersama, berkebun, atau bermain di luar rumah.

Bukan Berarti Rumah Harus Selalu Sepi

Low stimulation parenting bukan berarti orang tua harus menciptakan rumah yang benar-benar sunyi atau menghilangkan seluruh bentuk hiburan dari kehidupan anak. Anak tetap membutuhkan stimulasi untuk belajar, bergerak, bermain, dan mengenal lingkungan.

Yang menjadi perhatian adalah keseimbangan dan kualitas stimulasi. Anak tidak harus terus menerima suara, gambar, aktivitas, dan hiburan baru setiap saat.

Pada akhirnya, pendekatan ini mengajak orang tua untuk melihat kembali bagaimana lingkungan sehari-hari memengaruhi pengalaman anak. Di tengah kehidupan yang semakin ramai oleh layar dan berbagai distraksi, waktu bermain sederhana dan interaksi langsung dengan orang tua justru bisa menjadi ruang penting bagi anak untuk belajar, berimajinasi, dan berkembang.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....