Soft Parenting dan Gentle Parenting Tak Sama, Ini Bedanya
- 30 Jul 2026 21:35 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Istilah soft parenting dan gentle parenting semakin sering muncul di media sosial dan forum pengasuhan. Keduanya sama-sama menekankan empati serta pentingnya memahami emosi anak. Namun, keduanya tidak sepenuhnya sama, terutama dalam hal batasan, aturan, dan disiplin.
Dikutip dari IDN News, soft parenting cenderung memberikan perhatian lebih besar pada kenyamanan emosional anak. Jika diterapkan tanpa batas yang jelas, pendekatan ini berisiko berubah menjadi pola pengasuhan yang terlalu permisif. Sementara itu, gentle parenting berusaha menyeimbangkan empati dengan aturan dan konsekuensi yang sesuai dengan usia anak.
Perbedaan ini penting dipahami karena pengasuhan yang penuh kasih bukan berarti orang tua harus selalu mengatakan "iya" kepada anak. Anak tetap membutuhkan batasan agar memahami tanggung jawab, aturan, dan konsekuensi dari perilakunya.
Soft Parenting Lebih Menitikberatkan pada Kenyamanan Anak
Soft parenting pada dasarnya mengambil sejumlah prinsip yang juga terdapat dalam gentle parenting, terutama empati dan validasi emosi. Namun, pendekatan ini lebih menekankan upaya menjaga perasaan anak agar tetap nyaman sehingga penerapan aturan terkadang menjadi kurang tegas.
Dikutip dari Parents, pakar mindful parenting dan interpersonal mindfulness, Ana Vega, menjelaskan bahwa soft parenting dapat menjadi bentuk gentle parenting yang sangat menonjolkan empati. Masalahnya, ketika empati tidak diimbangi batasan yang sehat, orang tua bisa menjadi terlalu permisif dan kesulitan menerapkan disiplin secara konsisten.
Cenderung Menghindari Kata "Tidak"
Salah satu pola yang kerap dikaitkan dengan soft parenting adalah kecenderungan orang tua menghindari penolakan secara langsung. Tujuannya biasanya untuk mencegah konflik, tangisan, atau tantrum.
Dalam praktiknya, orang tua mungkin lebih sering membiarkan anak menentukan aktivitasnya, memenuhi permintaan agar situasi tetap tenang, atau memberikan kelonggaran terhadap aturan keluarga. Empati terhadap perasaan anak memang penting, tetapi bukan berarti setiap keinginan harus dipenuhi.
Beberapa pola yang perlu diperhatikan antara lain:
Orang tua terlalu sering membiarkan anak menentukan semua aktivitas tanpa arahan.
Kata "tidak" dihindari karena khawatir anak kecewa atau tantrum.
Keinginan anak lebih sering dipenuhi demi menjaga suasana tetap tenang.
Perasaan anak menjadi alasan untuk mengabaikan aturan yang sebenarnya sudah disepakati.
Rutinitas dan batasan keluarga menjadi tidak konsisten.
Gentle Parenting Tetap Punya Aturan
Di sinilah perbedaan utama gentle parenting dengan soft parenting. Keduanya sama-sama mengedepankan hubungan emosional yang sehat, tetapi gentle parenting tetap memberikan batasan yang jelas.
Psikolog klinis Carolina Estevez, Psy.D., dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa perbedaan utama kedua pendekatan tersebut terletak pada cara orang tua menetapkan batasan. Gentle parenting berusaha memahami emosi anak tanpa menghilangkan aturan yang diperlukan.
Artinya, orang tua tetap bisa mengatakan "tidak" tanpa membentak, mempermalukan, atau memberikan hukuman yang membuat anak takut. Anak diberi kesempatan memahami alasan di balik aturan sekaligus belajar menghadapi konsekuensi dari perilakunya.
Empati Bukan Berarti Membiarkan Semua Perilaku
Dalam gentle parenting, orang tua dapat mengakui perasaan anak tanpa membenarkan perilakunya. Misalnya, ketika anak marah karena tidak diperbolehkan bermain lebih lama, orang tua bisa mengakui bahwa anak memang kecewa, tetapi aturan waktu bermain tetap berlaku.
Pendekatan seperti ini membantu anak memahami bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku dapat dilakukan. Anak secara bertahap belajar mengelola emosi sekaligus memahami batasan yang berlaku.
Soft Parenting dan Gentle Parenting Bisa Dikombinasikan
Bukan berarti semua prinsip soft parenting harus ditinggalkan. Validasi emosi, mendengarkan anak, memberikan kesempatan memilih, dan menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar tetap dapat diterapkan dalam pengasuhan.
Kuncinya adalah memberikan ruang kepada anak tanpa menghilangkan struktur. Anak bisa diberi pilihan sederhana, misalnya memilih pakaian atau menentukan buku yang ingin dibaca, tetapi tetap berada dalam batas yang ditetapkan orang tua.
Orang tua juga perlu konsisten menjalankan rutinitas dan konsekuensi yang sudah disepakati. Dengan begitu, anak mendapatkan dua hal sekaligus: rasa aman secara emosional dan pemahaman mengenai batasan.
Jadi, Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada satu pola pengasuhan yang otomatis paling tepat untuk semua keluarga. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pendekatan yang digunakan membantu anak merasa aman, memahami aturan, mampu mengelola emosi, dan belajar bertanggung jawab.
Pada akhirnya, menjadi orang tua yang lembut bukan berarti selalu mengalah. Empati dan ketegasan justru bisa berjalan bersamaan. Orang tua dapat menghargai perasaan anak sambil tetap mengatakan "tidak" ketika diperlukan, menetapkan batasan yang sehat, dan memberikan konsekuensi yang sesuai dengan usia.
Dengan keseimbangan tersebut, pengasuhan tidak hanya membuat anak merasa didengar, tetapi juga membantu mereka belajar bahwa kehidupan memiliki aturan, pilihan, dan tanggung jawab.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....