Peran Puskesmas dalam Deteksi Dini dan Eliminasi TBC di Sumut
- 01 Agt 2026 18:15 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan, FM 94,3 MHz. Rabu ( 29/7/2026 ) pagi, mengupas tuntas salah satu tantangan utama di sektor kesehatan publik, yaitu dalam tajuk "Peran Puskesmas Bagi Penanggulangan TBC". Diskusi interaktif ini menghadirkan dua pakar yang membedah strategi penanganan Tuberkulosis (TBC) dari sudut pandang pelayanan kesehatan primer di lapangan dan akademisi keperawatan masyarakat, yaitu . Dr. Soep, S.Kp., M.Kes. (Dosen Poltekkes Kemenkes Medan) dan drg. Tina Arriani, M.Kes., Ph.D., CPPS., CHMC. (Plt. Kepala Puskesmas Belawan). Fokus utama dialog ini adalah mengulas peran vital Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai garda terdepan dalam penemuan kasus (case finding), pengobatan teratur hingga sembuh, serta pemutusan rantai penularan TBC di tengah tingginya beban kasus di kawasan padat penduduk.
Dari perspektif pelayanan medis praktis dan manajemen fasilitas kesehatan tingkat pertama, drg. Tina Arriani memaparkan langkah-langkah konkret yang dilakukan Puskesmas dalam menangani TBC, khususnya di wilayah pesisir seperti Belawan yang memiliki tantangan lingkungan dan tingkat kepadatan hunian yang tinggi. Sebagai pimpinan Puskesmas, ia menjelaskan pentingnya strategi penjangkauan aktif (active case finding) melalui investigasi kontak terhadap keluarga atau kerabat dekat pasien TBC, pemberian Pengobatan Pencegahan TBC (PPT), serta penyediaan akses pemeriksaan dahak maupun TCM (Tes Cepat Molekuler). Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan penanganan TBC tidak hanya terletak pada ketersediaan obat gratis dari pemerintah, tetapi juga pada pendampingan pasien secara konsisten oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) guna mencegah terjadinya resistensi obat (TB-RO/TB MBR) akibat pasien putus berobat.
Sementara itu, dari sudut pandang akademis keperawatan dan edukasi kesehatan publik, Dr. Soep, S.Kp., M.Kes. memberikan penekanan pada aspek pencegahan, perubahan perilaku harian, dan penghapusan stigma sosial terhadap penderita TBC. Sebagai akademisi Poltekkes Kemenkes Medan, ia menggarisbawahi bahwa TBC masih sering kali dianggap sebagai penyakit menakutkan atau ganjaran sosial, sehingga banyak penderita yang enggan memeriksakan diri secara dini. Ia mendorong penguatan edukasi mengenai etika batuk, pentingnya ventilasi dan sinar matahari di dalam rumah, serta pemenuhan gizi seimbang untuk meningkatkan imunitas tubuh. Dr. Soep mendesak adanya keterlibatan lintas sektor—termasuk kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah—untuk membantu tugas Puskesmas dalam mentransformasi persepsi publik agar masyarakat proaktif melapor jika mengalami batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu.
Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa target eliminasi TBC pada tahun 2030 memerlukan penguatan kapasitas dan dukungan penuh terhadap Puskesmas sebagai benteng utama kesehatan masyarakat. Pelayanan medis dan pelacakan kasus yang optimal dari jajaran Puskesmas seperti yang disampaikan oleh drg. Tina harus ditopang oleh edukasi preventif dan pemberdayaan masyarakat yang disuarakan oleh Dr. Soep. Dengan sinergi yang solid antara petugas kesehatan, komitmen berobat dari pasien, serta hilangnya stigma di tengah masyarakat, diharapkan angka kejadian TBC di Sumatera Utara dapat ditekan secara signifikan demi terwujudnya generasi yang sehat dan produktif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....