Screen Time Berlebih Berpotensi Ganggu Otak Anak, Waspadai Dampaknya
- 30 Jul 2026 21:33 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Penggunaan gawai pada anak tidak selalu membawa dampak negatif. Namun, psikolog mengingatkan bahwa screen time atau waktu menatap layar secara berlebihan dapat memengaruhi perkembangan otak, memicu overstimulasi, hingga meningkatkan risiko gangguan emosi jika tidak diimbangi dengan pendampingan orang tua.
Dikutip dari IDN News, Psikolog Ghianina Armand menyampaikan bahwa screen time dapat menjadi sarana belajar sekaligus memberikan stimulasi yang bermanfaat bagi anak. Menurutnya, manfaat tersebut hanya bisa diperoleh apabila penggunaan gawai disesuaikan dengan usia anak, durasi yang tepat, serta kualitas konten yang dikonsumsi.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak berusia di bawah dua tahun tidak terpapar layar sama sekali. Adapun anak usia dua hingga lima tahun disarankan menggunakan perangkat digital tidak lebih dari satu jam per hari dan tetap didampingi orang tua agar manfaatnya lebih optimal.
Screen Time Menjadi Stimulasi bagi Otak
Ghianina menjelaskan bahwa setiap tayangan yang dilihat anak merupakan bentuk stimulasi yang diterima otak melalui pancaindra, terutama penglihatan dan pendengaran. Warna, suara, gerakan, hingga gambar yang muncul di layar akan diproses oleh otak sebagai informasi baru. Karena itu, screen time tidak selalu berdampak buruk. Jika digunakan secara tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, perangkat digital dapat menjadi media edukasi yang membantu proses belajar sekaligus merangsang kemampuan kognitif.
Overstimulasi Terjadi Saat Otak Menerima Terlalu Banyak Rangsangan
Masalah muncul ketika otak menerima rangsangan secara berlebihan dalam waktu yang lama. Tayangan dengan perpindahan gambar yang cepat, warna mencolok, suara keras, dan durasi penggunaan gawai yang terlalu panjang dapat membuat otak kesulitan memproses informasi. Kondisi tersebut dikenal sebagai overstimulasi, yakni ketika kapasitas otak menerima rangsangan melampaui kemampuannya untuk mengolah informasi. Dampaknya, anak dapat menjadi lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
Anak Usia Dini Memiliki Risiko Lebih Besar
Anak-anak, terutama yang berusia di bawah dua tahun, lebih rentan mengalami dampak negatif screen time karena perkembangan otaknya masih berlangsung. Kapasitas otak pada usia dini belum mampu menerima rangsangan sebanyak remaja maupun orang dewasa. Akibatnya, paparan layar yang terlalu lama dapat membuat anak lebih cepat mengalami kelelahan mental, sulit mengendalikan emosi, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses informasi yang diterima.
Screen Time Berlebih Dapat Memengaruhi Emosi Anak
Selain berdampak pada perkembangan otak, penggunaan gawai secara berlebihan juga berpotensi memicu ketergantungan. Anak yang terlalu sering terpapar layar cenderung lebih mudah merasa gelisah ketika jauh dari gawai, sulit mengendalikan emosi, mudah marah, rewel, hingga mengalami kecemasan. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut juga dapat memengaruhi kualitas interaksi sosial, kemampuan berkomunikasi, dan proses belajar apabila tidak dikendalikan sejak dini.
Pendampingan Orang Tua Sangat Penting
Menurut Ghianina, yang perlu menjadi perhatian bukan hanya lamanya anak menggunakan gawai, tetapi juga jenis konten yang dikonsumsi. Orang tua disarankan mendampingi anak selama menggunakan perangkat digital, mengajak berdiskusi mengenai tayangan yang ditonton, serta menyeimbangkannya dengan aktivitas lain seperti membaca buku, bermain di luar ruangan, berolahraga, maupun berinteraksi dengan keluarga. Pendekatan tersebut dapat membuat screen time menjadi aktivitas yang lebih berkualitas dan tidak bersifat pasif.
Gunakan Teknologi secara Bijak
Di era digital, penggunaan gawai memang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, membatasi durasi screen time sesuai usia, memilih konten yang edukatif, serta memberikan pendampingan kepada anak menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak negatifnya. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat tanpa mengganggu perkembangan otak maupun kesehatan mental anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....