Hari Anak Nasional 2026, IDAI Perkuat Penanganan Jantung Anak
- 23 Jul 2026 14:42 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Sebagai upaya berkelanjutan meningkatkan kualitas penanganan penyakit jantung pada anak di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar Pediatric Cardiology Update (PCU) XIV yang dirangkaikan dengan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) XVI IDAI Sumatera Utara.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–24 Juli 2026 di Hotel Santika Premiere Dyandra Medan tersebut mengangkat tema "From Bench to Bedside: Comprehensive Management for Cardiac Problems in Children" (Dari Laboratorium ke Pelayanan Klinis: Manajemen Komprehensif untuk Masalah Jantung pada Anak).
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menegaskan pentingnya sinergi antara peneliti dan klinisi dalam menghadapi kompleksitas penyakit jantung bawaan pada anak.
"Tema yang diangkat tahun ini sangat relevan dengan kebutuhan kita di Indonesia. Kita harus memastikan bahwa setiap temuan riset dan kemajuan teknologi di laboratorium dapat segera diterjemahkan menjadi manfaat nyata di sisi tempat tidur pasien. Ini adalah kunci untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung pada anak," ujar Dr. Piprim.
Menurut Dr. Piprim, yang juga konsultan kardiologi anak, tantangan terbesar di Indonesia masih terletak pada belum meratanya akses layanan kesehatan jantung anak yang berkualitas.
"Dengan jumlah konsultan kardiologi anak yang masih terbatas, acara seperti PCU ini menjadi wadah vital untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan terkini, terutama dalam hal deteksi dini, tatalaksana kegawatdaruratan, dan intervensi berbasis bukti terbaru," ucapnya.
Sementara, Ketua IDAI Sumatera Utara, dr. Rizky Adriansyah, M.Ked(Ped), Sp.A, Subsp. Kardio(K), mengatakan penyelenggaraan konferensi tersebut merupakan bentuk komitmen IDAI Sumut dalam meningkatkan kompetensi dokter anak di daerah.
"Melalui simposium ini, kami menghadirkan para pakar nasional dan internasional untuk membahas berbagai topik, mulai dari peran pencitraan mutakhir seperti Cardiac CT dan MRI, hingga manajemen hipertensi pulmonal dan kegagalan jantung pada remaja," kata dr. Rizky.
Ia menambahkan, tantangan di lapangan tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan penyakit seperti demam rematik yang dapat menyebabkan kerusakan katup jantung.
Ketua Panitia PCU XIV dan PKB XVI IDAI Sumut, dr. Hafaz Zakky Abdillah, M.Ked(Ped), Sp.A, Subsp. Kardio(K), menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan disusun secara menyeluruh.
"Kami tidak hanya fokus pada sesi ilmiah di dalam ruangan, tetapi juga menghadirkan workshop praktik pada 22 Juli 2026 dan sesi presentasi poster pada 24 Juli 2026. Ini adalah kesempatan emas bagi para peserta untuk mendalami ilmu dan mempresentasikan hasil penelitian mereka," kata dr. Hafaz.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam penanganan penyakit jantung anak, termasuk pembahasan mengenai nutrisi dan komplikasi neurologis pada pasien dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).
Lebih lanjut, Dr. Piprim menyoroti pentingnya langkah antisipatif dalam penanganan penyakit jantung anak. Dalam paparannya, ia mengulas dilema etik, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta telemedicine untuk mendukung pelayanan kardiologi anak.
"Teknologi harus kita gunakan untuk menjembatani kesenjangan layanan. Program seperti PCU ini adalah bagian dari upaya kita untuk menyiapkan para dokter anak agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk dalam memanfaatkan AI untuk diagnosis dan pemantauan jarak jauh," ujarnya.
Pada hari pertama, simposium juga menghadirkan pembahasan mengenai peran pencitraan dalam diagnosis Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Dr. Leong Ming Chern dari Malaysia akan membahas pemanfaatan Cardiac CT dan MRI, sedangkan Dr. Rahmat Budi Kuswiyanto mengulas peran ekokardiografi setelah tindakan intervensi. Materi tersebut menitikberatkan pada penerapan ilmu secara langsung dalam praktik klinis.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti diskusi mengenai tata laksana dini bayi dengan Patent Ductus Arteriosus (PDA) dan Hipertensi Pulmonal Persisten pada Neonatus (PPHN), yang merupakan penyebab utama morbiditas pada bayi baru lahir. Sesi ini dipandu oleh Hasri Samion, MD, bersama dr. Rizky Adriansyah yang membahas perkembangan penatalaksanaan terkini, mulai dari penggunaan Ibuprofen, tindakan penutupan transkateter, hingga terapi inodilator.
Konferensi ini juga menghadirkan simposium mengenai nutrisi pada anak dengan penyakit jantung. Dr. Ria Nova membahas persoalan malnutrisi yang kerap dialami pasien PJB, sementara dr. Tiangsa Sembiring memaparkan pentingnya nutrisi berkalori tinggi. Sesi tersebut dilengkapi dengan peluncuran Panduan Tatalaksana Nutrisi IDAI yang dipandu oleh dr. Hafaz Zakky Abdillah dan dr. Yoga Devaera sebagai wujud kolaborasi antara bidang kardiologi dan nutrisi.
Selain itu, peserta juga memperoleh pembaruan mengenai pencegahan infeksi pada pasien jantung anak. Prof. dr. Indah Kartika Murni bersama Dr. Nastiti Kaswandani memaparkan strategi pencegahan pneumonia RSV serta beban penyakit Infeksi Pneumokokus (IPD) pada bayi. Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan perlindungan bagi pasien jantung anak yang rentan mengalami infeksi berat.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Samosir, Sumatera Utara, pada 25 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi wujud pengabdian IDAI kepada masyarakat melalui bakti sosial dan skrining kesehatan bagi anak-anak di kawasan Danau Toba.
Kegiatan itu diperkirakan melibatkan sekitar 200 dokter spesialis anak dan menargetkan pelayanan kesehatan bagi 600 anak, termasuk skrining penyakit jantung bawaan yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....