Memahami Playing Victim ketika Seseorang Terus Menempatkan Diri sebagai Korban

  • 24 Apr 2026 11:57 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Perilaku “playing victim” atau mentalitas korban kerap muncul dalam berbagai konflik sosial, baik di lingkungan pertemanan, keluarga, maupun pekerjaan. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang yang selalu merasa paling tersakiti dan menyalahkan pihak lain, bahkan ketika fakta tidak sepenuhnya mendukung anggapannya.

Dikutip dari Alodokter dan Halodoc, playing victim dipahami sebagai bentuk pertahanan diri. Seseorang secara tidak sadar menempatkan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab atas situasi yang dihadapi. Dengan cara ini, individu cenderung mencari simpati sekaligus melepaskan diri dari konsekuensi tindakannya.

Meski tidak termasuk gangguan mental secara langsung, perilaku ini dapat berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu. Dalam beberapa kasus, mentalitas korban menjadi bagian dari pola yang lebih kompleks, seperti gangguan kepribadian narsistik, borderline personality disorder (BPD), hingga trauma berkepanjangan seperti PTSD. Jika terus berulang, kondisi ini berisiko memicu stres kronis, frustrasi, bahkan depresi.

Akar dari perilaku playing victim umumnya tidak muncul secara tiba-tiba. Banyak kasus menunjukkan bahwa pengalaman traumatis di masa lalu membentuk cara seseorang memandang diri dan lingkungannya. Perasaan kehilangan kendali atas hidup kemudian berkembang menjadi keyakinan bahwa dirinya selalu berada di posisi yang dirugikan.

Pola pikir tersebut biasanya ditandai dengan tiga kecenderungan utama merasa kemalangan akan terus berulang, menganggap orang lain sebagai penyebab utama masalah, serta munculnya sikap pesimis terhadap upaya perubahan. Dalam praktiknya, hal ini tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Beberapa ciri yang sering muncul antara lain kebiasaan menyalahkan orang lain, menghindari tanggung jawab, hingga membangun narasi ketidakberdayaan. Tidak jarang, individu juga menunjukkan sikap haus perhatian dengan terus menceritakan pengalaman negatif untuk mendapatkan simpati.

Selain itu, perilaku manipulatif seperti gaslighting, kecenderungan cemas berlebihan, hingga rendahnya empati terhadap orang lain juga menjadi indikator yang patut diwaspadai. Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya merugikan orang di sekitarnya, tetapi juga memperburuk kondisi psikologis pelaku sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....