Jangan Berlebih Makan Kueni, Ini Risikonya bagi Tubuh
- 10 Apr 2026 22:30 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Buah kueni (Mangifera odorata), yang dikenal dengan aroma harumnya yang tajam dan tekstur daging buah yang lembut, menjadi favorit banyak masyarakat di Asia Tenggara untuk diolah menjadi jus atau sambal. Namun, di balik kesegarannya, para ahli kesehatan memperingatkan bahwa mengonsumsi buah ini secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius. Sifat alaminya yang tinggi serat dan kandungan gula tertentu memerlukan batasan konsumsi agar tidak menjadi bumerang bagi tubuh.
Salah satu risiko utama dari konsumsi kueni berlebih adalah gangguan sistem pencernaan, khususnya perut kembung dan diare. Kueni mengandung serat tidak larut yang tinggi serta pemanis alami berupa fruktosa. Berdasarkan studi dari Journal of Gastroenterology and Hepatology, konsumsi fruktosa dalam jumlah besar dalam satu waktu dapat menyebabkan malabsorpsi di usus halus. Hal ini mengakibatkan proses fermentasi berlebih oleh bakteri di usus besar yang memicu produksi gas karbon dioksida dan hidrogen secara masif.
Tak hanya masalah pencernaan, kandungan gula alami yang tinggi pada kueni juga menjadi sorotan bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki resistensi insulin. Data dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menunjukkan bahwa meskipun buah utuh memiliki indeks glikemik yang moderat, asupan fruktosa yang tidak terkontrol dari buah-buahan tropis manis dapat meningkatkan beban glikemik harian. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa takaran, hal ini berpotensi menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah secara instan.
Sisi lain yang jarang diketahui adalah risiko iritasi pada area mulut dan tenggorokan akibat getah yang terkandung pada kulit buah kueni. Buah ini termasuk dalam keluarga Anacardiaceae, yang juga mencakup tanaman poison ivy. Menurut riset yang diterbitkan dalam International Journal of Dermatology, senyawa karsinol dan asam anakardat dalam getah kueni dapat menyebabkan dermatitis kontak atau sensasi terbakar pada bibir bagi individu yang sensitif, terutama jika buah tidak dikupas dengan sangat bersih.
| Baca juga: Dampak Sering Berbohong Terhadap Kesehatan |
Sebuah laporan kesehatan dari World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya diversitas pangan daripada memusatkan asupan pada satu jenis buah saja. Data menunjukkan bahwa konsumsi buah berair tinggi secara berlebihan tanpa diimbangi asupan protein dan lemak dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus. Dalam kasus kueni, konsumsi lebih dari dua buah berukuran sedang per hari dianggap sudah melampaui batas wajar kebutuhan gula harian bagi orang dewasa rata-rata.
Efek samping lainnya berkaitan dengan potensi kenaikan berat badan yang tidak disadari. Meskipun buah sering dianggap sebagai camilan diet, kueni memiliki densitas kalori yang cukup tinggi dibandingkan buah seperti apel atau beri. Studi dalam The American Journal of Clinical Nutrition menyatakan bahwa kalori cair dari jus buah yang tidak disaring (termasuk jus kueni) seringkali tidak memberikan rasa kenyang yang sama dengan makanan padat, sehingga memicu seseorang untuk mengonsumsi lebih banyak kalori secara total dalam sehari.
Sebagai langkah pencegahan, para ahli gizi menyarankan agar masyarakat tetap menikmati kueni dalam porsi yang moderat, yakni sekitar 100-150 gram per sajian. Selain itu, sangat disarankan untuk mencuci buah hingga benar-benar bersih guna menghilangkan residu getah pada kulitnya. Mengombinasikan potongan kueni dengan sumber serat lain yang lebih rendah gula dapat menjadi strategi cerdas untuk mendapatkan manfaat vitamin A dan C tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....