Mengenal Hipnoterapi Anak dan Remaja Bersama dr. Ramlan Zuhair Pulungan

  • 10 Apr 2026 12:18 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Masalah kesehatan mental, perilaku, hingga trauma batin kini semakin banyak ditemukan pada usia anak-anak dan remaja. Salah satu metode yang efektif dalam membantu proses penyembuhan ini adalah hipnoterapi. Praktisi hipnoterapi, dr. Ramlan Zuhair Pulungan, CHT, CT.NNLP, menjelaskan bahwa metode ini memberikan dukungan terapi untuk memperbaiki sikap, perilaku, hingga menangani fobia.

Hipnoterapi bekerja dengan menyentuh aspek fisik maupun mental pasien. Menurut dr. Ramlan, pendekatan yang dilakukan pada anak-anak dan remaja memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan pasien dewasa. Pada kelompok usia muda, pendekatan dilakukan dengan cara yang jauh lebih halus agar mereka merasa nyaman selama proses terapi berlangsung.

"Pendekatan saat kita lakukan hipnoterapi pada anak itu biasanya kita menggunakan cerita dan imajinasi. Kita memberikan pendekatan yang sifatnya membuat mereka lebih nyaman agar mudah diberikan sugesti dan arahan," ujar dr. Ramlan saat menjelaskan metode tersebut.

Ia menambahkan bahwa masalah yang sering dihadapi siswa SD dan SMP biasanya berakar dari konflik dengan orang tua di rumah. Hal ini kerap terjadi karena perbedaan aturan di sekolah dan di rumah, sehingga memicu gesekan. Selain itu, faktor lingkungan teman sebaya, terutama kasus perundungan atau bullying, menjadi pemicu stres yang signifikan bagi anak-anak.

Sementara itu, masalah pada usia remaja cenderung lebih kompleks dan berkaitan dengan dinamika asmara serta persahabatan. dr. Ramlan menyoroti dampak media sosial yang membuat remaja sering melakukan self-diagnosis yang salah. Fenomena membandingkan diri dengan orang lain serta rasa takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out) sering kali berujung pada kondisi stres berat.

Dalam prakteknya, hipnoterapi diawali dengan sesi pre-induksi untuk membangun ketenangan pasien. Pada tahap ini, pasien diajak berkonsultasi mengenai apa yang mereka rasakan dan apa masalah utama yang sedang dihadapi. dr. Ramlan menegaskan bahwa proses ini dilakukan di tempat yang nyaman agar pasien bisa benar-benar relaks.

Banyak persepsi keliru yang menganggap hipnoterapi adalah proses membuat orang tertidur. dr. Ramlan mengklarifikasi bahwa kondisi hipnosis adalah kondisi relaksasi yang dalam, bukan tidur. "Proses di mana pasien itu dibuat relaks, bukan tidurnya. Setelah dia cerita masalahnya, kita ubah persepsinya dari hal negatif menjadi positif, lalu kita tanamkan di alam bawah sadarnya," jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Ramlan menekankan bahwa keberhasilan terapi pada anak sangat bergantung pada peran orang tua. Tanpa dukungan sistem yang baik di rumah, proses penyembuhan luka batin anak akan berjalan sangat lambat. Oleh karena itu, orang tua sangat disarankan untuk mempelajari hypnotherapy parenting agar sinkron dengan proses terapi anak.

Melalui hypnotherapy parenting, orang tua dapat mengetahui kapan waktu terbaik untuk memberikan sugesti positif kepada anak, misalnya saat anak baru saja bangun atau menjelang tidur. Pada momen tersebut, arahan yang diberikan orang tua akan lebih mudah terserap menjadi memori jangka panjang dalam pikiran anak.

dr. Ramlan juga mengingatkan bahwa terkadang bukan hanya anak yang membutuhkan koreksi, melainkan juga orang tua itu sendiri. "Ketika anak selalu disalah-salahkan, kadang yang perlu belajar dan diterapi tidak hanya anaknya saja, tapi bisa jadi orang tuanya juga harus ikut belajar," tuturnya secara tegas mengenai pentingnya pendampingan orang tua.

Meskipun hipnoterapi berfokus pada pendekatan mental, dr. Ramlan menjelaskan bahwa terapis juga harus tahu batasan kompetensi. Jika kondisi kejiwaan pasien dinilai sudah cukup parah dan membutuhkan intervensi medis tertentu, maka hipnoterapis akan mengarahkan pasien untuk berkonsultasi lebih lanjut kepada spesialis kejiwaan atau psikiater.

Diakhir keterangannya, ia berpesan agar orang tua terus belajar menyesuaikan pola asuh dengan kondisi anak dan diri sendiri. Orang tua harus menyadari bahwa anak juga manusia yang bisa memiliki masalah besar. Jangan sampai karena ketidaktahuan orang tua, anak-anak terhambat untuk mendapatkan bantuan profesional yang mereka butuhkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....