Pola Makan Tidak Sehat Rugikan Kesehatan

  • 31 Mar 2026 17:21 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pola makan tidak sehat merupakan salah satu penyebab utama berbagai masalah kesehatan fisik di zaman kini. Ditengah gaya hidup yang serba cepat dan kecenderungan konsumsi makanan instan, sebagian orang tanpa sadar menerapkan kebiasaan makan yang buruk. Jika hal ini terus berlanjut, dampak jangka panjangnya bisa sangat berisiko bagi tubuh.

Pola makan tidak sehat adalah kebiasaan makan sehari-hari yang tidak memenuhi kebutuhan gizi seimbang, serta cenderung berlebihan pada zat tertentu yang berbahaya jika dikonsumsi terus-menerus.

Hal ini dimulai dari munculnya berbagai pilihan makanan instan dan snack kekinian yang tak jarang membuat pola makan tidak sehat semakin sulit dihindari, terutama di tengah aktivitas padat atau keterbatasan waktu memasak.

Sayangnya, sebagian orang belum memahami dengan jelas apa saja yang termasuk dalam pola makan tidak sehat dan dampaknya bagi tubuh. Oleh karena itu, penting untuk mengenali ciri-ciri dan risiko pola makan tidak sehat agar Anda bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Ciri-Ciri Pola Makan Tidak Sehat yang Harus Dihindari

Dilansir dari alodokter.com, berikut adalah beberapa pola makan tidak sehat yang kerap menjadi kebiasaan banyak orang. Bila Anda melakukan beberapa kebiasaan ini, sebaiknya mulailah untuk mengubahnya, yaitu:

  1. Sering mengonsumsi gula, garam, dan lemak jenuh berlebih

Banyak makanan olahan seperti gorengan, makanan cepat saji, kue, minuman kemasan, dan camilan instan mengandung gula, garam, serta lemak jenuh dalam jumlah tinggi.

Jika dikonsumsi berlebihan, zat-zat ini akan membebani organ tubuh, merusak sistem metabolisme, serta meningkatkan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol.

2. Jarang mengonsumsi buah dan sayur

Pola makan tidak sehat sangat mudah dikenali dari asupan buah dan sayur yang minim. Padahal, mengonsumsi buah dan sayur sangat penting karena di dalamnya terkandung serat, vitamin, dan mineral yang baik untuk pencernaan, menjaga daya tahan tubuh, dan menekan risiko penyakit kronis.

Selain itu, orang yang jarang makan sayur atau buah biasanya juga kekurangan antioksidan yang melindungi sel tubuh dari kerusakan.

  1. Sering melewatkan jam makan utama

Melewatkan sarapan, makan siang, atau makan malam membuat tubuh lebih rentan terhadap peningkatan gula darah. Pola makan yang tidak teratur justru membuat tubuh lebih sulit menstabilkan kadar gula darah, terutama jika pilihan makanan saat akhirnya makan juga kurang sehat (tinggi gula/simple carb).

Kebiasaan ini juga bisa memperburuk kontrol nafsu makan, serta memicu konsumsi camilan tinggi kalori yang tidak sehat. Selain itu, pola makan tidak teratur dapat mengganggu jam biologis dan metabolisme tubuh, membuat tubuh mudah lelah dan kurang bertenaga.

  1. Mengutamakan makanan cepat saji atau instan

Di masa kini, makanan instan dan cepat saji sangat mudah diakses karena kepraktisannya yang sejalan dengan gaya hidup serba cepat dan rutinitas padat. Namun, makanan-makanan ini seringkali rendah serat, tinggi kalori, dan minim zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.

Adapun, makanan instan biasanya diproses dengan bahan tambahan, seperti pengawet, pemanis buatan, pewarna makanan, dan penambah rasa yang jika dikonsumsi berlebihan bisa berdampak negatif pada kesehatan.

  1. Porsi makan berlebihan

Porsi makan yang terlalu banyak dalam satu waktu, terutama saat makan larut malam, bisa membebani sistem pencernaan dan meningkatkan asupan kalori harian. Ketika tubuh menerima makanan dalam jumlah yang melebihi kebutuhannya, glukosa dan lemak sisa yang tidak segera dibakar akan disimpan sebagai cadangan lemak, sehingga risiko terjadinya obesitas pun meningkat.

Selain itu, makan berlebihan secara rutin juga meningkatkan peluang munculnya gangguan pencernaan, seperti perut kembung, begah, bahkan nyeri ulu hati. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berperan besar terhadap terjadinya resistensi insulin serta penyakit metabolik, yaitu diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik.

  1. Makan terlalu cepat

Kebiasaan makan terburu-buru membuat tubuh tidak sempat mengirimkan sinyal kenyang secara optimal ke otak, sehingga seseorang rentan mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak dari yang diperlukan.

Umumnya, proses rasa kenyang memerlukan waktu sekitar 15–20 menit sejak mulai makan, sehingga makan dengan perlahan sangat penting agar tubuh bisa mengenalinya.

Makan terlalu cepat juga menyebabkan makanan kurang terkunyah secara sempurna, sehingga memperberat kerja lambung dan meningkatkan risiko gangguan pencernaan, seperti perut kembung atau sembelit.

  1. Emotional atau stress eating

Stress eating adalah kebiasaan makan yang dipicu oleh stres, kecemasan, kesedihan, atau emosi negatif lainnya. Jadi, sebenarnya bukan karena benar-benar lapar secara fisik.

Nah, ketika seseorang mengalami tekanan emosional, tubuh melepaskan hormon stres yang dapat meningkatkan keinginan untuk makan makanan tinggi gula, lemak, dan karbohidrat sederhana. Stress eating juga mengacaukan kemampuan tubuh dalam mengenali sinyal lapar dan kenyang, sehingga seseorang cenderung makan tanpa kontrol.

Dalam jangka panjang, stress eating bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.

  1. Kurang variasi menu harian

Pola makan yang monoton, misalnya hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu secara berulang-ulang, dapat menyebabkan tubuh kekurangan beragam nutrisi esensial yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi organ dan metabolisme.

Jika hanya mengandalkan satu atau dua jenis makanan saja, misalnya selalu makan nasi putih dan lauk goreng setiap hari, Anda akan rentan mengalami kekurangan zat-zat gizi tertentu seperti vitamin C, vitamin D, zat besi, atau serat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....