Kesehatan Mental Remaja di Masa Transisi Rentan Terpengaruh Lingkungan

  • 03 Mar 2026 15:36 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Kesehatan mental remaja tidak bisa dilepaskan dari fase transisi yang remaja alami dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Psikolog, Dr. Sunarto menjelaskan, secara teoretik kesehatan mental merujuk pada fungsi psikologis yang sehat sebagaimana dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) serta Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ).

“Kalau berbicara kesehatan mental menurut DSM-5, memang gangguan mental ditandai dengan gangguan signifikan. Tetapi kesehatan mental tidak hanya soal gangguan, melainkan bagaimana fungsi psikologis itu sehat sehingga individu mampu berpikir, merasakan, dan berperilaku secara adaptif,” ujar Sunarto pada Minggu, 1 Maret 2026.

Ia menambahkan, pada remaja, fungsi tersebut sedang dalam proses pembentukan. Perubahan fisik, kognitif, emosi, dan sosial terjadi secara bersamaan dan menuntut kemampuan penyesuaian diri yang tidak sederhana.

“Remaja itu berada dalam masa perubahan. Regulasi emosinya belum stabil, kognitifnya juga belum matang. Dalam kondisi seperti itu, mereka sangat rentan terhadap tekanan sosial,” kata Sunarto.

Menurut Sunarto, tekanan itu kerap muncul karena kebutuhan akan pengakuan dan dukungan tidak terpenuhi. Ketika kondisi sosial yang dihadapi bertolak belakang dengan yang dirasakan, remaja bisa mengalami kebingungan dalam menentukan sikap.

“Masa remaja adalah masa uji coba. Mereka ingin mencoba banyak hal, mencari jati diri, tetapi belum sepenuhnya siap. Kalau tidak ada dukungan, tekanan yang muncul bisa diekspresikan dalam perilaku yang tidak sesuai dengan norma,” ucap Sunarto.

Ia menyoroti kuatnya pengaruh kelompok sebaya dan media sosial dalam membentuk pola pikir remaja saat ini. Benturan antara nilai yang diperoleh dari luar dengan aturan di rumah atau sekolah sering kali memicu konflik batin.

“Remaja sekarang banyak dipengaruhi peer group dan media sosial. Kalau pemahaman yang mereka dapat berbeda dengan aturan yang ada, sering terjadi benturan dalam proses penyesuaian dirinya,” ujar Sunarto.

Akibatnya, lanjut dia, tidak sedikit remaja yang terlibat dalam perilaku delinkuen sebagai bentuk pelampiasan tekanan. “Ketika tekanan tidak terkelola dengan baik, perilaku yang muncul bisa berlebihan dan bertolak belakang dengan nilai moral maupun hukum,” kata Sunarto.

Sunarto menegaskan bahwa kemampuan remaja menyesuaikan diri sangat bergantung pada kondisi kesehatan mentalnya sendiri. “Penyesuaian itu berdasar pada bagaimana kondisi mentalnya menyerap dan mengelola situasi yang dihadapi. Kalau tidak siap, maka responsnya bisa kompensatif,” ucap Sunarto.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....