Maraknya Otaku hingga ke Penjuru Dunia termasuk Indonesia

  • 09 Sep 2026 10:38 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Dalam beberapa tahun terakhir, otaku telah menjadi topik hangat di kalangan remaja dan penggemar budaya pop Jepang di seluruh dunia. Indonesia termasuk salah satu negara penggemar otaku. Tidak hanya soal karya seni tetapi para penggemar otaku juga telah banyak yang menciptakan konten - konten baru.

Dilansir dari wikipedia.org, di Jepang, istilah otaku sering digunakan di luar konteks penggemar berat anime atau manga untuk menggantikan istilah mania, sehingga ada istilah Game-otaku, Gundam-otaku (otaku mengenai robot Gundam), Gunji-otaku (otaku bidang militer), Pasokon-otaku (otaku komputer), Tetsudō-otaku (otaku kereta api alias Tecchan), Morning Musume-otaku (otaku Morning Musume alias Mō-ota), Jani-ota (otaku penyanyi keren yang tergabung dalam Johnny & Associates).

Menurut penelitian, otaku sering terlibat dalam komunitas yang saling mendukung dan berbagi minat yang sama. Mereka tidak hanya menikmati karya seni Jepang tetapi juga menciptakan konten baru, seperti fan art dan fan fiction, yang menunjukkan ekspresi diri mereka.

Istilah otaku secara negatif digunakan untuk penggemar fanatik suatu subkultur yang letak bagusnya tidak bisa dimengerti masyarakat umum, atau orang yang kurang mampu berkomunikasi dan sering tidak mau bergaul dengan orang lain. Otaku secara positif digunakan untuk menyebut orang yang sangat mendalami suatu bidang hingga mendetil, bersamaan dengan tingkat pengetahuan yang sangat tinggi hingga mencapai tingkat pakar dalam bidang tersebut.

Alif Zuan, seorang mahasiswa, mengatakan sebagai seorang otaku dia memiliki hobi atau obsesi terhadap budaya jejepangan, seperti menonton anime, membaca manga, dan lain sebagainya.

“Otaku bukan karena terobsesi, tetapi sebagai pelarian dari rutinitas sehari-hari,” katanya.

Alif menambahkan negatif atau tidaknya seorang Otaku, kembali pada dirinya sendiri.

“Sisi positifnya, menjadi otaku bisa menambah kreatifitas, Kalau negatif seorang otaku sudah terlalu jauh terobsesi terhadap budaya jepang ini, mereka bisa menjadi pribadi yang anti sosial, tidak memperdulikan penampilan, dan kebiasaan buruk lainnya,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....