Musa Rajekshah Dorong Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum Sekolah

  • 26 Agt 2026 14:14 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Anggota Komisi V DPR RI Musa Rajekshah mendorong edukasi mitigasi bencana dilakukan secara lebih masif kepada seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan peralatan, tetapi juga membutuhkan pemahaman masyarakat sejak usia dini.

Dorongan tersebut disampaikan Musa saat menghadiri kegiatan Sinergi Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) dan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digelar Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Sumatera Utara di Wing Hotel Kualanamu, Deli Serdang, Senin, 24 Agustus 2026.

Musa mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana. Namun, ia menilai jumlah peserta dalam kegiatan sekolah lapang masih terbatas jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang harus mendapatkan pemahaman mengenai mitigasi bencana.

“Dengan Indonesia ini yang begini luasnya, bentangan kepulauan kita, negara kita yang banyak pulau, daratan, lautnya yang begitu luasnya itu, kita tidak bisa semata-mata hanya mengandalkan peralatan. Tidak bisa hanya mengandalkan balai besar BMKG yang ada di daerah-daerah,” ujar Musa.

Ia mengatakan, pemahaman mengenai mitigasi bencana harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan tidak terbatas pada kelompok tertentu. Karena itu, Musa mendorong agar edukasi kebencanaan dapat dimasukkan dalam proses pembelajaran sejak usia dini.

Menurutnya, pengenalan mitigasi bencana dapat dimulai dari tingkat taman kanak-kanak melalui permainan dan simulasi, kemudian dilanjutkan hingga jenjang pendidikan dasar dan menengah agar kesiapsiagaan menjadi kebiasaan masyarakat.

“Dari mulai TK, dia bikin dulu permainan-permainan, game-game tentang bagaimana penyelamatan kalau terjadi sesuatu bencana. Masuk nanti ke SD, SMP, SMA. Baru itu bisa melekat di pikiran dan menjadi habit, menjadi kebiasaan dan secara cepat menjadi tanggap bencana,” katanya.

Selain pemahaman mengenai langkah penyelamatan saat bencana terjadi, Musa juga menyoroti pentingnya edukasi terkait pembangunan rumah yang lebih aman, khususnya di wilayah rawan gempa.

Ia menilai masih terdapat rumah masyarakat yang dibangun menggunakan tembok bata tanpa didukung konstruksi seperti tiang, sloof, dan balok penyangga beton. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bangunan roboh saat terjadi gempa.

“Bukan hanya paham tentang bagaimana penyelamatan saat gempa atau bencana, tapi juga persiapan dalam membangun rumah. Jangan semata-mata hanya karena rumah tembok beton,” ujarnya.

Musa berharap kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Sekolah Lapang Iklim tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta yang hadir, tetapi pemahaman yang diperoleh dapat disebarluaskan secara lebih luas kepada masyarakat.

Ia juga mendorong adanya sinergi antarkementerian dan lembaga agar edukasi mitigasi bencana dapat menjangkau masyarakat secara masif, termasuk melalui sektor pendidikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....